Pengakuan pekerja yang diperbudak di kebun anggur Brasil - 'Kami dipukuli dan disetrum'

A prosecution service agent looks at rescued workers temporally lodged at a school gym

Sumber gambar, MPT

Keterangan gambar, Sebanyak 207 pekerja yang diselamatkan dari kebun anggur di selatan Brasil bekerja dalam kondisi yang memprihatinkan.
    • Penulis, Fernando Duarte
    • Peranan, BBC World Service

Pada 22 Februari, polisi menyelamatkan lebih dari 200 pria dari kebun anggur di Kota Bento Gonçalves, Brasil selatan. Mereka menjalani kerja paksa, mengalami kekerasan fisik, serta "kondisi yang memburuk". Namun, skandal "budak anggur" bukan satu-satunya kasus perbudakan modern di negara tersebut.

Meskipun batuk terus-menerus, Neco* mempertimbangkan untuk mencari kebebasan dengan meninggalkan ruangan yang dia bagi dengan 15 rekan lainnya. Pilihan lain: terus bekerja memetik anggur di kebun hingga tenaganya terkuras habis.

Dia kira energi dan motivasinya cukup kuat untuk kabur, tetapi akhirnya dia melewatkan peluang itu karena tidak sampai hati.

"Saya tidak bisa meninggalkan orang-orang yang saya bawa," katanya kepada BBC melalui telepon, dari rumahnya di timur laut kota Salvador. Dia berhenti berbicara karena batuk.

Neco telah membantu mengumpulkan 47 pria untuk bekerja di suatu kawasan sejauh 3.000 kilometer antara Salvador dan Bento Gonçalves, di jantung wilayah penghasil anggur di Brasil.

Perjalanan itu ditempuh dengan menumpang bus selama tiga hari.

Mereka semua dijanjikan penginapan gratis, makan, dan upah sekitar US$770 (senilai Rp11,83 juta) untuk dua bulan kerja—gaji yang layak di negara dengan upah minimum bulanan US$250 (senilai Rp3,8 juta).

Namun, yang sebelumnya terlihat sebagai peluang bagus malah berubah menjadi lebih suram.

"Begitu kami tiba di sana, kami disuruh bekerja, tanpa waktu istirahat. Saya langsung tahu ada yang tidak beres," kata Neco.

A picture of one of the rooms occupied by the workers

Sumber gambar, MPT

Keterangan gambar, Para pekerja melaporkan bahwa mereka dilarang meninggalkan tempat tinggal mereka pada malam hari dan diancam dengan kekerasan fisik.

Dipukul dan disetrum

Mereka harus bekerja secara bergiliran dengan durasi setiap sif selama 15 jam.

Tak hanya itu, mereka harus menyantap makanan di bawah kualitas standar normal dan mengalami intimidasi. Tempat tinggal mereka yang kumuh dijaga oleh para petugas pada malam hari agar mereka tidak kabur.

Pagi harinya, para penjaga juga menggerebek kamar-kamar yang penuh sesak untuk menyuruh mereka bekerja.

Pekerja yang ragu-ragu atau mengeluh, kata Neco, dipukul dan disetrum dengan alat kejut listrik.

Itulah sebabnya dia mati-matian bertahan hidup, walau masuk angin yang dia derita karena bekerja di tengah hujan berubah menjadi infeksi paru yang parah.

"Mereka membawa barang-barang listrik yang menimbulkan percikan api dan mengancam akan menyetrum kami yang masih berada di tempat tidur," jelasnya.

"Beberapa pria terus mengatakan bahwa mereka 'sangat ingin menggunakannya pada kami' sambil tertawa."

Bagi Paulo*, pekerja lain, ancaman itu menjadi nyata.

Dia mengatakan kepada BBC bahwa dia disetrum oleh penjaga sebanyak dua kali karena 'tidak segera bangun'.

"Mereka mengatakan akan membunuh kami jika kami terlalu meributkan pemukulan itu," katanya.

Baca juga:

A vineyard in Bento Goncalves

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Skandal itu terjadi di wilayah penghasil anggur di Brasil.

Kedua pekerja itu mengatakan kepada BBC bahwa mereka melihat memar dan goresan pada rekan-rekan kerja lainnya yang mengaku dipukul oleh penjaga, meskipun mereka tidak menyaksikan serangan tersebut.

Pekerja lain mengatakan kepada polisi bahwa hukuman fisik adalah hal yang biasa terjadi.

Neco, Paulo, dan 205 pekerja lainnya - semuanya laki-laki berusia antara 18 dan 54 tahun - diselamatkan oleh tim gabungan kepolisian pada 22 Februari.

Mereka telah menghabiskan tiga minggu bekerja dari Minggu sampai Jumat, sebagai budak modern.

Para pekerja mengajukan keluhan serupa kepada polisi, yang menyita senjata kejut listrik dan semprotan merica selama penggerebekan.

