#TrenSosial: Para pelancong yang 'menyebar buku' ke pelosok Indonesia

Sumber gambar, Fadillah Yuliasari
- Penulis, Christine Franciska - @cfranciska
- Peranan, Producer BBC Indonesia
Fadillah Yuliasari, 29, gemar melancong. Jika biasanya orang-orang melakukan perjalanan ke luar negeri, ia lebih memilih jalan-jalan di Indonesia, khususnya wilayah timur.
"Tertarik dengan traveling kira-kira sekitar enam tahun yang lalu, saat sudah mulai bekerja dan saat sudah mulai punya gaji sendiri," ceritanya kepada BBC Indonesia.
Namun dalam dua tahun terakhir, hobi melancongnya disisipi satu misi lain, yaitu membawa buku untuk anak-anak lokal.
Ellie, begitu panggilan akrabnya, menjadi bagian dari gerakan berbasis media sosial #1Traveler1Book yang mengajak para wisatawan membawa buku ke tempat tujuan wisata.
Idenya cukup sederhana, satu orang diminta bawa satu buku untuk diberikan ke anak-anak setempat. Banyak wisatawan kemudian mengunggah foto-foto mereka ke media sosial dengan tagar #1Traveler1Book.
Bramantya, salah satu penggagas 1traveler1book.org, mengatakan gerakan ini dilakukan tidak hanya untuk meningkatkan akses baca untuk anak-anak daerah, tetapi juga mendorong pelancong untuk berinteraksi dan belajar kehidupan masyarakat lokal.
Gerakan yang dimulai sejak Mei 2014 ini sudah diikuti lebih dari 300 pelancong, bahkan berbagai pengelola travel juga ikut menyebarkan gerakan ini, kata Bram.

Sumber gambar, Jonathan Thamrin
Jonathan Thamrin, 25, salah satu pendiri situs travel Travacello.com salah satunya. "Saya memiliki tamu 80% dari lokal dan 20% dari mancanegara. Saya selalu memnita tamu-tamu luar negeri dan dalam negeri untuk membawa buku. Jika mereka tidak membawa buku, maka akan saya siapkan," katanya.
Senyum anak Papua
Ellie, yang kemudian selalu membawa buku ketika jalan-jalan, memiliki beberapa pengalaman yang tak terlupa.

Sumber gambar, Fadillah Yuliasari
Di Sumba, misalnya, sebuah pulau di mana tidak ada toko buku dan taman bacaan, Ellie menemukan anak-anak yang kegirangan karena melihat buku. Interaksinya tak putus sampai situ, karena beberapa bulan lalu dia mengirim lagi satu kardus berisi aneka bacaan untuk mereka.
Di Raja Ampat, Papua, dia mengunjungi Desa Arborek dan melihat anak-anak sekolah yang bertelanjang kaki sedang menggambar di luar kelas.
"Saya ngobrol banyak dengan kepala sekolahnya, mendengar bagaimana mereka kekurangan buku, melihat anak-anak mewarnai dengan crayon yang sudah kecil-kecil."

Sumber gambar, Fadillah Yuliasari
Jika ada hal yang dia pelajari dari berbagai perjalanan, itu adalah: belajar untuk tidak egois.
"Belajar untuk meninggalkan barang-barang lain di tas untuk menyisipkan dua tiga buku. Belajar untuk mengenal orang-orang (dengan lebih dekat)," jelasnya.
"Saya jadi melihat bagaimana kehidupan mereka, selalu ada yang bisa dipelajari dari sana."
Bagi Ellie, inilah yang membuat perjalanannya tidak sekedar cuci mata saja. "Pada akhirnya, hal-hal yang paling saya kenang, bukan pemandangan indah di Raja Ampat, tetapi senyum lebar anak-anak Papua ini."









