Geliat bisnis warung makan selama bulan puasa

- Penulis, Ani Mulyani
- Peranan, BBC Indonesia
Jam menunjukkan pukul 16.00, ketika sejumlah pembeli mulai mengerumuni warung makan Mang Ae di Sukabumi, Jawa Barat.
Dibantu oleh tiga rekannya, Ladi Suryadi, sang pemilik warung, terlihat sibuk melayani para pembeli yang hendak menyiapkan makanan untuk berbuka puasa.
Ladi mengaku meneruskan usaha bapaknya yang sudah berjalan selama 35 tahun. Sajian makanan sore itu antara lain terdiri dari pepes ikan mas, ayam bakar, semur daging, dan pepes daging ayam.
“Pendapatan saya stabil selama bulan puasa, meskipun warung buka dari jam 15.00 sampai waktu sahur pukul 03.00,” kata Ladi kepada BBC Indonesia.

Menurutnya, ia bisa meraup untung Rp5 juta per hari pada hari biasa, jumlah yang sama pada bulan Ramadan saat ini.
Namun situasi berbeda dirasakan oleh Yudi, pengelola warung nasi Bu Yayah tak jauh dari warung makan yang dikelola Ladi.
“Tahun lalu, ada berbagai hiburan diadakan di sini, jadi pengunjung ramai membeli makan sembari menikmati hiburan. Sekarang sepi, dan omzet warung makan pun turun,” tutur Yudi.
Para pelaku usaha warung makan seperti Ladi dan Yudi adalah sebagian orang-orang yang tetap membatasi jam buka warung makan, meski <link type="page"><caption> Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin tidak mengharuskan rumah-rumah makan ditutup selama bulan Ramadan tahun ini</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/06/150618_indonesia_aceh_puasa" platform="highweb"/></link>.

Ladi dan Yudi bahkan hanya menyajikan lauk-pauk pada pukul 15.00. Adapun nasi mulai dihidangkan pukul 17.00. Menurut mereka, hal itu dilakukan untuk menghormati orang-orang yang berpuasa.
Di Bogor, warung makan tidak buka 24 jam. Dodi, pria yang berjualan nasi goreng dan soto mie di dekat stasiun kereta api Paledang, Bogor, membuka warungnya pukul 16.00.
Tetap buka siang hari
Jam buka warung makan di Bogor dan Sukabumi berbeda dengan di Jakarta. Beberapa di antara mereka bahkan buka selama 24 jam untuk melayani sejumlah pengunjung.


Nunung, mengelola Warteg Jaya bersama suaminya di wilayah Kebon Kacang, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Ibu dua anak ini mengaku pendapatannya meningkat pada awal puasa, namun menolak menyebutkan keuntungan yang didapat.
“Pada hari biasa warteg saya buka dari pagi hingga pukul 24.00. Namun pada bulan puasa ini saya buka 24 jam, karena ‘kan nanggung harus sahur,” tutur perempuan yang memulai usaha warteg enam tahun yang lalu.
Soto Betawi menjadi menu andalan warteg yang dikelola perempuan asal Jawa Tengah ini. Ia membawahi 10 karyawan, yang berasal dari Slawi dan Brebes, Jawa Tengah. Nunung sudah berencana menutup warungnya lima hari sebelum Lebaran dan akan berlibur selama 20 hari.
Sama halnya dengan Warteg Jaya, Heri, pemilik warung mi instan Heroy, di kawasan Kebon Kacang, Jakarta Pusat, membuka warungnya dari pukul 09.00. Sebelumnya, Heri dan saudaranya Rudi, menyewa tempat untuk membuka usahanya ini di Kemanggisan, Jakarta Barat.

Selain menjual mi instan, Heri pun menjual roti, pisang bakar dan martabak manis. “Telur omelet dan orak-arik a la Heroy yang dicampur ke mangkuk berisi mi instan menjadi menu andalan kami,” tutur pria asal Cianjur ini.
Meski membuka warungnya lebih awal, ia mengaku pemasukannya menurun. Pada bulan Ramadan ini pemasukannya hanya 40% dari omzet sebelum Ramadan.


Heri merekrut tujuh orang karyawan yang berasal dari Sumedang dan Cianjur, Jawa Barat. Pada hari biasa, warung ini kerap dipadati puluhan karyawan perkantoran dan karyawan mal. Jumlah ini bertambah pada waktu buka puasa tahun ini.
Aksi sweeping
Heri sempat menyatakan kekhawatiran akan aksi sweeping terhadap warung makannya, namun ia buru-buru menepis bahwa dirinya masih menghormati orang-orang berpuasa dengan menutupi warungnya dengan gorden.
Hal senada dikatakan oleh Nunung, pemilik Warteg Jaya.
“Belum pernah ada yang sweeping, toh saya menutupinya dengan gorden,” kata Nunung.









