#TrenSosial: Legalisasi pernikahan sejenis di AS 'kuatkan gerakan di Indonesia'

Bendera Amerika Serikat masuk di bagian depan parade, setelah negara ini mengakui perkawinan sesama jenis di seluruh negara bagian.

Sumber gambar, Getty

Keterangan gambar, Bendera Amerika Serikat masuk di bagian depan parade, setelah negara ini mengakui perkawinan sesama jenis di seluruh negara bagian.

Disahkannya pernikahan sesama jenis di seluruh Amerika Serikat dinilai semakin menguatkan gerakan-gerakan persamaan hak lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di dunia, termasuk di Indonesia.

Mahkamah Agung Amerika Serikat, Jumat (26/06), memutuskan bahwa pasangan sejenis <link type="page"><caption> di seluruh negara bagian kini memiliki hak untuk menikah</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/06/150626_dunia_amerika_pernikahan_sejenis" platform="highweb"/></link>. Keputusan ini dianggap monumental dan mendapat reaksi besar di media sosial.

RR Sri Agustine, pejuang persamaan hak LGBT dari Ardhanary Institute mengatakan Amerika memiliki pengaruh yang cukup besar ke negara-negara lain di Eropa dan Asia.

"(Ini) menjadi motivator. Semakin banyak negara-negara yang melegalkan pernikahan sesama jenis, akan semakin menguatkan gerakan-gerakan kita," katanya kepada BBC Indonesia.

"Saya sangat menyambut dan bersemangat menceritakan kegembiraan ini kepada teman-teman LGBT."

Di media sosial, pengguna di seluruh dunia menggunakan #LoveWins dan menambahkan filter pelangi dalam avatar mereka untuk menunjukan dukungan. Tagar #LoveWins sendiri telah dikicaukan lebih dari 10 juta kali di Twitter dalam 72 jam terakhir.

Sementara itu, orang-orang yang menentang pernikahan sesama jenis menggunakan tagar #StraightPride dan #LoveLoses. Wingga misalnya dalam akun ‏‪@winggawing mengatakan, "Bangga mendukung manusia tetap sesuai kodratnya. ‪#StraightPride."

Namun penggunaan dua tagar ini masih relatif kecil ketimbang #LoveWins. Tagar #StraightPride dikicaukan sekitar 4.700 kali dan #LoveLoses dipakai lebih dari 9.000 kali dalam 72 jam terakhir.

'Tidak akan diakui'

Di Indonesia, komentar-komentar terkait legalisasi pernikahan sejenis masih didominasi dengan ungkapan tidak setuju karena dianggap bertentangan dengan agama, moral, dan budaya.

Sumber gambar, TWITTER

Di Facebook BBC Indonesia misalnya, sejumlah orang menyatakan penolakan dengan menulis "kiamat sudah dekat” atau “kehancuran Amerika sudah dekat”.

Bagaimanapun ada juga yang menyatakan dukungan, "Bagus. Orang sudah semakin sadar akan kesetaraan. Biarkan menjalani hidup mereka masing-masing. Jangan ikut campur dan merasa paling benar.”

Menteri Agama Lukman Syaifuddin di Twitter ikut memberi tanggapan dengan menegaskan bahwa “negara (Indonesia) takkan mengakui perkawinan sesama jenis” karena “perkawinan adalah peristiwa sakral dan bagian dari ibadah.”

Bisakah lebih terbuka?

Membicarakan persamaan hak-hak lesbian, gay, biseksual, dan transgender memang masih sulit di Indonesia dan "jalan masih sangat panjang" untuk melegalkan pernikahan sesama jenis, kata Agustine.

Namun dia mengatakan selalu ada harapan.

"Memang susah, tetapi seperti di negara maju itu, butuh berapa lama sih untuk melegalkan pernikahan sejenis? Itu perlu berpuluh-puluh tahun," katanya.

Tagar #LoveWins telah dikicaukan lebih dari 10 juta kali di Twitter dalam 72 jam terakhir.

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Tagar #LoveWins telah dikicaukan lebih dari 10 juta kali di Twitter dalam 72 jam terakhir.

"Kalau sampai ke negara, memang butuh waktu sangat panjang, tetapi sekarang menteri agama misalnya. Zaman dahulu mana ada sih menteri agama yang mengatakan LGBT adalah pilihan? Ternyata ada Pak Lukman Hakim yang menyatakan seperti itu. Jadi selalu ada harapan walau pun kecil."

Amahl Azwar, penulis yang secara terbuka mengakui dirinya gay, mengatakan bahwa harapannya untuk Indonesia tidak muluk-muluk. "Cukup LGBT tidak di-bully atau didiskriminasi. Itu lebih realistis sepertinya."

"Sedih memang membaca komentar-komentar negatif di media sosial, tetapi yang namanya harapan tetap ada."