Pasukan gereja yang 'menghidupkan dan menyuarakan jeritan' jenazah pekerja migran NTT non-prosedural yang meninggal di Malaysia - satu hingga dua peti mayat per pekan

- Penulis, Raja Eben Lumbanrau
- Peranan, Wartawan BBC News Indonesia
Rata-rata satu hingga dua jenazah pekerja migran kembali ke NTT dalam peti mati setiap pekannya sepanjang sembilan tahun terakhir. Mayoritas jenazah adalah mereka yang bekerja di Malaysia, dan meninggal karena berbagai sebab. Sekelompok aktivis gereja yang dijuluki 'suster dan pendeta kargo' berusaha memberikan suara bagi para korban yang berpulang dalam sunyi.
Jerit suara tangis menggema di kaki Gunung Ile Boleng, Pulau Adonara, Nusa Tenggara Timur (NTT), ketika dua mobil ambulans menurunkan jenazah Yasinta Uba Wuyo dan Sesilia Siba Wara.
Mereka merupakan calon pekerja migran Indonesia (CPMI) nonprosedural yang meninggal dunia, saat kapal ilegal yang ditumpangi tenggelam di perairan Pengerang, Johor Bahru, Malaysia.

Yasinta dan Sesilia adalah dua dari 704 PMI asal NTT yang pulang tak bernyawa karena berbagai sebab, berdasarkan data dari 2014 sampai 2022.
Data dari Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) ini menunjukkan rata-rata, terdapat satu sampai dua peti jenazah tiba di NTT setiap pekan.
Jumlah itu -belum termasuk mereka yang dimakamkan di negara perantauan- menempatkan NTT di peringkat lima provinsi terbesar yang menyumbang jumlah PMI dari sejumlah sektor yang meninggal dunia, menurut data BP2MI.
Di balik gelombang kepulangan jenazah PMI asal NTT yang disebut sebagian besar korban perdagangan orang (trafficking) dan penyelundupan (smuggling), terdapat sekelompok orang yang bekerja 'menghidupkan dan menyuarakan jeritan' pekerja migran yang meninggal di perantauan.

Mereka adalah Laurentina Suharsih, Emmy Sahertian, Paoina Bara, yang dikenal sebagai 'suster dan pendeta kargo' di Bandara El Tari, Kupang.
Julukan ini disematkan karena mereka lah yang mengkoordinasi pemulangan jenazah, menyambutnya di bandara NTT, hingga mengantarkan ke kampung halaman. Sebelumnya, sering kali peti mayat terlantar di bandara selama berhari-hari.
Di balik pelayanan itu, mereka mengatakan, tantangan bukan hanya datang dari pihak luar seperti mafia perdagangan manusia hingga oknum pemerintahan. Di dalam komunitas pun, mereka dituduh pencitraan, kurang kerjaan, bahkan dituding menerima uang.
BBC News Indonesia mengikuti langkah Laurentina, 51 tahun, mengantarkan jenazah Yasinta dan Sesilia ke peristirahatan terakhir mereka di kampung halaman Pulau Adonara, NTT.
Perjalanan 'peziarahan' selama 20 jam ini, diakui Laurentina, telah menguras tenaga dan emosinya.


Ketika matahari terbit di ujung barat Pulau Timor, NTT, pada Februari 2022, saya tiba di Bandara El Tari Kupang.
Berjalan sekitar 200 meter dari pintu kedatangan lalu melewati pagar kecil, saya tiba di area kedatangan kargo bandara.
Di sana, saya disambut oleh sebuah bangunan terbuka dengan tulisan "tempat jenazah" tergantung di atapnya.

Sumber gambar, Laurentina Suharsih
Bangunan berukuran kira-kira 3x4 meter dengan beberapa atap tripleks yang menjuntai ke bawah itu menjadi saksi bisu kedatangan ratusan jenazah PMI dari luar negeri sebelum dipulangkan ke rumah mereka lalu dimakamkan.
Di tengah keramaian orang, seorang perempuan yang mengenakan jubah biara, melambaikan tangan dan menyapa.
"Selamat pagi, saya Suster Laurentina. Kami sedang menunggu dua jenazah perempuan NTT dari Malaysia," kata Laurentina yang didampingi Emmy Sahertian kepada saya, di kargo Bandara El Tari, Jumat, (11/02) tahun lalu.

