Covid dan kanker: Para ilmuwan muda yang bekerja lembur demi memerangi kanker

Sumber gambar, Dr Alba Rodriguez-Meira
- Penulis, Alice Evans
- Peranan, Newsbeat
- Waktu membaca: 4 menit
"Saya sangat, sangat lelah."
Adalah hal yang lumrah bagi para ilmuwan untuk bekerja berjam-jam mendekam di laboratorium.
Namun sejumlah peneliti kanker di Inggris mengaku mereka kini bekerja lebih lama dan lebih keras tanpa bayaran tambahan karena pandemi virus corona.
Ketika pembatasan Covid di Inggris dilonggarkan musim panas lalu, banyak orang menikmati bepergian dan bergaul dengan kelompok yang lebih besar lagi.
Namun, bagi Dr Alba Rodriguez-Meira yang berusia 28 tahun, masa yang cerah itu layaknya "karantina yang diperpanjang".
Baca juga:
Laboratorium telah ditutup selama empat bulan dan Alba bekerja lebih dari 90 jam tiap pekan - itu sama saja 13 jam per hari, termasuk akhir pekan - untuk melanjutkan penelitiannya tentang leukemia di Universitas Oxford.
"Keadaannya baik-baik saja selama bulan pertama, tapi menjadi sedikit mengganggu dalam hal kualitas hidup jika dilakukan lebih lama," kata Alba.
Jam kerja mingguan Alba perlahan-lahan mendekati durasi biasanya, 60 jam - tapi ia masih merasa terlalu banyak bekerja.
"Saya kehilangan banyak produktivitas - kadang-kadang saya pikir saya tidak pernah bahagia atau bersemangat seperti dulu.
"Bekerja dalam kondisi seperti ini telah membuat saya kehilangan sedikit hal itu. Dan terkadang saya merasa sangat, sangat, sangat lelah."
'Tak akan ada obat yang bagus'
Kendati laboratorium telah dibuka, tak semua orang bisa berada di sana dalam waktu yang bersamaan karena adanya aturan jaga jarak sosial.
Ini memengaruhi aktivitas mahasiswa program doktoral Lauren van de Weijer, 24 tahun, yang sedang mempelajari sejenis tumor otak yang disebut meningioma.
Ia seharusnya menjalankan eksperimen penting di laboratoriumnya di Universitas Plymouth selama akhir pekan Paskah pada bulan April, akan tetapi ia tak diizinkan masuk ke laboratorium untuk memberikan "makanan" yang dibutuhkan oleh sel tumor yang sedang ia teliti.
Akhirnya, semua sel tumor itu mati.
Lurien khawatir sebab ia hanya memiliki waktu 18 bulan untuk menyelesaikan program doktoralnya.
"Saya akan kewalahan... karena aku kehilangan banyak waktu di tahap awal, aku benar-benar harus mengejar ketinggalan, jadi aku mungkin akan menjalani jam-jam dengan penuh kegilaan.
"Saya benar-benar tidak mengharapkan berada di laboratorium di tengah malam."
Ia khawatir bahwa semakin lama ia menyelesaikan penelitiannya, "semakin lama tak akan ada obat yang bagus" bagi penderita meningioma.

Sumber gambar, University of Plymouth
Terlepas dari semua kerja keras ekstra ini, Institute of Cancer Research (ICR) mengatakan Covid akan menambah dua tahun lagi jeda waktu antara perawatan yang baru ditemukan dan kapan pasien kanker dapat menggunakannya.
"Kami tak memiliki kemewahan waktu - itulah kenyataannya - untuk menunggu dua tahun tambahan," kata Amani Liaquat yang mengidap kanker otak agresif yang dikenal sebagai glioblastoma multiforme.
Perempuan berusia 23 tahun itu didiagnosis pada April 2020 dan dokter mengatakan ia hanya memiliki sisa waktu hidup antara 12 hingga 18 bulan.

