Pedagang asongan, antara kewirausahaan dan keterpaksaan

Sumber gambar, BBC Indonesia
- Penulis, Rohmatin Bonasir
- Peranan, Wartawan BBC Indonesia
Termos es, termos air panas, dan toples gula ditata dalam satu wadah yang diikat di atas boncengan sepeda. Di bagian depan, rentengan kopi bubuk instan dan sari buah siap seduh bergantung di kedua stang.
Sang pemilik sepeda, Mohamad Maksun, mengayuh dan kadang menuntun perangkat transportasinya yang juga berfungsi sebagai 'toko bergerak' rata-rata 10 jam setiap hari.
"Modalnya semua Rp1,5 juta untuk kopi, termos, segala macam dan sepeda," katanya ketika ditemui di Taman Suropati, salah satu tempat rekreasi di Jakarta Pusat.
Dalam satu hari, penghasilan kotor pedagang asongan ini Rp150.000 dan bila sudah dipotong pengeluaran untuk belanja maka ia mengantongi untung antara Rp30.000-Rp50.000.
Perhitungannya, setiap satu gelas kopi, satu gelas teh atau sari jeruk yang dijual, Mohamad Makmun untung Rp1.000. Artinya, laku 30 gelas, berarti untung Rp30.000.
Di Jakarta, pria ini sudah enam tahun menjalani profesi sebagai pedagang asongan, yaitu pedagang yang menjajakan barangnya dengan cara menyodorkannya kepada pembeli.

Sumber gambar, BBC Indonesia

Sumber gambar, BBC Indonesia
Pusat-pusat keramaian seperti Taman Suropati dan pasar bunga di Cikini, Jakarta Pusat, sering ia sambangi.
Di kawasan yang sama, Totok mendorong gerobak berisi aneka sayur dan buah.
"Lama 30-an tahun (berjualan seperti ini)...Tak bisa kerja yang lain karena tidak punya ijazah, sudah biasa keliling-keliling," ujarnya.
Rencana bisnis
Walaupun tidak menetap di kaki lima, Totok masuk kategori pedagang kaki lima dari segi asosiasi profesi dan skala usaha. Ia membeli sayur dan buah di pasar pagi rata-rata Rp1 juta per hari. Pada sore hari ketika dagangannya habis, ia membawa pulang Rp1,2 juta.
Menurut peneliti dan pengajar di Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat, Universitas Indonesia, Teguh Dartanto, ada dua alasan mengapa mereka terjun di usaha seperti ini.
"Yang pertama adalah orang yang memang passion (kegemarannya) memulai usaha dari kaki lima. Kelompok berikutnya adalah karena keterpaksaan atas tidak ada pilihan yang lain," jelasnya.
Konsekuensinya, dua kelompok itu mempunyai karakteristik berbeda.
Kelompok pertama mempunyai rencana bisnis jangka panjang sehingga usahanya berkembang dan mampu keluar dari strata ekonomi sebagai pedagang asongan.
Adapun kelompok kedua, bisnis cenderung asal cukup dan akan meninggalkan usahanya bila ada pilihan lain.


Sumber gambar, BBC Indonesia
Tasma, 35, pedagang asongan atlas dan buku di perempatan-perempatan jalan ingin beralih usaha bila ada pilihan.
"Inginnya sudah, capai jalan di lampu merah. Ingin pensiun kalau ada modal. Masalahnya nggak punya modal. Kalau punya modal, buat warung di rumah."
Selama mengasong sepuluh tahun terakhir, Tasma mengaku tidak mampu menyisihkan modal Rp5 juta untuk membuka warung mie di kampung halamannya di Indramayu, Jawa Barat.
Ia mungkin bisa mencari pinjaman dari bank, tetapi Teguh Dartanto berpendapat bantuan perbankan saja tidak bisa menjamin Tasma bisa keluar dari situasi ekonominya.
"Biasanya mereka mencoba mereplikasi orang lain," jelasnya. Yang dimaksud adalah para pedagang akan meniru keberhasilan orang lain dan hal itu lebih mudah terwujud apabila ada paguyuban sebagai wadah untuk bertukar gagasan dan juga ajang kerja sama.
Sejauh ini belum ada data yang menunjukkan berapa persen pedagang yang mengasong karena terpaksa atau karena naluri kewirausahaan.
Namun Teguh Dartanto memperkirakan yang terjun usaha kaki lima atas dasar keterpaksaan lebih besar.
Simak laporan pedagang asongan di Radio BBC Indonesia siaran hari Senin (08/06) pukul 05.00 dan 06.00 WIB melalui radio mitra BBC di kota-kota Indonesia.











