#TrenSosial: Ayo sahur, panggilan lewat beduk di Lebanon

musaharati

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Penabuh beduk yang berjalan dari rumah ke rumah membangunkan warga untuk sahur.

Selama bulan Ramadan ini, seorang penabuh beduk kecil berjalan berkeliling dari rumah ke rumah di Lebanon untuk membangunkan sahur warga dengan menabuh dan memanggil nama pemilik rumah, tradisi yang masih terus berjalan di negara itu.

Seorang warga Lebanon, Saleh Hasan, bercerita tradisi lama untuk membangunkan sahur yang masih terus berjalan di sejumlah tempat di Lebanon melaui penabuh yang dikenal dengan nama Al Musaharati dalam bahasa Arab.

Penabuh gendang ini banyak ditemui di negara-negara Arab, khususnya di Lebanon.

saleh hasan
Keterangan gambar, Saleh Hasan mengatakan di perumahan kediaman orang tuanya, musaharati hafap nama-nama warga.

Namun sejumlah laporan menyebutkan tradisi - yang dilaporkan bagian dari kehidupan sosial pada zaman kerajaan Islam, khususnya saat Kekasaisaran Ottoman- semakin jarang ditemui.

Bagi Saleh Hasan, warga Lebanon yang tinggal di kota Tripoli, Musaharati masih menjadi sesuatu yang ditunggu saat Ramadan.

Hafal nama

"Musaharati biasanya hafal nama semua rumah orang yang akan dilewati...Misalnya rumah pak Muhammad, dia akan panggil namanya untuk membangunkan sahur...Beduk digunakan supaya penghuni lain bisa terdengar," kata Saleh mengenang saat masih tinggal di desa bersama orang tuanya.

penabuh beduk

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Mohammed Fanas, 61, Al Musaharati, yang membangunkan warga sahur di kota Sidon, Lebanon.

"Ini sudah tradisi, tidak ada Ramadan tanpa Musaharati," tambah Saleh yang menikah dengan wanita Indonesia.

Tradisi membangunkan sahur dengan gendang ini sangat terasa di desa dan kota-kota kecil, kata Saleh.

"Di kota seperti Tripoli, masih dilakukan, tapi dari jauh dan masih terdengar suara beduk yang membangunkan."