#TrenSosial: Tiga orang terduga pembunuh beruang madu ditangkap

Sumber gambar, Facebook
Tiga orang yang diduga melakukan pembunuhan terhadap beruang madu di Kalimantan Timur berhasil ditangkap, menurut sejumlah laporan.
Penangkapan tersebut dilakukan setelah sebuah foto yang diduga mendokumentasikan praktik perburuan hewan langka itu mendapat kecaman di media sosial.
Kelompok pecinta satwa, ProFauna, pada Jumat (25/09) <link type="page"><caption> mengunggah foto dari sebuah pengguna Facebook bernama Ronal Cristoper Ronal</caption><url href="https://www.facebook.com/54459281066/photos/a.391153831066.168946.54459281066/10153574433776067/?type=3&comment_id=10153579413456067¬if_t=photo_comment_tagged" platform="highweb"/></link>, yang memperlihatkan tiga orang, sebuah senapan, dan bangkai beruang madu yang tampak sedang dipotong.
Dalam unggahan aslinya, Ronal Cristoper menulis, "tangkapan hari ini."
Tiga orang yang ditangkap menyanggah melakukan pembunuhan dan mengatakan beruang sudah ditemukan dalam keadaan mati akibat jerat babi. Namun mereka mengakui bahwa mereka memasak dan memakan dagingnya.
Namun kelompok pecinta satwa mengatakan mereka tidak bisa lolos dari jeratan hukum karena memiliki bagian tubuh satwa dilindungi (dalam keadaan mati sekalipun) dilarang oleh hukum, kata Bayu Sandi, Koordinator ProFauna Borneo.
Dikecam
Unggahan yang hingga kini telah dibagikan lebih dari 4.100 kali itu menuai berbagai reaksi yang didominasi oleh kemarahan dan desakan agar pemburunya ditangkap.
"Dimohon beri hukum yang setimpal saya tidak tega melihat seperti itu," kata pengguna Facebook, Yoga Eka Nugraha.
Beruang madu termasuk hewan yang dilindungi dan pelaku pembunuhan hewan ini bisa terancam lima tahun penjara.
"Tidak ada data pasti terkait populasi beruang madu di Kalimantan, tetapi masyarakat adat di sana yang kami temui mengatakan bahwa hewan itu sudah semakin jarang terlihat," kata Ketua ProFauna Rosek Nursahid kepada BBC Indonesia.
Namun selain menuai kecaman, unggahan ProFauna itu juga ditanggapi kritis oleh sejumlah pengguna yang menganggap kelompok pecinta satwa itu hanya fokus pada perburuan hewan yang dilakukan individu, tetapi tidak pada korporasi besar yang menghancurkan habitat mereka.
Sejumlah orang juga menyatakan dukungan kepada pelaku dengan alasan bahwa tindakan tersebut mungkin bagian dari 'tradisi masyarakat lokal yang sudah lama dipraktikan.'
Namun untuk yang terakhir ini Rosek meragukannya karena masyarakat adat yang mereka temui justru menentang perburuan semacam itu. "Dari foto juga terlihat jelas bahwa mereka menggunakan senapan modern, bukan alat perburuan tradisional."
Kejadian ini, menurut catatan ProFauna, pernah juga terjadi pada 2014 lalu di Kalimantan Timur. Polisi ketika itu berhasil menangkap Ricky Werang yang mengunggah fotonya sedang menguliti beruang madu di Facebook.
BBC Indonesia mencoba mengkontak pemilik akun yang diduga mengunggah atas nama Ronal Cristoper Ronal untuk klarifikasi namun belum mendapat jawaban.
Pekan ini, <link type="page"><caption> kematian gajah penengah konflik</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/09/150921_trensosial_rip_yongki.shtml" platform="highweb"/></link> bernama Yongki juga menuai kemarahan di media sosial. Yongki ditemukan tak bernyawa dengan gading yang dicabut.
Kasus kekejaman terhadap binatang lain termasuk upaya penyelundupan kakatua melalui botol dan trenggiling yang dibekukan.
*) Berita ini diperbaharui pada Senin (28/09) mengikuti perkembangan terbaru.









