Hewan peliharaan, menemani saat sepi dan hasilkan uang

hewan peliharaan
Keterangan gambar, Hewan peliharaan harganya bervariasi mulai dari Rp20.000 hingga jutaan.
    • Penulis, Rizki Washarti
    • Peranan, Wartawan BBC Indonesia

Banyak orang yang gemar binatang memutuskan untuk memelihara hewan, namun ternyata hewan juga dapat menjadi bisnis yang menguntungkan.

Micel Jonson sudah 20 tahun menjual hewan peliharaan mulai dari ayam, kucing, kelinci, kura-kura, monyet, burung, ular dan masih banyak lagi.

Dia mengaku berjualan dari satu pameran ke pameran lain dan melalui toko online. Saya bertemu dirinya dalam pameran flora dan fauna di lapangan Banteng, Jakarta pusat, Senin (28/09).

Untuk memulai usaha <link type="page"><caption> hewan peliharaan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/vert_earth/2015/09/150907_vert_earth_hewanlucu" platform="highweb"/></link> dibutuhkan modal sekitar Rp50 juta, kata Michel.

Hewan-hewan yang ia jual harganya bervariasi mulai dari Rp20.000 untuk kura-kura dan kelinci hingga jutaan untuk kucing Anggora atau ayam Ketawa yang jika berbunyi seperti sedang tertawa.

ayam ketawa
Keterangan gambar, Ayam Ketawa bila mengeluarkan suara berbunyi seperti sedang tertawa.

"Suara ayam ketawa sangat khas contohnya. Banyak macamnya, ada rocker, ada suara macam dangdut. Jadi kelas-kelas orang yang paham ayam yang menamai.

"Semakin panjang suaranya, semakin mahal harganya, jelas Micel.

Tapi menjual binatang tidak selalu mudah, terutama saat ini.

Micel menduga, akibat pelemahan ekonomi daya beli masyarakat menurun yang berdampak pada penjualannya.

burung
Keterangan gambar, Agar suara burung indah harus diberi vitamin dan dipelihara dengan baik.

Agar tetap dapat meraih untung sedikitnya sekitar Rp10 juta per bulan Micel berusaha menjual lebih banyak hewan yang sedang digemari dan tak banyak menjual hewan yang kurang dicari.

Tergantung musim

"Contohnya ketika musim burung. Kalau burungnya turun, lakunya kurang, saya langsung ganti. Misal banyak jual reptil," ungkap Micel.

Cara lain untuk tetap meraup laba menurutnya adalah dengan tidak memiliki toko, melainkan hanya berjualan di pameran atau melalui toko online.

"Karena kalau kita buka toko, kalau kita gak punya tempat yang strategis, gak akan bisa maju," tutur Micel.

kelinci
Keterangan gambar, Kelinci digemari oleh banyak kalangan, mulai dari anak-anak hingga nenek-nenek.

Ekanardi, seorang pencinta hewan mengaku keputusannya untuk membeli hewan peliharaan baru atau tidak, tak terlalu dipengaruhi oleh ekonomi, melainkan oleh waktu yang ia miliki untuk memeliharanya.

"Contoh, kalau ingin burung itu fit dan terus berkicau, harus setiap hari diurusin. Cara kasih makannya, cara pemeliharaannya, vitaminnya, itu harus penting.

"Baru dia bisa berkicau dengan baik. Itu sulit, seperti bayi, sama (sulit) mengurusnya," kata Ekanardi.

Di lain pihak, Dito, seorang penggemar kucing, memiliki pendapat yang berbeda.

Harga berpengaruh

"Lihat harga juga. Kalau suka, tapi harganya mahal, ya nabung dulu," ujar Dito.

Menyadari bahwa bagi sebagian orang harga cukup mempengaruhi pembelian satwa peliharaan, Ari, seorang penjual hewan peliharaan hanya menjual kelinci.

Alasannya karena harga kelinci yang sekitar Rp20.000 cukup terjangkau oleh semua kalangan. Dia juga memiliki alasan lain.

kelinci
Keterangan gambar, Ari, seorang penjual hewan peliharaan, memutuskan untuk hanya menjual kelinci.

"Kelinci itu mulai dari anak kecil sampai nenek-nenek pasti banyak yang minat. Binatang yang lucu, unik. Tak berbahaya kalau kelinci," kata Ari.

Sementara itu, Dito mengutarakan kenapa dia senang memelihara hewan.

"Kalau kesepian kan ada yang dimainin. Ada yang diajakin ngobrol. Walaupun gak jawab," jelas Dito.

Hal ini lah yang juga disadari oleh banyak penjual hewan peliharaan dan membuat mereka tetap bertahan meski ekonomi sedang melemah.

Anda bisa mendengarkan liputan selengkapnya dalam program Dunia Bisnis, yang disiarkan melalui radio-radio mitra BBC Indonesia, Senin, 05 Oktober 2015 pukul 05.00 dan 06.00 WIB.