Kejaksaan Amerika tangkap jaringan peretas bursa saham

Paul Fishman

Sumber gambar, epa

Keterangan gambar, Jaksa wilayah New Jersey Paul Fishman, menjelaskan kepada wartawan mengenai penangkapan ini.

Pihak berwenang Amerika Serikat menangkap 32 orang terkait tuduhan peretasan dan 'perdagangan orang dalam'.

Kelompok ini beroperasi di Amerika dan Ukraina, diduga meraih keuntungan gelap lebih dari US$100 juta, melibatkan orang dari Amerika, Rusia, Ukraina, Prancis dan Siprus.

Sebelumnya 9 orang telah dituntut oleh kejaksaan di New York dan New Jersey.

Para peretas ini dituduh mengakses data yang diproses oleh "kawat" finansial untuk mendapat informasi mengenai perusahaan sebelum informasi itu diumumkan.

Informasi ini kemudian dipakai untuk membeli dan menjual saham, demikian menurut tuntutan jaksa.

"Skema internasional ini belum pernah tercatat sebelumnya dalam hal ruang lingkup peretasan, jumlah pedagang yang terlibat, jumlah saham yang diperdagangkan dan keuntungan yang dihasilkan," kata pimpinan otoritas pasar modal Amerika, Securities and Exchange Commission (SEC), Mary Jo White dalam pernyataannya.

SEC

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Otoritas bursa saham Amerika, SEC menyebut lebih dari US$100 juta keuntungan ilegal yang dihasilkan dari praktek curang ini.

Lima orang sebelumnya juga ditahan di Amerika Serikat, seperti dipastikan oleh juru bicara polisi federal amerika, FBI.

Dakwaan yang masuk di pengadilan negeri New Jersey menyebutkan "para tersangka mengakses lebih dari 150.000 pernyataan pers yang mereka curi dan melakukan perdagangan berdasarkan bahan informasi non-publik yang ada dalam pernyataan pers itu."

Pernyataan FBI menyebutkan setidaknya ada 1.000 'perdagangan orang dalam' dalam tiga tahun terakhir.

Peretasan ini diduga telah dilakukan selama lima tahun, termasuk serangan lewat "phising" (mengirimkan email palsu untuk mendapat informasi kata sandi dan sebagainya) terhadap pegawai perusahaan yang menyediakan pernyataan pers itu.

Peretasan terkait perdagangan orang dalam termasuk sulit dikenali, menurut manajer perusahaan intelejen bisnis, Laura Galante, tetapi kini pihak berwenang mulai membongkar kegiatan semacam ini.