Frankfurt sebagai tujuan antara, tegas Goenawan Muhammad

Goenawan Mohamad
Keterangan gambar, Goenawan Mohamad menegaskan bahwa kampanye peningkatan literasi Indonesia perlu kerja keras.
    • Penulis, Liston P Siregar
    • Peranan, Wartawan BBC Indonesia di Frankfurt

Kehadiran Indonesia sebagai Tamu Kehormatan dalam Pekan Raya Buku Frankfurt atau Frankfurt Book Fair di Jerman dilihat sebagai salah satu jalan untuk membawa lebih banyak karya-karya penulis Indonesia ke pentas dunia.

Hal tersebut antara lain diungkapkan oleh penulis novel terkenal Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari, yang juga ikut hadir di Frankfurt.

Ahmad Tohari
Keterangan gambar, Seorang penggemar Ahmad Tohari meminta tanda tangan untuk karyanya The Dancer dalam Bahasa Inggris.

"Tentu saja semua penulis membawa misi masing-masing untuk mendukung keikutsertaan Indonesia ini. Tapi saya sendiri merasa bertugas untuk memperkenalkan buku saya dan buku teman-teman untuk diterjemahkan ke dalam bahasa mana saja," tuturnya usai Temu Penulis yang menghadirkannya bersama NH Dini.

Dalam sesinya Tohari, antara lain, menjelaskan tentang latar belakang novel-novelnya dengan menegaskan bahwa dia tidak ingin terlibat dalam dunia politik namun bersimpati kepada para korban yang ditindas kekuasaan.

Bagi Tohari, partisipasi khusus Indonesia di pekan raya buku internasional di Frankfurt juga mencerminkan keseriusan pemerintah terhadap sastra di Indonesia.

"Saya melihat Indonesia sudah menyadari sastra itu penting atau literasi itu penting sehingga pemerintah mau serius dan menghabiskan dana besar untuk hadir menjadi tamu kehormatan di Frankfurt Book Fair."

Masih perlu kerja

Namun Ketua Komite Nasional Indonesia untuk Pekan Raya Buku Frankfurt, Goenawan Mohamad, menegaskan bahwa tujuan yang ingin dicapai sebenarnya masih ada di depan.

"Ini adalah tujuan antara saja. Nanti tujuan terakhir adalah bangkitnya literasi di Indonesia," jelasnya di Paviliun Indonesia.

Ahamd Tohari dan NH Dini
Keterangan gambar, Ahmad Tohari dan NH Dini dalam acara temu penulis di Paviliun Indonesia.

"Dan itu perlu usaha tambahan. Setelah di sini kan ada orang tertarik, penjual buku dan hak cipta dan perhatian pada buku sastra Indonesia besar, maka ada stimulasi di Indonesia bersamaan dengan kampanye membaca yang dilakukan oleh Menteri (Pendidikan Dasar dan Menengah dan Kebudayaan) Anies Baswedan."

Tentu saja upaya untuk membawa lebih banyak sastra Indonesia ke panggung dunia bisa diharapkan dari Frankfurt Book Fair, seperti dijelaskan Yanti Mirdayanti, pengajar Studi Indonesia di Universitas Hamburg, yang datang ke Frankfurt.

"Pekan raya buku ini adalah forum internasional dan merupakan satu jalan yang sangat bagus," katanya.

"Mudah-mudahan dengan langkah memperkenalkan karya-karya Indonesia dalam Bahasa Jerman dan juga di sini ada beberapa dalam Bahasa Inggris, saya yakin membuka pintu yang lebar untuk memperkenalkan literasi Indonesia di Eropa dan juga di dunia."

Seluruhnya terdapat 270 judul buku Indonesia yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Jerman maupun Inggris yang ditampilkan di Paviliun Indonesia di Pekan Raya Buku Frankfurt, yang akan berlangsung hingga Minggu 18 Oktober.