Sumbangan 'Islam moderat' Indonesia untuk dunia

Konferensi Ulama Islam Internasional

Sumber gambar, Eko Widianto

Keterangan gambar, Konferensi Ulama Islam Internasional, ICIS, di Malang diikuti perwakilan 32 negara.

Berlangsung lebih dari seminggu setelah serangan teror di Paris, Konferensi Ulama Islam Internasional atau ICIS, berupaya merumuskan upaya untuk menangkal gerakan pendukung kelompok militan Negara Islam atau ISIS.

"Di akhir konferensi, ada Malang Message (atau Pesan Malang) yang membahas ISIS," ujar Sekjen ICIS, Kyai Hasyim Muzadi, saat pembukaan konferensi, Senin 23 November.

Mantan Ketua Umum Nahdlatul Ulama ini menambahkan rumusan menangkal ISIS akan menjadi sumbangan Indonesia kepada dunia, yaitu dengan menerapkan pendidikan moderat yang sebelumnya tak pernah dibahas dalam konferensi Islam lainnya.

”Menerapkan Islam yang sebenarnya. Islam yang ramah, bukan yang marah. Cegah ekstrem kiri dan maupun ekstrem kanan,” tambah Kyai Muzadi.

Konferensi Ulama Islam Internasional atau ICIS

Sumber gambar, Eko Widianto

Keterangan gambar, Malang Message atau Pesan Malang akan membahas ISIS.

Pertemuan ICIS di Malang, Jawa Timur, berlangsung hingga Rabu 25 November dengan dihadiri wakil dari 23 negara, seperti dilaporkan Eko Widianto untuk BBC Indonesia.

ICIS merupakan sebuah dialog lintas negara yang berdiri tahun 2002 untuk menangkal terorisme akibat efek konflik atau peperangan di Timur Tengah dengan menawarkan Islam moderat di tengah pergolakan dunia Barat dan Timur Tengah.

Munculnya kelompok militan ISIS yang menguasai sebagian wilayah di Suriah dan Irak juga menarik perhatian umat Islam dari Indonesia.

Diperkirakan sekitar <link type="page"><caption> 428 warga Indonesia bergabung dengan ISIS</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/laporan_khusus/serangan_paris" platform="highweb"/></link>, yang mengaku bertanggung jawab dalam rangkaian serangan di Paris, Jumat (13/11), yang menewaskan 129 orang.