Akses situs LinkedIn di Cina pulih

Situs jejaring bisnis LinkedIn mengatakan layanannya dapat diakses kembali di Cina, sehari setelah diblokir.
"Kami akan terus mengawasi situasi," kata juru bicara situs itu.
Sebelumnya, situs LinkedIn tidak dapat diakses pada Jumat (25/2), salah satu pengguna membuat forum diskusi tentang "Revolusi Melati" di Cina.
Istilah itu digunakan untuk menggambarkan revolusi yang terjadi di Timur Tengah.
Kantor berita The Agence France-Presse menyebutkan salah satu wartawan di Beijing dapat kembali mengakses situs LinkedIn pada Sabtu (26/2).
Pekan lalu, sejumlah demonstran pro demokrasi ditangkap di berbagai wilayah di Cina.
Protes itu terjadi menyusul pelarangan situs Boxun.com, di daratan Cina.
Setelah itu, salah seorang pengguna situs LinkedIn bernama Jasmine J membuat kelompok diskusi yang dinamakan "suara Melati".
Dalam salah satu tulisan yang dipublikasikan dalam situs jejaring bisnis itu, mereka menulis: "Oh Tuhan, sejumlah aktivis pro demokrasi telah melakukan sesuatu setelah meraih kemenangan di Mesir."
'Melati' diblokir
Pemerintah Cina mengontrol secara ketat jaringan internet yang dapat diakses oleh penduduknya. Sejumlah situs yang memuat isu yang sensitif secara politik ditutup. Akses Facebook dan Twitter diblokir.
Tetapi LinkedIn, yang digunakan sebagian kecil professional, masih dapat diakses melalui internet di Cina.
Bagaimana pun, Pemerintah Cina meningkatkan kontrol terhadap internet menyusul demonstrasi yang terjadi di sejumlah negara Timur Tengah.
Pencarian kata ‘melati’ diblok di situs terpopuler di Cina, Sina.com.
Pengguna internet didalam negara itu juga menyebutkan sejumlah situs memblokir informasi mengenai Duta Besar AS di Beijing Jon Huntsman.
Huntsman diketahui menghadiri demonstrasi pro demokrasi.
Kelompok kampanye Wartawan Tanpa Batas mengkritik kebijakan sensor terhadap akses internet yang dilakukan oleh pemerintah Cina, karena menghalangi kebebasan berpendapat.









