#TrenSosial: Lamaran pernikahan sesama jenis jadi buah bibir di Cina

Sumber gambar, Weibo l Bai Yiyan Vina
Lamaran pernikahan di sebuah kereta bawah tanah di Cina, menjadi buah bibir netizen. Pasalnya, kedua orang yang mengikat tali cinta adalah lelaki.
Gerbong kereta bawah tanah mungkin bukan tempat romantis yang biasa digunakan untuk melamar pujaan hati. Namun, ketika seorang lelaki berlutut melamar kekasih lelakinya di kereta bawah tanah Beijing, sisi gerbong pun langsung dipenuhi penumpang-penumpang lain yang berdesakan mengeluarkan telpon selular, mengabadikan momen langka itu dan mengunggahnya di Weibo, layanan media sosial sejenis Twitter asli Tiongkok.
Salah satunya Bai Yiyan Vina, yang mengunggah video lamaran tersebut dan menulis komentar, ”Seperti biasa, saya naik subway, pulang ke rumah. Kaget sekali ketika melihat pasangan yang jatuh cinta ini. Ini luar biasa.” Tak pelak, ribuan netizen Tiongkok pun ramai membicarakan kejadian yang tidak biasa ini.
Meskipun di rekaman video terdengar tudingan “dosa” atau “menjijikkan” dari beberapa penumpang kereta, ternyata sebagian besar netizen di Weibo, mendukung pasangan yang tengah di mabuk cinta itu.
“Siapapun yang menuding ini menjijikkan, kalian tidak berhak menghakimi orang lain,” tulis salah seorang netizen yang mendapat like lebih 600 kali.
Ada juga yang berkomentar, “Kita harus menghargai keberanian mereka. Meskipun banyak sekali yang menekan dan menuding mereka pendosa, mereka masih berani mengekspresikan cintanya.”

Sumber gambar, Weibo l Bai Yiyan Vina
Hanya sebagian kecil netizen yang berkomentar miring. Misalnya sejumlah perempuan yang mengklaim, ini hanya akan membuat mereka semakin kesulitan mencari pasangan, “Rasanya seluruh dunia sudah dipenuhi gay, dan saya masih saja jomblo.”
Walaupun dukungan tidak sedikit, kedua lelaki ini tidak akan bisa menikah di tanah airnya. Tidak ada hukum yang melegalkan pernikahan sesama jenis di hukum Tiongkok.
Namun, jika dilihat lebih luas, aturan hukum tidak sepenuhnya sejalan dengan persepsi masyarakat negeri tirai bambu.
Laporan BBC Trending, Juli lalu mengungkapkan bahwa keputusan Mahkamah Agung Amerika Serikat untuk melegalkan pernikahan sesama jenis, ternyata mengundang perdebatan di Tiongkok.
Namun, Timothy Hildebrandt, asisten professor Kebijakan Publik, London School of Economics, menilai cara pandang masyarakat Cina dan Amerika dalam melihat masalah ini, berbeda.
“Di Amerika, terpecahnya pendapat masyarakat terkait isu pernikahan sesama jenis, adalah karena alasan agama. Tidak sama halnya dengan apa yang terjadi di Tiongkok,” kata Hildebrandts. “Kalau ada orang yang homofobik di Cina, itu bukan karena alasan agama.”
Hildebrandt mengungkapkan persepsi masyarakat Tiongkok terhadap homoseksualitas dan pernikahan sesama jenis amatlah beragam.

Sumber gambar, Weibo l Bai Yiyan Vina
Ada yang belum pernah bertemu lelaki atau perempuan homoseksual dan bahkan tidak tahu apa itu homoseks. Ada pula yang sudah tahu, tetapi tidak percaya homoseksualitas ada di Tiongkok.
Namun, di saat yang bersamaan, Hildebrandt mengklaim, penerimaan masyarakat kota terhadap kelompok LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) semakin besar. Ini tergambar lewat penghapusan homoseksualitas dari daftar penyakit jiwa oleh Asosiasi Psikiater Cina pada 2011, serta semakin terbukanya diskusi membahas hak-hak kaum LGBT di Tiongkok.
Di Indonesia, pernikahan sesama jenis sebagian besar mendapat penolakan masyarakat.
Terakhir, Kepolisian Resor Gianyar, Selasa (29/09), menetapkan satu orang tersangka, berinisial MN yang diduga terkait pernikahan sesama jenis pasangan warga Amerika dan warga Indonesia, di Ubud, Bali, 12 September lalu. Belakangan diketahui, aktivitas pada foto yang ramai dibicarakan tersebut, bukanlah pernikahan, melainkan upacara pengelukatan atau pembersihan diri.










