Kemeriahan Pekan Raya Buku Frankfurt di akhir pekan

- Penulis, Liston P Siregar
- Peranan, Wartawan BBC Indonesia di Frankfurt
Setelah selama empat hari Pekan Raya Buku Frankfurt diramaikan dengan para pengusaha penerbitan dan penulis, giliran masyarakat umum yang mengisinya pada Sabtu 17 Oktober.
Sejak pagi sudah terasa jauh lebih banyak aliran pengunjung, yang kali ini berasal dari beragam usia, tua dan muda, termasuk para remaja.
Banyak remaja yang datang dengan mengenakan kostum dari tokoh komik dan kartun pujaan mereka.

Ronja, seorang pelajar, sengaja datang dari Cologne untuk mengenakan kostum Hanato dari komik manga Jepang, walau itu artinya dia harus menempuh perjalanan kereta api sekitar dua jam.
"Selain untuk bersenang-senang dengan mengenakan kostum, ini juga kesempatan saya untuk berkenalan dengan penggemar Hanato lainnya," kata Ronja yang membeli kostumnya dari internet.
Sedangkan Tobias, remaja yang memilih tidak mengenakan kostum apa pun, mengaku datang untuk melihat komik-komik baru.
Buku cetakan

Melihat pada masyarakat umum yang hadir di <link type="page"><caption> Pekan Raya Buku Frankfurt atau FBF ini,</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/10/151014_majalah_frankfurt_buku" platform="highweb"/></link> sepertinya menjadi pertanda bahwa bisnis buku cetak tidak segera akan berakhir.
Banyak orang yang terlihat masih membeli buku cetakan dan tak sedikit pula yang antre untuk mendapat tanda tangan dari penulis pujannya.
Termasuk yang antre adalah Janusz, warga Frankfurt, yang mendamping dua putrinya -Milena sembilan tahun dan Iga enam tahun- untuk antre tanda tangan.

"Sejak mereka bisa membaca selalu saya bawa ke sinis setiap tahun," jelas Janusz.
"Mereka punya masih membaca buku cetak dan bukan digital. Banyak koleksi buku mereka berdua. Saya tidak tahu bagaimana dengan orang lain, tapi di keluarga kami, semuanya masih membaca buku cetak," tambahnya.
Begitu juga hanya dengan Michael yang masih lebih banyak memiih buku cetak untuk dibaca dan menggunakan komputer lebih untuk main game, khususnya kegemarannya saat ini, Final Fantasy 14.
Tetapi memang harus diakui bahwa banyak remaja yang mengenakan seragam kostum tokoh komik dan kartun, yang menggunakan internet untuk menikmati hobinya.

<link type="page"><caption> Sebutlah Liz yang mengenakan kostum Naruto, Sabi dengan pakaian K-project, Natalia yang menampilkan Asuna, maupun Koiterch yang berperan sebagai karakter Sayonara Zetsubou S</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/multimedia/2015/10/151017_galeri_fbf" platform="highweb"/></link><link type="page"><caption> ensei. (lihat galeri fotonya)</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/multimedia/2015/10/151017_galeri_fbf" platform="highweb"/></link><link type="page"><caption> </caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/multimedia/2015/10/151017_galeri_fbf" platform="highweb"/></link>
Mereka mengakui lebih sering membaca komik Jepang kegemaran mereka lewat komputer.
Komik Indonesia
Di aula khusus untuk komik, terdapat stan komik Indonesia -antara lain menampilkan Curhat Tita, Setan Jalanan, Kidung Malam dan puluhan judul lainnya.
Namun tak banyak pengunjung yang datang ke stan tersebut, yang memang baru sebatas memperkenalkan komik-komik Indonesia dan bukan menjualnya.
Menurut Hikmat Darmawan -Wakil Ketua Koalisi Seni Indonesia, yang sedang ikut menjaga stan- komik Indonesia memang belum bisa disamakan dengan manga Jepang yang sudah mendunia.
"Komik Indonesia ada masanya dianggap sebagai buku anak-anak," jelas Hikmat.

Bagaimanapun ada juga penerbit internasional, antara lain dari Prancis, yang ingin mendapat informasi lebih banyak tentang komik Indonesia.
"Kita masih dalam tahap mengenalkan, dan baru tahun ini kita serius hadir di Pekan Raya Buk Frankfurt. Jadi jelas masih jauh di belakang komik Jepang yang sudah merupakan industri besar," tambahnya.
Namun Hikmat yakin potensi dari komik Indonesia sebenarnya besar. Pendapatnya dibenarkan oleh Andik Prayogo, Direktur PT Wahana Insirasi Nusantara, salah satu penerbit buku komik Indonesia.
"Beberapa penerbit asing yang berbicara kepada kami mengakui bahwa kontennya amat beragam dan berbeda dengan komik-komik Barat," jelas Andik Prayogo.
Hikmat dan Andik agaknya benar dan sesuai dengan tema kesertaan Indonesia sebagai tamu kehormatan -17.000 Pulau-pulau Imajinasi- keragaman konten jelas bisa menjadi andalan Indonesia.
Yang diperlukan adalah lebih mengenalkannya ke panggung dunia, dan Frankfurt Book Festival, <link type="page"><caption> jelas hanya salah satu jalan dan bukan satu-satunya.</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/10/151015_majalah_frankfurt_buku" platform="highweb"/></link>









