Iran menyalahkan Salman Rushdie dan para pendukungnya menyusul serangan terhadap novelis 'Ayat-Ayat Setan'

Salman Rushdie

Sumber gambar, Getty Images

Waktu membaca: 5 menit

Iran menyanggah secara "kategoris" ada kaitan dengan pria penyerang Salman Rushdie dan menyalahkan novelis itu sendiri.

Rushdie, 75, mengalami luka parah setelah ditikam di atas panggung dalam acara di negara bagian New York, Amerika Serikat. Kondisinya kini telah stabil dan ia dapat bernapas tanpa dibantu.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Anthony Blinken menyebut media resmi Iran melakukan tindakan "tercela" dengan pemberitaannya.

Media resmi Iran Jaam-e Jam mengangkat berita bahwa Rushdi kemungkinan kehilangan satu mata akibat serangan dan mengatakan, "satu mata setan telah dibutakan."

Seorang pria yang didakwa melakukan percobaan pembunuhan terhadap penulis Salman Rushdie telah ditahan tanpa jaminan.

Hadi Matar, 24 tahun, dituduh berlari ke atas panggung dan menikam Rushdie setidaknya 10 kali di wajah, leher dan perut.

Pria ini, yang mengaku tak bersalah atas percobaan pembunuhan itu, telah ditahan tanpa jaminan.

'Lepas ventilator' dan 'dapat berbicara kembali'

Pemenang Booker Prize yang berkewarganegaraan Inggris dan AS ini dilaporkan telah dilepas dari ventilatornya dan disebutkan dapat berbicara kembali, sehari setelah ditikam.

Walaupun belum ada laporan resmi tentang kondisi terakhirnya, rekan-rekannya dan sejumlah intelektual mengaku lega setelah mengetahui Rushdie sudah dapat berbicara.

Michael Hill, pimpinan Chautauqua Institution - tempat serangan itu terjadi - juga menulis di Tweeternya perihal kondisi Rushdie.

Hentikan X pesan
Izinkan konten X?

Artikel ini memuat konten yang disediakan X. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca X kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.

Peringatan: Konten pihak ketiga mungkin berisi iklan

Lompati X pesan

1px transparent line

Henry Reese, yang seharusnya mewawancarai Rushdie di acara tersebut, mengalami cedera ringan di kepalanya.

Reese adalah pendiri lembaga nirlaba yang didirikan untuk para penulis yang menghadapi ancaman atau persekusi.

Sebelum diserang, Rushdie hendak memberikan pidato tentang bagaimana AS telah menjadi surga bagi para penulis semacam itu.

Novelis itu terpaksa bersembunyi selama hampir 10 tahun setelah novel karyanya, Ayat-Ayat Setan (The Satanic Verses) diterbitkan pada 1988.

Rushdie telah menghadapi ancaman pembunuhan selama bertahun-tahun untuk novelnya itu, yang oleh sebagian Muslim dianggap sebagai penghujatan.

Keterangan video, Lokasi kejadian tempat Salman Rushdie diserang.

Dewan Muslim Inggris mengecam serangan

Sebelumnya, agen Salman Rushdie mengatakan sang penulis kini dirawat dengan ventilator dan tidak bisa bicara. Ia menambahkan bahwa Rushdie mungkin akan kehilangan satu matanya.

"Salman kemungkinan akan kehilangan satu mata; syaraf di tangannya putus; dan livernya ditikam dan rusak," kata Andrew Wylie dalam sebuah pernyataan.

Polisi Negara Bagian New York mengatakan tersangka seorang pria naik ke panggung dan menyerang Rushdie dan orang yang mewawancara.

Baca juga:

Polisi mengatakan telah menahan tersangka namun belum mengonfirmasi motif dan dakwaannya. Mereka masih dalam proses mendapatkan izin untuk menggeledah tas dan sejumlah perangkat elektronik yang ditemukan di lokasi.

Sir Salman Rushdie pictured onstage

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Salman Rushdie, 75 tahun, diserang saat berbicara dalam sebuah acara di Chautauqua Institution di Negara Bagian New York, Amerika Serikat.

Rushdie ditikam setidaknya satu kali di bagian leher dan abdomen, kata pihak berwenang. Ia dibawa ke rumah sakit di Erie, Pennsylvania, dengan helikopter.

Para saksi mata mengatakan Rushdie ditikam berkali-kali oleh orang bertopeng ketika novelis itu akan memberikan ceramah.

Pewawancara Rushdie, Henry Reese, juga mengalami luka ringan di kepala. Reese adalah pendiri lembaga nirlaba yang didirikan untuk para penulis yang menghadapi ancaman atau persekusi.

Dewan Muslim Inggris mengecam serangan itu dan mengatakan "kekerasan seperti itu salah dan pelakunya harus diadili."

Siapa Salman Rushdie?

Salman Rushdie, di luar King's College di Cambridge pada 1993

Sumber gambar, PA Media

Keterangan gambar, Salman Rushdie, di luar King's College di Cambridge pada 1993.

Salman Rushdie merupakan penulis kelahiran India. Dalam kariernya selama lima dekade banyak mendapat ancaman pembunuhan karena novel-novelnya.