Operasi tersebut digelar setelah tiga pekerja melarikan diri dari lokasi dan memberi tahu pihak berwenang.

Operasi itu menjadi berita utama nasional setelah terungkap bahwa Layanan Fenix, perusahaan yang membawa Neco dan kru lainnya ke kebun anggur, memasok pekerja untuk tiga produsen anggur terbesar Brasil: Aurora, Garibaldi, dan Salton.

Baca juga:

A Ministry of Labour handout shows an auditor talking to two freed workers

Sumber gambar, MPT

Keterangan gambar, Para "budak anggur" mengatakan kepada polisi bahwa mereka mengalami intimidasi verbal dan fisik.

Ketiga perusahaan tersebut telah mengeluarkan pernyataan. Mereka menyangkal mengetahui adanya eksploitasi dan menyalahkan kontraktor.

Aurora menerbitkan surat terbuka yang berisi permintaan maaf kepada para pekerja atas apa yang disebutnya sebagai "peristiwa yang tidak dapat dimaafkan".

Ketiga perusahaan itu juga berkomitmen untuk meninjau rantai pasokan mereka.

Fenix Services mengeluarkan pernyataan yang mengumumkan bahwa pihaknya "sedang menyelidiki tuduhan" tersebut dan akan mengambil "semua tindakan yang diperlukan untuk mengatasi setiap penyimpangan."

Para produsen anggur itu juga mengumumkan pada 9 Maret bahwa mereka telah mencapai penyelesaian dengan Kementerian Tenaga Kerja dan setuju untuk membayar denda setara dengan US$1,4 juta (senilai Rp 21,5 miliar) yang mencakup kompensasi bagi pekerja yang dieksploitasi.

Puluhan ribu budak

Namun, "skandal budak anggur", seperti yang dijuluki oleh pers lokal, sama sekali bukan satu-satunya kasus perbudakan modern di Brasil.

Sejak 1995, tatkala pemerintah secara resmi mengakui adanya praktik perbudakan modern, lebih dari 60.000 orang telah diselamatkan dari situasi serupa, menurut data Kementerian Tenaga Kerja.

Brasil bukan satu-satunya negara yang menghadapi masalah ini - Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) memperkirakan bahwa 28 juta orang di seluruh dunia melakukan kerja paksa pada 2021.

A person carrying sugar canes

Sumber gambar, MPT

Keterangan gambar, Sektor agribisnis Brasil bertanggung jawab atas sebagian besar kasus perbudakan modern di negara tersebut.

Admar Fontes adalah koordinator lembaga pemerintah anti-perbudakan di negara bagian Bahia, tempat 194 "budak anggur" berasal. Dia mengawasi operasi untuk memulangkan mereka, dan mengatakan kasus itu menjadi sorotan tidak hanya dari jumlah pekerja yang dieksploitasi.

"Yang terpenting, orang-orang yang mengintimidasi para pekerja sejauh ini menunjukkan perilaku paling kejam yang pernah saya temui dalam 12 tahun saya menangani kasus kerja paksa."

"Orang-orang yang bertanggung jawab untuk mempekerjakan para pekerja ini bertindak berani, seolah-olah mereka bisa memperlakukan pekerja dengan buruk dan lolos begitu saja," tambahnya.

Para pekerja, kata Fontes, juga melaporkan mendengar cercaan terkait dengan asal-usul mereka di timur laut - wilayah yang dilanda kemiskinan dan kekeringan, yang secara historis menyediakan tenaga kerja migran ke sebagian besar Brasil.

"Semua pekerja mengatakan kepada saya bahwa mereka sering diejek."

Fontes menambahkan bahwa perbudakan modern adalah masalah lama di Brasil.

Dia curiga orang yang mengeksploitasi pekerja merasa lebih berani melakukannya dalam beberapa tahun terakhir karena ekonomi Brasil yang memburuk setelah pandemi Covid-19 dan perang di Ukraina.

Sugar cane workers on the back of a lorry

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Lebih dari 60.000 pekerja dibebaskan dari situasi perbudakan modern di Brasil sejak 1995.

"Ketika kerawanan sosial meningkat, masyarakat cenderung semakin putus asa untuk menerima pekerjaan apapun," jelasnya.

Namun, Fontes juga menyalahkan mantan Presiden Jair Bolsonaro yang baru saja lengser. Mantan pemimpin itu mengkritik upaya hukum untuk mengekang perbudakan modern, khususnya draf hukuman penyitaan aset pengguna budak modern.

Fontes bukan satu-satunya orang yang memiliki kecurigaan itu.

"Perbudakan modern di Brasil tidak dimulai dengan Presiden Bolsonaro, tetapi dia meminimalkan masalah ini secara terbuka," kata Italvar Medina, jaksa wilayah dari Kejaksaan Brasil yang mengawasi kasus "budak anggur", kepada BBC.

