#TrenSosial: Saleh, tukang ojek Palmerah yang membuat haru pengguna medsos

Sumber gambar, Dewi Rachmayani

Dewi Rachmayani adalah pengguna GrabBike sejati di Jakarta. Jika dengan ojek biasa ia harus merogoh Rp30.000 untuk rute Palmerah - Mega Kuningan, dengan aplikasi ini dia hanya membayar Rp5.000 saja.

Irit, cukup meringankan kantong, apalagi kalau tiap hari bolak-balik.

Tetapi, Rabu (02/08) kemarin, dia memasuki pengalaman yang berbeda.

"Saat saya sedang menunggu pesanan GrabBike di Palmerah, saya melewati tukang ojek tua yang menawarkan jasanya sambil tersenyum," ceritanya kepada BBC Indonesia.

Dewi sempat ragu, namun akhirnya membatalkan pesanan dan menghampiri tukang ojek konvensional itu.

"Namanya Pak Saleh, 65 tahun. Sudah 10 tahun jadi tukang ojek, sebelumnya pedagang kaca di Pejompongan," kata Dewi, yang kemudian menuliskan pengalamannya melalui Facebook.

"Setiap hari Pak Saleh bergerak dari rumahnya di Sawangan, Depok menuju Stasiun Palmerah. Buat Pak Saleh, tidak gampang mendapatkan penumpang. 'Orang rata-rata pada takut kalau yang nyetirin udah tua kayak saya, neng,' katanya.

Jadinya, rata-rata sehari Pak Saleh bawa pulang Rp60 ribu, hasil ngojek seharian. Ini di bawah pendapatan tukang ojek konvensional lainnya."

Dewi merasa haru ketika mengetahui bahwa Saleh tak mematok harga mahal untuk jasanya.

"Menjelang Mega Kuningan, saya tanya berapa ongkosnya. 'Terserah. Seikhlas penumpang aja'. Saya desak untuk sebut angka, jawaban Pak Saleh 'Kalo 20 ribu kemahalan nggak Neng?'"

Ketika Dewi memberi yang lebih besar dari yang diminta, "mata Pak Saleh berkaca-kaca.... Saya minta nomor HP-nya dan langsung pamit, enggak mau ketahuan kalau mata saya juga tiba-tiba kelilipan."

Unggahan Facebook Dewi menuai rasa haru dan menjadi viral di media sosial dan hingga kini telah dibagikan lebih dari 53.000 kali.

'Menampar muka'

Ojek pangkalan pada umumnya sering dicap "anarkis" dan suka "mengetok harga", sehingga konsumen memilih ojek aplikasi yang jauh lebih murah dan nyaman.

Namun pengalaman bertemu Saleh menurut Dewi, mengikis sebagian anggapan negatif tentang ojek-ojek pangkalan itu.

Jika ada hal yang dia pelajari dari pengalamannya itu adalah, "memang ada ojek pangkalan yang melakukan kekerasan atau main harga, tetapi tidak melulu semua begitu."

"Nampar banget. Pengalaman ini (membuat saya) berpikir lagi tentang Pak Saleh-Pak Saleh yang lain."

Sumber gambar, Getty

Dewi berpendapat Go-Jek dan GrabBike memang membawa banyak manfaat dan kemudahan bagi pengguna. Tentu ada satu dua kejadian terkait ojek pangkalan yang merugikan konsumen. Tetapi menurutnya, mencap buruk semua ojek pangkalan adalah keliru.

Saleh di sisi lain, tidak menyebut bahwa penghasilannya berkurang karena ojek aplikasi, tetapi terutama karena pengguna lebih memilih tukang ojek yang lebih muda. Ketika ditanya kenapa tidak masuk Go-Jek, dia mengatakan sudah mencoba tetapi tidak masuk klasifikasi umur.

Di Facebook BBC Indonesia, para pengguna mengatakan terharu dengan kegigihan Saleh mencari uang walau sudah tua.

Elfiati Haryono menulis, "semoga laris orderan Pak Saleh. Orderan ambil kue, antar ini itu. Ayo... simpan nomor hape-nya... ojek sopan rendah hati... pekerja keras tetap di cari pelanggan."

Apakah ojek pangkalan bisa bersaing dengan promo murah ojek aplikasi? Pembenahan layanan jadi solusinya.

Sumber gambar, Getty

Keterangan gambar, Apakah ojek pangkalan bisa bersaing dengan promo murah ojek aplikasi? Pembenahan layanan jadi solusinya.

Banyak juga yang memberi pujian kepada Dewi yang sudah membagi pengalamannya di media sosial. Sejak postingan itu dibuat, banyak orang yang mengungkapkan keinginan untuk membantu.

Lalu, pilih ojek yang mana?

"Ini masalah kepercayaan, yang konsumen ingin itu rasa percaya dan nyaman, ada patokan harga yang jelas, dan tidak asal mengetok harga," kata Hongky Then.

Fransiska Meily Zhang mengaku masih pakai ojek konvensional. "Ojek langganan saya juga memang bapak-bapak tua sih."

Lainnya berpendapat, "jangan generalisasi bapak ini dengan ojek pangkalan. Ojek pangkalan tidak pernah buka harga segitu. Saya dari Kemayoran ke Sunter saja Rp30 ribu. Rp30 ribu itu bisa buat dua kali isi bensin motor bebek. Tangki dari Kemayoran ke Sunter paling mahal Rp3.000. Mereka membuka harga terlalu parah," curhat Hans Yulizar Sebastian.