Melihat kampus berbahasa Inggris di Korea Utara

korea utara
Keterangan gambar, Semua pelajaran dibawakan dalam bahasa Inggris.

Sebuah universitas yang dibiayai oleh Barat berusaha membuka cakrawala calon-calon pemimpin masa depan Korea Utara. Program Panorama BBC mendapat akses eksklusif ke kampus tersebut.

Saat memasuki Universitas Sains dan Teknologi Pyongyang, jelas bahwa ini bukan institusi akademi biasa.

Seorang pengawal militer memberi hormat ketika kendaraan yang ditumpangi Chris Rogers dan Marshal Corwin dari BBC melewati pos pemeriksaan keamanan.

Di dalam kampus, mereka mendengar suara orang berbaris dan menyanyi, tidak ada pengawal. Hanya mahasiswa.

Mereka adalah anak-anak lelaki dari orang-orang paling berkuasa di Korea Utara, termasuk tokoh-tokoh militer senior.

"Komandan tertinggi kami adalah Kim Jong-un, kami akan membelanya dengan jiwa kami," demikian nyanyian para mahasiswa saat bergegas ke ruang sarapan.

"Patriotisme adalah tradisi," kata seorang mahasiswa berusia 20 tahun. "Lagu-lagu yang kami nyanyikan saat baris-berbaris adalah ucapan terimakasih kami kepada Pemimpin Besar."

kampus korea utara
Keterangan gambar, Universitas ini terletak di luar kota Pyongyang dan dibuka pada Oktober 2010.

Menyukai orang Amerika

Ada 500 orang mahasiswa di kampus itu, semuanya mengenakan setelah berwarna hitam, kemeja putih, dasi merah dan topi hitam dengan koper.

Mereka semua dipilih oleh rezim Kim Jong-un untuk menerima pendidikan Barat.

Tujuan universitas itu adalah memberikan mereka keahlian untuk membantu modernisasi negara miskin itu dan terlibat dengan komunitas internasional.

Semua kelas dibawakan dalam bahasa Inggris dan banyak pengajar berkebangsaan Amerika.

Hal ini sangat luar biasa karena Korea Utara selama puluhan tahun menutup diri dari dunia dan AS adalah musuh mereka.

Para mahasiswa menjelaskan mereka kini menyambut hangat orang Amerika, dan bukan pemerintah Amerika.

"Pastinya kami awalnya gugup, tapi kini kami percaya bahwa orang Amerika berbeda dari Amerika Serikat," kata seorang mahasiswa. "Kami ingin berhubungan baik dengan semua negara," tambahnya.

Pendiri dan presiden universitas adalah Dr James Chin-Kyung Kim.

Pengusaha Korea-Amerika yang juga seorang pemeluk Kristen taat itu diundang oleh rezim untuk membangun universitas itu berdasarkan sekolah serupa yang ia bangun di Cina utara.

Ia mengumpulkan dana £20 juta dari badan-badan amal Amerika dan Korea Utara.