Sumber gambar, Laurentina Suharsih
Jenazah yang dijadwalkan sampai pukul tujuh pagi ternyata tiba dua jam kemudian. Mereka adalah Mariana alias Yasinta Uba Wuyo (46 tahun) dan Sesilia Siba Wara (48 tahun).
Yasinta dan Sesilia adalah calon PMI nonprosedural yang tewas akibat kapal ditumpangi tenggelam di perairan Pengerang, Johor, Malaysia, pada 20 Januari 2022 lalu.
Di hadapan jenazah dan keluarga, Laurentina berucap, "Kita menyambut kedatangan kekasih dan saudari kita, Yasinta dan Sesilia, yang telah bergulat dalam kehidupan di perantauan."
Ini adalah titik awal dari perjalanan Laurentina, Koordinator Koalisi Anti Trafficking Daratan Timor, mengantar jenazah yang memakan waktu sekitar 20 jam menuju kampung halaman di Pulau Adonara, NTT.

Ketika sore menyapa Pelabuhan Kupang, ratusan orang hilir mudik memasuki Kapal Awu yang berkapasitas hampir seribu orang.
Peti jenazah Yasinta dan Sesilia diangkat perlahan ke Kapal Awu menggunakan derek, disambut suara klakson kapal yang menandakan waktu untuk segera berangkat.

Selama 12 jam, kapal yang dibuat tahun 1991 itu melintasi gelombang malam Laut Sawu, yang memisahkan Pulau Timor, Sumba, Flores, dan pulau-pulau kecil lainnya.
Disambut hujan dan dinginnya fajar, Kapal Awu tiba dan bersandar di Pelabuhan Ende, Pulau Flores yang dalam bahasa Portugis berarti "bunga" .
Waktu berputar cepat di tengah ratusan penumpang yang masuk dan keluar kapal.

Dari geladak kapal, seorang petugas berteriak, "Kapal akan segera berangkat, jenazah harus segera diturunkan!"
Di bawah guyuran hujan, Laurentina terdengar berbicara dengan seseorang melalui telepon genggamnya di dermaga.
"Bagaimana ini… tenang-tenang apa! Kapal kan mau jalan… ya, tapi ambulans yang penting," ucap Laurentina dengan nada tinggi melihat proses penurunan jenazah yang tertunda akibat ambulans belum tiba.
Beberapa menit kemudian, yang ditunggu datang juga. Suara sirene ambulans datang mendekat, dan satu demi satu peti diturunkan lalu masuk ke mobil.

Saat berjalan menuju parkiran mobil di tengah guyuran hujan, Laurentina mengatakan, baginya "ini adalah perjalanan peziarahan".
"Kami harus memberikan yang terbaik bagi mereka, dalam arti yang meninggal itu juga dihargai sebagai manusia, jangan terlantar di dermaga," ujarnya.
Dengan menggunakan mobil, saya dan Laurentina mengikuti dua ambulans menelusuri daratan timur Pulau Flores selama sekitar tujuh jam menuju Larantuka yang memiliki arti "tengah jalan".
Hamparan lautan biru dan langit tertutup awan yang bersembunyi di antara bukit-bukit menemani perjalanan.

Beberapa kali mobil mengurangi kecepatan untuk menghindari longsor yang menutup separuh jalan.
Kami tiba di Larantuka, kota yang mendapat julukan "Vatikan-nya Indonesia" dan terkenal dengan wisata rohani Samana Santa.
Di Pelabuhan Larantuka, jenazah kembali dipindahkan dari ambulans ke kapal kayu penumpang.