Sumber gambar, Amani Liaquat
Kemoterapi dan radioterapi gagal memperkecil tumor dan Amani kini sedang mencoba obat baru yang disebut ONC201, yang masih dalam tahap uji coba.
Ia mengatakan bahwa dirinya "tidak mendeskripsikan dengan kata-kata" rasa terima kasihnya kepada para peneliti yang bekerja ekstra di laboratorium selama pandemi dan "mempertaruhkan kesehatan mereka sendiri demi mencoba dan membantu orang lain".
Fakta bahwa orang-orang masih berada di luar sana, mencoba yang terbaik dalam keadaan sulit seperti itu sangatlah penting," katanya.
Sekitar £270 juta, atau sekitar Rp5,4 triliun pendanaan untuk penelitian medis telah dipotong selama pandemi - tujuh kali lebih buruk dari penurunan pendanaan setelah resesi 2008 - menurut Association of Medical Research Charities (AMRC).
Hampir satu dari tiga badan amal AMRC harus membatalkan atau menunda proyek penelitian.
Prof Paul Workman, kepala eksekutif ICR, menyatakan dampak mencolok dari penundaan ini secara sederhana: "Kanker tidak bisa menunggu."
Artikel ini memuat konten yang disediakan Instagram. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca Instagram kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.
Lompati Instagram pesan
Amani, yang memanfaatkan media sosial untuk meningkatkan kesadaran akan penelitian tentang kanker otak, mengatakan obat hasil uji coba "sudah pasti bekerja lebih baik dari pengobatan yang saya lalui sebelumnya."
Kualitas hidup saya sudah pulih dan saya merasa itulah [hal] terpenting... bisa menikmati waktu yang saya miliki saat itu dengan keluarga saya."
Didorong oleh kisah-kisah seperti Amani, beberapa kelompok yang disebut peneliti "lab basah", yang pekerjaannya banyak bereksperimen, telah menyusun pola sif sehingga mereka semua dapat masuk ke lab tanpa melanggar aturan jarak sosial.
Sering kali setelah tengah malam kala Beshara Sheehan memulai bersepeda pulang dari lab ICR di Sutton, London selatan.
Baca juga:
Beshara yang berusia 28 tahun dan kini sedang meneliti bagaimana meningkatkan terapi kanker prostat, banyak bekerja pada sif malam - tetapi merasa " sulit untuk berhenti" dari pekerjaannya.
Saat dia tidak sedang berada di laboratorium, ia masih harus berkomunikasi dengan rekan kerja yang ada.
ICR mengatakan hampir 30% sif yang dilakukan oleh timnya yang terdiri dari 900 pekerja lab sekarang dimulai setelah jam 8 malam, sebelum jam 8 pagi, atau di akhir pekan.

Sumber gambar, Beshara Sheehan
Hanya beberapa jam setelah Beshara sampai di rumah, pada pukul 4.30 subuh, alarm Fiona Want berbunyi.
Perempuan berusia 25 tahun ini bekerja di lokasi yang sama dengan Beshara, meskipun di tim peneliti yang berbeda, tetapi lebih memilih giliran kerja pagi ini daripada terlambat.
"Butuh sedikit waktu untuk membiasakan diri dengan rutinitas yang campur aduk," kata Fiona, yang telah melakukan sif setengah hari di lab dan sisa harinya dihabiskan untuk bekerja dari rumah.

Sumber gambar, Fiona Want
Fiona, yang penelitiannya berfokus pada kanker kandung kemih, sekarang bekerja hingga 55 jam seminggu dibandingkan dengan masa sebelum pandemi Covid yang maksimal sekitar 45 jam.
Kematian ayah tunangannya akibat kanker pada akhir tahun lalu memberikan semangat baru bagi Fiona untuk terus maju meski harus lembur.
"Itu menjadi sumber motivasi yang nyata bagi saya untuk terus bekerja keras dan mengingatkan bahwa kehidupan setiap orang, dalam beberapa hal, dipengaruhi oleh kanker," katanya.
"Sangat penting bahwa kita tidak membiarkan penelitian melambat dan terus maju dengan penemuan yang pada akhirnya menyelamatkan nyawa."










