Gadis remaja di Inggris "paling berisiko jadi korban kekerasan seksual"

Sumber gambar, Thinkstock
Gadis remaja usia 16-17 tahun di Inggris adalah kelompok yang paling berisiko menjadi korban pelecehan seksual, berdasarkan analisis data kejahatan. Badan amal di Inggris, menggunakan Survei Kejahatan untuk Inggris dan Wales, memperkirakan 50.000 perempuan berusia 16 dan 17 mengalami kekerasan seksual tahun lalu.
Kelompok usia ini tidak mendapatkan perlindungan hukum yang sama seperti anak yang lebih muda karena mereka dapat memberi persetujuan untuk seks, kata badan amal itu.
Children's Society menyerukan perubahan hukum untuk meningkatkan perlindungan bagi mereka.
Hanya satu dari sepuluh tuduhan kekerasan yang diidentifikasi badan amal itu dilaporkan ke polisi.
Mereka mengatakan setengah dari gadis remaja tidak melapor karena takut berurusan dengan pengadilan, tidak menganggap perlakuan yang dia terima layak dilaporkan, atau tidak ingin pelaku dihukum.
'Menderita dalam diam'
Seringkali terjadi, ketika seorang gadis memasuki usia 16 ia memilih untuk menempatkan dirinya dalam situasi eksploitatif atau bisa "menjaga" dirinya sendiri.
Badan itu mengatakan "inkonsistensi yang berbahaya" dalam hukum perlu dihapus demi membantu gadis remaja mendapatkan dukungan dan perlindungan hukum yang mereka butuhkan.
Mereka meminta pemerintah memastikan polisi punya sarana yang dibutuhkan untuk menjaga remaja 16 dan 17 tahun dari eksploitasi seksual.

Sumber gambar, THINKSTOCK
Mereka juga menegaskan, persetujuan untuk mengonsumsi obat-obatan dan alkohol tidak pernah terkait dengan persetujuan untuk terlibat dalam tindakan seksual.
Pimpinan badan amal Children's Society, Matthew Reed mengatakan, "Terlalu banyak anak-anak korban eksploitasi seksual dibiarkan menderita dengan diam."
"Meskipun remaja 16 dan 17 tahun paling berisiko, seringkali mereka merupakan yang paling sedikit mendapat dukungan.
"Gadis-gadis ini masih anak-anak dan pemerintah harus memastikan polisi dan lembaga-lembaga lain memiliki sarana yang memadai untuk melindungi mereka."