Dalam perjalanan di kapal, hujan kembali membasahi bumi. Saya dan Laurentina duduk di sebelah peti jenazah dibungkus terpal biru.
Mengutip salah satu ayat dalam kitab suci, Laurentina bercerita, "Mereka [jenazah PMI] telah mengakhiri pertandingan yang baik, dan telah mencapai garis akhir, dan telah memelihara iman."
"Kami percaya bahwa mereka bahagia menuju kampung halaman yang dirindukan dan menjadi tempat peristirahatan terakhir," ujarnya sambil memandang Gunung Ile Boleng, Pulau Adonara, yang berdiri tegak 1.659 meter di atas permukaan laut.

Dalam budaya NTT, tambah Laurentina, sejauh mana pun merantau, mereka harus kembali dan dimakamkan di kampung halaman, meskipun yang tersisa hanya baju saja.
Dia bercerita, pernah menyambut hingga mengantarkan baju hingga debu jenazah PMI ke kampung halaman mereka.
Sekitar 15 menit berlalu, pembicaraan kami terhenti saat mendengar suara tangis bersahut-sahutan dari kejauhan.
Suara itu memuncak ketika kapal bersandar di Pelabuhan Adonara.

Puluhan orang menangis, menjerit, dan bahkan ada yang terjatuh lemas saat peti jenazah dipindahkan dari kapal ke mobil ambulans.
Saya sejenak diam terpaku menahan rasa haru menyaksikan ekspresi kesedihan mereka saat memegang peti jenazah yang berisi keluarga yang dicintai, sementara Laurentina terlihat tegar dan sigap mengawal proses pemindahan.
Iring-iringan mobil keluarga mengawal jenazah menuju tempat peristirahatan terakhir mereka.

Sekitar 30 menit perjalanan menanjak di kaki Gunung Ile Boleng, jenazah Yasinta tiba di rumahnya yang berdinding batu bata dan beratap seng.
Di depannya berdiri tenda yang dilengkapi dengan puluhan kursi.

Isak suara tangis mengaung keheningan Desa Nelelamawangi saat peti Yasinta diturunkan dan kemudian menjalani proses adat hingga disemayamkan di ruang tamu.
Seorang ibu menjerit sambil melambaikan tangan ke peti jenazah, yang lain terjatuh di tengah puluhan orang yang berkabung.
Beberapa lelaki meneteskan air mata dan mengusap pipi dengan tangan.

Di ruang tamu yang bercat hijau dan terbentang poster bertuliskan "Ambilah.. Inilah Tubuh-Ku", seorang anak perempuan yang mengenakan jaket kuning duduk di samping peti jenazah.
Dia menunduk, berurai air mata dan menyentuh peti ibunya untuk terakhir kali.
Laurentina lalu memeluk anak itu dan berbisik, "Kita percaya Mama sudah bahagia di surga."
'Jaga adik-adik semua, Mama pergi tak lama'
Matahari telah bersembunyi dari Pulau Adonara, namun perjalanan belum berakhir.
Laurentina kemudian mengunjungi rumah Sesilia di Desa Lamabayung, yang berjarak sekitar 300 meter dari rumah Yasinta.

Jenazah Sesilia disemayamkan di atas dipan kasur dari kayu di ruang tamu. Di sebelah kanan peti, seorang perempuan duduk menunduk lesu dengan mata yang bengkak.
Sesekali dia memandang dan menyentuh peti jenazah ibunya sambil menangis.
Di kanan perempuan itu, berdiri foto Sesilia yang mengenakan baju kuning bertuliskan 'Silent' dengan kayu salib di belakangnya, diterangi beberapa lilin menyala.

Anak laki-laki Sesilia, Nikolous Salam Bua, 29 tahun, mengatakan ibunya adalah tulang punggung keluarga.
"Mama sangat penting bagi kami karena dari kecil sampai besar, dia sendiri yang merawat kami. Itulah Mama, segalanya bagi kami," kata Nikolous.
"Kata terakhir Mama, 'jaga adik-adik semua, mama pergi tak lama, cuma satu tahun'. Ternyata dia pergi untuk selamanya," ujar Nikolous sambil terisak yang disambut jerit tangis keluarga di ruangan itu.
Baca juga:
- Mengapa kamu siksa saya? Pekerja Indonesia yang selamat dari ‘neraka’ di Malaysia menelusuri majikan pengguna tang
- "Roh kudus berbisik kerja di Malaysia", praktik 'kejahatan mengerikan' mafia perdagangan pekerja migran NTT
- TKI di Malaysia disiksa, 'luka sayat dan bakar di sekujur tubuh' - mengapa kekerasan terus berulang?

