#TrenSosial: Salah ketik undangan BIN, Setkab dikritik

sutiyoso

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Sutiyoso dilantik sebagai kepala BIN Rabu (08/07) oleh Presiden Joko Widodo.

Permintaan maaf Sekretariat Kabinet terkait kesalahan ketik pada undangan pelantikan kepala Badan Intelijen Negara (BIN) diapresiasi, walau sejumlah pengguna media sosial mengkritik kecerobohan tersebut.

Sebuah foto - yang memperlihatkan undangan pelantikan Sutiyoso - beredar di media sosial. Dalam foto tersebut, tertulis "pelantikan Badan Intelijen Nasional" bukan Badan Intelijen Negara.

Melalui akun Twitter, @setkab menyatakan permintaan maaf, melakukan ralat, dan mengatakan telah mengirim kembali undangan yang benar pada tamu undangan.

Sumber gambar, SEKRETARIAT KABINET

"Kemsetneg berupaya semaksimal mungkin melakukan perbaikan & peningkatan kualitas layanan administrasi di lingkungan Lembaga Kepresidenan," kicaunya.

Pengamat media sosial Nukman Lutfie mengapresiasi langkah Sekretariat Kabinet yang segera mengakui kesalahan.

"Sangat betul dan itu cepat kan, sebelum berkembang jadi isu yang enggak-enggak cepat minta maaf. Menurutku itu cara yang paling betul," kata Nukman.

'Kepikiran mudik'

Kesalahan tersebut menjadi pembicaraan dan menuai kritik di media sosial, Rabu (08/07). 'Kesalahan sepele yang sangat memalukan,' kata Moh Arif Widarto melalui ‏@MohArifWidarto.

"Ini beneran salah lagi Setneg? Badan Intelijen Negara jadi Badan Intelijen Nasional?" tanya ‏Lalu Suryade melalui @suryadelalu.

Namun ada juga yang berkomentar santai, 'BIN = Badan Intelijen Nasional. Mungkin udah engga fokus, gara-gara kepikiran mudik,' kata Jimly melalui ‏@Jimly_Minority.

Nukman mengatakan kesalahan cetak undangan ini menunjukan tidak ada upaya pengecekan ulang yang seharusnya dilakukan dalam proses pencetakan.

"Bisa berarti dua, satu tidak teliti atau memang tidak mengerti. Sebelum tercetak harusnya ada proof print dulu dan lain-lain."

Alutsista Vs Alutista

Kasus salah ketik juga sempat terjadi beberapa kali, terutama di akun Facebook dan Twitter Presiden Jokowi.

Pada 30 Juni lalu, akun Twitter Jokowi sempat dibicarakan karena keliru menulis 'alutsista' menjadi 'alutista', ketika memberi tanggapan tentang jatuhnya pesawar Hercules di Medan.

Sumber gambar, TWITTER

Pada 3 Juli lalu, sebuah posting-an dari akun Facebook Presiden Joko Widodo juga sempat dihapus dan diposting ulang karena kurang lengkap mencantumkan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Dalam post sebelumnya hanya disebut Menteri Tenaga Kerja saja.

Nukman mengatakan salah ketik semacam ini wajar dalam akun resmi sekalipun di media sosial. Hal terpenting adalah melakukan ralat setelahnya dan tidak perlu menghapus tweet yang keliru tersebut.

"Kalau kita nge-tweet itu biasa pakai jempol. Kalau salah ya wajar namanya juga manusia, tapi memang bisa heboh kalau tingkat kesalahannya tinggi."

Kehebohan di media sosial memang kerap terjadi dalam kasus salah ketik, dan Nukman punya teori menarik:

"Di Twitter dan Facebook kita masih melihat ada sisa-sisa pertempuran jaman dulu ketika pilpres. Karena itu masih ada haters, sehingga salah sedikit pasti di-bully dan di sisi yang lain dibela habis-habisan juga oleh pendukung yang menganggap pemerintah tidak pernah salah."

"Fenomena sosial media begitu, dan saya perhatikan ini akan berlangsung sampai lima tahun ke depan," katanya menanggapi ramainya pembicaraan terkait Jokowi dan kasus salah ketik.