#TrenSosial : Inilah mahasiswa yang menemukan air di Mars

- Penulis, Del Crookes
- Peranan, Reporter Newsbeat
- Waktu membaca: 2 menit
Bagi sebagian besar mahasiswa, mencari pekerjaan dan pindah jauh dari rumah adalah sebuah keputusan besar.
Namun, selalu ada orang yang justru menuai keberhasilan dari keputusan tersebut.
Pria Nepal bernama Lujendra Ojha adalah salah satunya. Pria yang akrab disapa Luju ini sedang hijrah ke Amerika Serikat untuk menjalani pendidikan doktoral di jurusan ilmu antariksa di Institut Teknologi Georgia.
Ojha memastikan petunjuk tanda-tanda keberadaan zat cair di Mars. Penelitian ini ia mulai sejak lima tahun yang lalu dan menambahkan bukti adanya tanda-tanda kehidupan di Planet Merah.
Twitter tentang Luju melalui nama aslinya Lujendra Ojha disinggung sekitar 1.800 kali sampai Kamis (01/10).
'Peluang terbesar'
Pujian untuknya melalui media sosial termasuk dari senator Amerika Serikat, John McCain dan sejumlah warga di Nepal.

Banyak pengguna twitter yang mengucapkan selamat dan dukungannya terhadap Luju atas penemuan ini.

Sumber gambar, Lujendra Ojha
Pria berumur 25 tahun ini secara kebetulan menemukan "lapisan-lapisan di permukaan Mars" dalam sebuah penelitian mandiri saat menempuh pendidikan sarjana di Universitas Arizona, Amerika Serikat pada tahun 2010.
"Saya secara kebetulan menemukan peluang terbesar dalam hidup saya," ujar Lujendra saat konferensi di Prancis.
Lapisan ini merupakan hasil dari cairan yang mengalir dari atas tebing dan membentuk dinding kawah saat musim panas di Mars.
Aliran ini meninggalkan warna gelap memanjang sebelum mengering pada saat suhu di planet ini menurun drastis.
"Hasil dari penelitian terbaru ini adalah terlihatnya permukaan lapisan yang menunjukkan perbedaan warna," jelas Lujendra.
"Kami melihat adanya cahaya yang nampak dan cahaya infra merah, berdasarkan perbedaan material yang menyerap cahaya, kita bisa membandingkan data laboratorium dan menyimpulkan material apa yang terkandung di dalam lapisan tersebut."
'Baru sedikit informasi'

Dengan menggunakan instrumen dari NASA yang disebut Crism, Lujendra dan timnya menyimpulkan bahwa "lapisan" tersebut mengandung garam.

"NASA melakukan konferensi pers yang menyebutkan 'misteri telah terpecahkan' namun menurut saya kita baru mengetahui sedikit informasi," pikir Lujendra.
Material garam ini bisa menurunkan titik beku air hingga 80C dan tingkat vaporasinya hingga faktor 10.

Hal ini memungkinkan air untuk mengalir lebih lama pada tebing dan dinding kawah di Mars.
Penemuan ini membuat para peneliti dan pengamat luar angkasa sangat bersemangat.

"Kita harus mengetahui dari mana air itu datang. Pertanyaan selanjutnya adalah 'berapa banyak air yang berada di sana?'."