Perjalanan maut Yasinta dan Sesilia

Sekitar November tahun 2021, Yasinta dan Sesilia berangkat dari kampungnya ke Pelabuhan Larantuka lalu menggunakan kapal ke Batam.
Sesampai di Batam, anak pertama Sesilia, Nikolous bercerita, ibunya sempat bekerja sebagai pekerja rumah tangga (PRT) sebelum ke Malaysia.
Kemudian pada 18 Desember 2021, mereka ke Tanjung Balai Karimun untuk menggunakan kapal ilegal menuju Johor Bahru, Malaysia. Nikolous menjelaskan, upaya itu gagal karena kapal telah berangkat.
Nikolous berkata, Sesilia dan Yasinta melakukan percobaan kedua pada 20 Januari 2022.
Menggunakan cara yang sama, mereka bersama 25 penumpang lain berangkat malam hari menggunakan kapal kayu.

Dalam perjalanan, pihak keamanan Malaysia mendeteksi kapal kayu sepanjang 15 meter itu. Mencoba melarikan diri, akhirnya kapal itu karam dan tenggelam di sekitar Teluk Ramunia.
Menurut keterangan Kemlu Indonesia, peristiwa itu menyebabkan lima orang tewas (termasuk Sesilia dan Mariana), 19 selamat, dan satu orang hilang.
Berdasarkan informasi dari Enoch Funeral Services di Johor Bahru dan KBRI Johor Bahru, Sesilia dan Mariana dinyatakan tewas karena tenggelam.
"Dia masuk [ke Malaysia] yang kedua tidak kasih tahu saya, diam-diam. Besoknya saya ditelepon Bapak, katanya Mama kena tangkap, padahal Mama sudah mati," kata Nikolous yang menambahkan bahwa ibunya telah beberapa kali bekerja di Malaysia secara resmi, dan baru kali ini ilegal.
Kepala Unit Pelaksanaan Teknis BP2MI wilayah NTT, Siwa mengatakan, kedua jenazah tidak terdata dalam sistem resmi pengiriman tenaga kerja, atau berstatus nonprosedural.

Sumber gambar, KJRI Johor Bahru
PMI nonprosedural yang tewas saat melewati jalur ilegal ini bukan yang pertama.
Dua hari sebelum kejadian yang membuat Sesilia dan Yasinta meninggal, enam WNI tewas tenggelam di perairan Malaysia, Selasa (18/01/2022).
Sebulan sebelumnya, Desember 2021, otoritas Malaysia menyebut terdapat 21 WNI tewas saat memasuki perairan Malaysia secara ilegal.

Sumber gambar, KJRI Johor Bahru
Kemudian, pada 16 Juni tahun lalu, kapal ilegal yang mengangkut 30 calon PMI nonprosedural tenggelam di Perairan Pulau Putri, Batam, di mana sekitar tujuh orang dinyatakan hilang.
Tidak berhenti, November 2022, kapal kayu yang membawa delapan orang PMI nonprosedural juga tenggelam di perairan Nongsa, Batam.

Sumber gambar, KJRI Johor Bahru
Konsul Jenderal RI di Johor Bahru, Sigit Suryantoro Widiyanto mengaku sulit mengetahui pergerakan kapal ilegal seperti yang ditumpangi Yasinta dan Sesilia.
Sigit mengatakan, pihaknya baru mengetahui ketika ada kapal ilegal yang kecelakaan.
"Tapi kalau laut tenang, kami tidak bisa duga karena titik-titiknya di Kepulauan Riau banyak, dan kami dapat informasi untuk masuk tidak terlalu mahal, Rp5-6 juta [per orang]. Jadi kita baru ketahui kalau ada laporan kapal atau ketemu mayat," ujar Sigit dalam wawancara di Johor pada Oktober 2022 lalu.
Sigit menambahkan, jalur ilegal dengan kapal kayu sangat berbahaya dan mengancam nyawa.
"Mereka tanpa alat keselamatan, diturunkan di tengah laut lalu disuruh berenang dengan barang bawaan. Biasanya sudah ada yang tunggu untuk dibawa ke tempat dipekerjakan. Tak ada kontrak dan sangat rentan," tambahnya.