Bias rasial dan pendidikan

Medina juga menunjukkan bahwa pemerintahan Bolsonaro memangkas anggaran untuk satuan penyelidikan khusus anti-perbudakan, yang telah mengalami kekurangan personel dalam beberapa tahun terakhir.

"Kami bergantung pada pemeriksaan itu untuk membatasi pelanggaran."

A Ministry of Labour handout shows female agents during an inspection of workers' lodgings

Sumber gambar, MPT

Keterangan gambar, Inspeksi anti-perbudakan terhambat oleh pemotongan anggaran dan kurangnya personel.

Data Kementerian Tenaga Kerja menunjukkan hanya dua sektor, yaitu peternakan dan perkebunan tebu, yang bertanggung jawab atas 45% kasus pelanggaran hak pekerja antara 1995 hingga 2022.

Para pekerja yang dieksploitasi seringkali berkulit hitam atau merupakan ras campuran.

Para korban selalu memiliki tingkat pendidikan formal yang rendah, yang membuat mereka rentan untuk dibujuk dengan janji-janji kerja palsu. Sebagian besar dari mereka adalah laki-laki.

Satu pengecualian adalah Taiane dos Santos, yang pada usia 17 tahun mendapati dirinya bekerja di perkebunan kopi Sao Paulo setelah dijanjikan uang tunai yang sangat dibutuhkan seorang ibu untuk memberi makan bayinya.

Taiane menjalani 50 hari kerja paksa tanpa bayaran sebelum diselamatkan dalam penggerebekan pada Juni 2021.

Sugar cane plantation workers are fed during a rescue operation in January 2022

Sumber gambar, MPT

Keterangan gambar, Para korban seringkali adalah ras kulit hitam atau campuran, memiliki latar pendidikan di level yang rendah, dan berasal dari bnegara bagian yang miskin.

"Saya berasal dari kota kecil di mana tidak pernah ada cukup pekerjaan untuk semua orang. Jadi orang sering bepergian untuk mencari pekerjaan sementara," katanya kepada BBC.

"Tapi tidak ada yang pernah memberitahu bahwa saya bisa menjadi tahanan."

Pengalaman tersebut mengarahkan Taiane untuk membantu mendirikan sebuah LSM yang bekerja dalam mendidik pekerja temporer di kotanya tentang hak-hak mereka, membantu mereka mengidentifikasi kemungkinan skema kerja paksa.

"Saya tidak ingin ada yang mengalami hal seperti itu lagi," katanya.

Perbudakan masa lalu

Wartawan dan ahli politik, Natalia Suzuki, mengatakan garis pertahanan pertama melawan eksploitasi sangat penting untuk melindungi pekerja.

Dia bertanggung jawab atas serangkaian proyek di LSM Reporter Brasil yang ditujukan untuk melatih para profesional, seperti pekerja sosial dan guru, sehingga mereka bisa mendidik orang-orang yang berpotensi menjadi korban perbudakan modern.

"Pekerja budak mengakar di sektor produktif Brasil dan masyarakat umum biasanya tidak peka terhadap hal ini," jelas Suzuki.

"Kita perlu mengubah mentalitas ini, dimulai dari mereka yang bisa menjadi korban praktik semacam itu."

Nineteenth-Century Print of Slave Labor In Brazil

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Brasil adalah negara Barat terakhir yang menghapus perbudakan pada 1888.

Ini adalah perjuangan berat.

Hanya lima hari sebelum "skandal budak anggur" menjadi berita, inspeksi Kementerian Tenaga Kerja menemukan 139 pekerja dalam situasi perbudakan modern di sebuah perkebunan tebu di Goias, di wilayah Tengah-Barat Brasil.

Jumlah orang yang diselamatkan per tahun terus meningkat: pada 2022 saja, lebih dari 2.500 orang diselamatkan, menurut Kementerian Tenaga Kerja. Ini adalah jumlah tertinggi sejak 2013.

Tidak jarang pekerja yang diselamatkan dibujuk kembali ke skema kerja paksa jika situasi keuangan mereka tidak membaik.

Neco, misalnya, mengakui bahwa dia mungkin harus melakukan perjalanan jauh lagi untuk mencari pekerjaan, meskipun kejadian di Bento Gonçalves menimbulkan trauma baginya.

"Saya tidak memiliki pekerjaan tetap sejak pandemi Covid-19, dan saya harus memberi makan anak-anak saya," katanya.

Admar Fontes, yang rutin menghubungi Neco dan pekerja lain yang diselamatkan, khawatir tidak akan ada kekurangan tawaran dari para pemberi kerja yang bersedia mengeksploitasi keputusasaan tersebut.

"Kenyataan yang menyedihkan adalah bahwa Brasil menghapus perbudakan pada 1888, tetapi perbudakan tidak pernah berhenti di negara ini,"

*Nama para pekerja diubah atas permintaan mereka