#TrenSosial: Ini alasan prajurit Taliban selfie bersama warga

Sumber gambar, TWITTER
Serangan <link type="page"><caption> Taliban Afghanistan ke Kunduz</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/09/150928_dunia_kunduz_taliban" platform="highweb"/></link> memberikan kesempatan bagi militan untuk tampil, menyatu di kerumunan kota, dan menggunggahnya di sosial media. Wartawan BBC Afghanistan Mohammad Zahid menjelaskan bagaimana Taliban ingin dicitrakan lewat foto-foto mereka di sosial media.
Salah satu yang menonjol adalah sebuah foto selfie, yang diunggah oleh akun Twitter yang terafiliasi dengan Taliban. Foto itu menggambarkan foto selfie anggota Taliban dengan warga yang tampak tersenyum.
Apakah ini menggambarkan keadaan yang sesungguhnya?
Taliban memang memiliki akun Facebook dan Twitter yang aktif, tapi ini pertama kalinya mereka melakukan hal semacam ini di jalanan. Para prajurit yang muda-muda itu itu bermaksud menunjukkan sisi lain dari perjuangan mereka.
Sebelumnya, kelompok militan itu <link type="page"><caption> membebaskan ratusan narapidana</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/09/150914_dunia_taliban_ghazni" platform="highweb"/></link> dari penjara setelah berhasil mengontrol sebagian besar area di dalam kota. Namun, euforia mereka sepertinya tak akan bertahan lama karena kelompok militan itu akan kewalahan menghadapi tentara keamanan Afganistan yang didukung serangan udara dari koalisi NATO.
Meski demikian, Taliban merilis satu pernyataan dan dua kabar berita tentang pendudukan mereka di Kunduz dalam situs propaganda Voice of Jihad. Mereka juga terus merilis klip audio maupun video.
Menancapkan Bendera
Beberapa tentara, termasuk juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid, mengunggah gambar para anggota Taliban dengan bendera putih yang ditancapkan di berbagai penjuru Kunduz serta gambar-gambar perayaan kemenangan untuk menunjukkan kekuasaan mereka.

Sumber gambar, TWITTER
Para militan itu bermaksud menunjukkan citra yang lebih lembut dari para pejuang Taliban dan pemimpin baru organisasi, Mullah Mansour, berusaha keras meyakinkan hal itu kepada warga Kunduz.
Dengan media sosial terbaru dan terpopuler, mereka berusaha menyampaikan kesan kuat kepada warga Afganistan yang merupakan pengguna aktif media sosial.
Mereka berusaha mendapatkan dukungan publik dan simpati karena penolakan terasa sangat kuat. Mereka berpose untuk jurnalis, karena tahu kalau gambar mereka akan disebarkan.
Namun strategi propaganda Taliban akan sulit mengubah pikiran warga, setelah pengekangan kebebasan yang telah mereka rasakan dalam 10 tahun terakhir.
Apa yang luput dari gambar-gambar tersebut adalah apa yang dirasakan para saksi mata. Bagaimanapun, Taliban adalah grup yang memaksa masuk ke kota serta menimbulkan rasa takut dan kekacauan.

Sumber gambar, TWITTER
Lewat Twitter, warga menceritakan ketakutan mereka. Seorang warga bercerita tentang anggota keluarganya yang terbunuh ketika rumah mereka dihantam roket. Gambar-gambar dari penduduk juga menunjukkan eksodus warga dari kota.
Para analis percaya kalau Taliban tak akan mampu menduduki kota dalam waktu lama. Jadi mereka membuat kehebohan ini dalam rangka menikmati momen selama mungkin. Maksud mereka mungkin untuk menunjukkan citra kemenangan, tapi penduduk tetap merasakan atmosfir yang buruk.
Apapun taktik yang telah diadopsi Taliban, pendudukan hanya akan mengingatkan warga Afganistan akan kepemimpinan yang keras ketika mereka melarang wanita untuk sekolah, melempari wanita dengan batu dan mencambuk laki-laki di depan umum.