Satu hingga dua jenazah setiap pekan

Sumber gambar, Laurentina Suharsih
Sesilia dan Yasinta adalah dua dari total sekitar 704 jenazah PMI asal NTT yang kembali tak bernyawa dalam sembilan tahun terakhir, merujuk data BP2MI.
Atau rata-rata, ada sekitar satu sampai dua jenazah tiba di NTT setiap pekan.
Mungkin Anda tertarik:
- Anggota TNI/Polri dituding terlibat sindikat penyelundupan pekerja migran, aktivis: 'Perlu ada efek jera'
- 'Wajah bengkak, luka bakar, gigitan anjing' - Upaya mencari keadilan bagi Adelina Lisao
- 'Pekerja migran ilegal' jadi korban kapal karam di Malaysia, libatkan 'mafia' dan 'sindikat' penempatan pekerja gelap

Mengutip data yang diterima BBC News Indonesia dari Tim Pelayanan Kargo Bandara El Tari, Kupang, mayoritas jenazah berasal dari Malaysia, meninggal karena sakit dan lebih dari 90% berstatus nonprosedural.
Sebagai contoh, data Tim Pelayanan Kargo mencatat, di tahun 2022 dari sekitar 108 jenazah hanya satu orang yang berstatus prosedural dan sisanya nonprosedural.
Korban terbanyak berasal dari Kabupaten Malaka (22 orang), Atambua (17 orang) dan Timor Tengah Selatan (16 orang).

Kemudian sepanjang Januari hingga 17 Desember 2021, dari total 119 jenazah hanya satu jenazah prosedural, selebihnya adalah nonprosedural.
Mayoritas korban itu berasal dari Kabupaten Malaka (20 orang) dan Timor Tengah Selatan (18 orang).

Fakta itu menempatkan NTT di peringkat lima provinsi terbesar se-Indonesia yang mencatat jumlah PMI dari sejumlah sektor pekerjaan meninggal dunia karena berbagai alasan.
Secara nasional, berdasarkan data BP2MI Pusat itu, terdapat rata-rata lebih dari sembilan PMI yang pulang peti jenazah dalam satu pekan.
Sejak 2014 hingga 2022 lalu, terdapat 4.347 PMI pulang tak bernyawa di seluruh Indonesia.
Jumlah itu belum termasuk para PMI yang meninggal di negara penempatan.

Aktivis anti-perdagangan manusia yang juga disebut sebagai pendeta kargo, Emmy Sahertian mengatakan, status nonprosedural menyebabkan PMI NTT mengalami "perbudakan" hingga penyiksaan yang berujung kematian.
"Akhirnya mereka sakit, pasrah dan meninggal. Syukur bisa pulang, banyak yang tidak bisa pulang dan dikubur diam-diam di sana," kata Emmy.
'Mereka itu bukan seonggok barang'

Sumber gambar, Laurentina Suharsih
Perjalanan membawa jenazah Yasinta dan Sisilia ke kampung halaman merupakan satu dari banyak cerita pilu pengantaran jenazah yang dilalui Laurentina dan pasukan gereja lainnya.
Laurentina bercerita, setiap pengantaran jenazah selalu menyimpan kenangan yang mendalam di dirinya, mulai dari proses pengiriman dari Malaysia ke kampung halaman yang sulit, reaksi keluarga yang berbeda-beda, hingga kondisi jenazah yang menyedihkan.
"Saya terpaku, menangis dalam hati, ketika melihat tangis keluarga. Ya Tuhan, mereka ini bukan hanya seonggok barang, tapi seorang pahlawan bagi keluarga, tulang punggung, dan sangat disayangi," ujarnya.