Banyak bukunya sangat berhasil, dan novel keduanya Midnight's Children (Anak-Anak Tengah Malam), meraih Booker Prize pada 1981.

Namun novel keempatnya, The Satanic Verses (Ayat-ayat Setan), yang diterbitkan pada 1988 adalah karya Rushdie yang paling kontroversial.

Akibat berbagai ancaman terhadap nyawanya, Rushdie terpaksa bersembunyi dan pemerintah Inggris menempatkannya di bawah perlindungan polisi.

Baca juga:

Pemerintah Inggris dan Iran memutus hubungan diplomatik namun para penulis Barat mengecam ancaman kebebasan berekspresi.

Bahkan, Pemimpin Spiritual Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini, pernah mengeluarkan fatwa yang menyerukan pembunuhan Rushdie pada 1989 - satu tahun setelah novel diterbitkan.

The Satanic Verses, diterbitkan pada 1988, dan menimbulkan kontroversi sekala besar.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, The Satanic Verses, diterbitkan pada 1988, dan menimbulkan kontroversi sekala besar.

Salman Rushdie lahir di Bombay, dua bulan sebelum kemerdekaan India dari Inggris. Ia berasal dari keluarga Muslim namun kemudian menyebut dirinya "ateis garis keras".

Pada usia 14 tahun, ia dikirim ke Inggris dan mendapatkan gelar sarjana sejarah di Kings College, Cambridge. Ia kemudian menjadi warga negara Inggris.

Di Inggris, dia sempat menjadi aktor dan kemudian menjadi penulis iklan sambil menulis novel.

Ketika Ayat-Ayat Setan diterbitkan dan menimbulkan kecaman dari dunia Muslim karena dianggap sebagai penistaan agama, India adalah negara pertama yang melarang novel tersebut, diikuti dengan Pakistan dan berbagai negara Muslim lain.

Novel ini dipuji sejumlah pihak dan memenangkan penghargaan Whitbread. Namun kecaman terhadap buku ini semakin meningkat dan dua bulan kemudian setelah penerbitan, banyak aksi protes di jalan-jalan.

Demonstran melawan The Satanic Verses di Paris pada 26 Februari 1989.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Demonstran melawan The Satanic Verses di Paris pada 26 Februari 1989.

Salah satu hal yang dianggap penghujatan adalah karakter dua perempuan penghibur dalam buku itu dinamai sesuai dengan nama istri-istri Nabi Muhammad.

Pada Januari 1989, warga Muslim di Bradford, Inggris membakar buku tersebut dan toko buku WHSmith menghentikan pajangan buku.

Rushdie sendiri menolak tudingan bahwa buku itu penghujatan.

Pada bulan Februari 1989, sejumlah orang meninggal dalam kerusuhan anti-Rushdie. Di Teheran, Kedutaan Inggris dilempari batu.

Di Inggris sendiri, sejumlah pemuka Muslim mendesak warga menahan diri sementara yang lainnya mendukung Ayatollah.

Amerika Serikat, Prancis dan negara-negara Barat lain mengecam ancaman hukuman mati itu.

Rushdie sendiri - yang saat ini masih dalam persembunyian bersama istrinya dan dilindungi polisi - menyatakan penyesalan mendalam karena menyebabkan kemarahan. Namun Ayatollah kembali menyerukan agar penulis ini pantas mati.

Tetapi novel ini laris dibeli di Inggris dan Amerika.

Seorang Muslim India memakai topeng Rushdie dalam protes di Bombay pada Januari 2004.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Seorang Muslim India memakai topeng Rushdie dalam protes di Bombay pada Januari 2004.

Bukan Rushdie saja yang mendapatkan ancaman karena novel kontroversial itu.

Penerjemah Ayat-Ayat Setan dalam bahasa Jepang ditemukan meninggal di universitasnya pada Juli 1991.

Polisi mengatakan penerjemah Hitoshi Igarashi, yang bekerja sebagai asisten profesor perbandingan budaya, ditusuk beberapa kali di luar kantornya di Universitas Tsukuba.

Pada bulan yang sama, penerjemah Italia, Ettore Capriolo, ditikam di apartemennya di Milan, namun selamat.

Fatwa hukuman mati terhadap Rushdie dihentikan secara resmi oleh Iran pada 1998.

Salman Rushdie

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Rushdie harus bersembunyi dan mendapat perlindungan polisi setelah menerbitkan The Satanic Verses

Buku-buku Rushdie lain mencakup novel untuk anak-anak Haroun and the Sea of Stories (1990), buku tentang esai, Imaginary Homelands (1991). Kemudian novel, East, West (1994), The Moor's Last Sigh (1995), The Ground Beneath Her Feet (1999), dan Fury (2001).

Dalam dua dekade terakhir ia telah menerbitkan Shalimar the Clown, The Enchantress of Florence, Two Years Eight Monthsand Twenty-Eight Nights, The Golden House, serta Quichotte.

Rushdie telah menikah empat kali dan memiliki dua anak.

Ia kini tinggal di AS dan mendapat gelar pada 2007 karena jasanya dalam bidang kesusasteraan.

Pada 2012, ia menerbitkan Joseph Anton: A Memoir, buku tentang kehidupannya setelah terbitnya The Satanic Verses.