Suara Laurentina terbata-bata saat menceritakan salah satu pengalamannya yang "paling menyedihkan".
"Saya marah dan menangis sejadi-jadinya saat mengurus pemulangan jenazah asal Ende yang ditolak maskapai karena penyebab kematian adalah TBC, yang disebut menular, padahal ia sudah meninggal. Berbagai upaya dilakukan tapi tetap tidak bisa.
"Saya merasa ditolak, seolah-olah itu keluarga saya. Akhirnya, jenazah dipulangkan dengan kapal, sepanjang jalan saya terus menangis. Membayangkan itu, saya kembali sedih," katanya.
'Kurang kerjaan hingga dituduh menerima uang'

Sumber gambar, Laurentina Suharsih
Pelayanan kargo dimulai tahun 2016, berangkat dari banyaknya jenazah PMI yang terlantar di Bandara El Tari karena alamat tidak jelas, identitas palsu, hingga koordinasi yang tidak terjalin.
"Dulu di kargo, ada peti-peti jenazah yang sampai berhari-hari terlantar di sana," kata Laurentina.
Melihat itu, dia menjalin kerja sama dengan berbagai pihak terkait, sehingga terbentuk grup komunikasi WhatsApp Kargo.
Namun dalam pelaksanannya, pelayanan kargo menerima banyak kritik hingga cercaan, bahkan tak jarang datang dari dalam komunitas sendiri.

Sumber gambar, Laurentina Suharsih
"Ada yang bilang, kalian datang ke sini [kargo] buat apa? Kalau kalian [gereja] telah melakukan sosialisasi trafficking yang benar maka tidak akan seperti ini.
"Ada yang juga menyebut kami kurang kerjaan, pencitraan, cari muka, kayak begitu saja diurus, yang mati sudah biarkan mati. Bahkan ada yang menuduh kami dapat uang dari itu," kata perempuan yang pertama kali menginjakkan NTT tahun 2004.
Namun, Laurentina mengatakan dia tidak peduli dengan cercaan tersebut.
Dia tetap melakukan pelayanan, walaupun juga menerima banyak tantangan baik dari mafia, oknum pemerintah, oknum pelabuhan hingga oknum dinas kependudukan.

Bukan hanya Laurentina, pendeta kargo lainnya dan juga aktivis anti-perdagangan orang, Emmy Sahertian juga mengaku kerap menerima ancaman dari para mafia perdagangan manusia.
"Ada yang tulis surat isinya, 'Saya juga mantan aparat', lalu SMS isinya, 'Anda mau menantang kami?'" katanya.
Meski begitu, Laurentina bersama dengan Emmy Sahertian, dan Paoina Bara hingga kini terus melakukan pelayanan kargo.
Pengabdian ini, kata Emmy, untuk "menghidupkan dan menyuarakan jeritan-jeritan jenazah PMI NTT yang tidak bisa bicara".
Mengapa tetap pergi secara ilegal?

Sumber gambar, Laurentina Suharsih
Meski sudah banyak yang pulang dalam peti jenazah, masih banyak warga NTT yang memilih bekerja secara nonprosedural di Malaysia.
Kepala Unit BP2MI NTT, Siwa mengatakan, Malaysia menjadi tujuan terbanyak PMI NTT karena adanya kemiripan budaya, kesamaan bahasa, dan tertarik dengan gaji yang ditawarkan.
"Kemudian juga dari lapangan kerja yang tersedia, yaitu rumah tangga dan perkebunan yang cocok dengan karakteristik pekerja kita, sehingga itu menjadi dorongan ke Malaysia," kata Siwa.

Sementara itu, Emmy Sahertian menyebut, terdapat dua faktor pemicu, yaitu tradisi migrasi tradisional dari NTT ke Malaysia sebelum Indonesia merdeka yang membuat mereka secara mandiri berinisiatif pergi.
Kedua, faktor yang mendominasi, adalah ulah mafia perdagangan orang (TPPO) yang merekrut korban dengan tipu daya.
"Janjinya adalah gaji yang besar, proses gampang, dan gratis di tengah masyarakat pedesaan yang miskin dan banyak terjerat utang. Akhirnya mereka masuk dalam lingkaran setan," katanya.

Sumber gambar, Laurentina Suharsih
Mafia yang disebut mampu mendapatkan keuntungan puluhan hingga ratusan juta rupiah itu, kata Emmy, menipu keluarga-keluarga di pedesaan NTT melalui beberapa cara.
Pertama memanfaatkan budaya okomama (tempat sirih pinang untuk tamu), yang memiliki makna sebagai sarana penyampaian maksud baik, seperti peminangan.
"Mendekati keluarga melalui adat, okumama, menyampaikan janji-janji palsu dan menaruh uang agar melepaskan anaknya," kata Emmy.

Sumber gambar, Laurentina Suharsih
Kedua, yang kini jarang terjadi, adalah melalui penculikan paksa.
Jalur terakhir adalah menggunakan "wajah agama" - di mana para mafia menyusup dalam kelompok doa masyarakat untuk merekrut calon pekerja.
"Di kasus Meriance Kabu [korban TPPO], pelaku mengatakan 'roh kudus berbisik ke saya, nama kalian terpilih untuk bekerja di Malaysia'. Tapi sampai di sana, disiksa habis-habisan," ujar Emmy.
Bertahan dalam kemiskinan, atau merantau dengan ancaman kematian

Maraknya kasus perdagangan manusia di NTT, ujar Emmy, merupakan puncak gunung es dari beragam persoalan yang terbengkalai, terutama terkait kemiskinan di pedesaan.
"Sementara di tingkat atas, korupsinya habis-habisan. Saya tegaskan, PMI NTT ke Malaysia sebagaian besar adalah migrasi kerja paksa," ujar Emmy.

"Mereka terpaksa pergi, mengambil jalur nonprosedural di tengah ketidakadaan pilihan. Bertahan di desa hidup dalam kemiskinan atau merantau dengan ancaman kematian," katanya.
Baca juga:
Berdasarkan data pemerintah tahun 2021, angka kemiskinan di NTT mencapai 20 persen dari total sekitar lima juta penduduk.

Terdapat lima wilayah dengan status kemiskinan ekstrem di NTT, yaitu Timor Tengah Selatan (17,30% atau 81.180 orang), Rote Ndao (16,21% atau 28.720 orang), Manggarai Timur (15,43% atau 44.630 orang), Sumba Timur (17,47% atau 45.550 orang) dan Sumba Tengah (21,51% atau 15.820 orang).
Di lima wilayah itu jumlah penduduk miskin ekstrem sekitar 212.672 orang dengan total rumah tangga miskin ekstrem 89.410.

Di Taman Doa Bukit Fatima yang memandang langsung Pulau Solor, Pulau Adonara dan keindahan Kota Larantuka, Laurentina menutup perjalanan 'peziarahannya' dengan berdoa.
Dalam perjalanan pulang ke Kupang, dia mengatakan, banyak sekali keadilan bagi para jenazah yang "terkubur" dan kasus perdagangan manusia tidak terpecahkan.
"Banyak sekali cerita tak terpecahkan di balik peti-peti jenazah ini, misalnya siapa yang membawa [PMI nonprosedural], kemudian siapa menjadi calo, bahkan korban meninggal, harta benda habis, dan kadang keluarga ya sudahlah, sudah meninggal, mau apalagi."
"Saya bertekad memotong dan memangkas ini. Tapi saya yakin tidak mudah karena musuhnya banyak, dari mafia sendiri hingga oknum pemerintah, oknum pelabuhan dan bandara. Ini bukan pilihan saya, tapi suara hati saya, menyuarakan orang yang tidak bisa bersuara," tutupnya.
---
Grafik dan ilustrasi: Aghnia Adzkia, Davies Surya, Arvin Supriyadi, dan Ayu Widyaningsih










