Virus corona: Sejangkauan Tangan, gerakan swadaya berbagi sayur kepada warga saat pandemi

Sumber gambar, Furqon Himawan
Pada masa pandemi ini, seorang pria berinisiatif membagi-bagikan paket sayuran kepada orang-orang yang membutuhkan di Yogyakarta sejak awal April lalu. Bantuan swadaya yang melibatkan petani dan kalangan lainnya ini menginspirasi banyak orang sehingga gerakan bernama Sejangkauan Tangan tersebut kemudian menular ke sejumlah daerah di luar Yogyakarta.
Pagi itu persimpangan Kampung Kutu Wates, Desa Sinduadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, terlihat berbeda dari biasanya. Pagar besi sebuah kedai kopi yang berada di pojok jalan, penuh dengan cantelan kantong plastik berisi sayuran. Sejumlah warga yang melawatinya pun tak sungkan-sungkan mengambil.
"Di masa pandemi ini, banyak yang menganggur. Mau masak tidak ada [bahan makanan]. Eh kok ada yang menggantungkan bungkusan sayur. Saya ambil sawi dan tomat, jadi sekarang saya bisa masak," kata Musidah, seorang warga setempat, Jumat (24/07).
Adalah Arief Winarko, orang yang menggantungkan plastik berisi sayur-mayur itu. Pria berusia 39 tahun itu melakukan aktivitas tersebut sejak awal April.
Awalnya gerakan berbagi itu dia lakukan bersama keluarga dan teman dekatnya. Sekarang, gerakan berbagi sayuran yang bernama Sejangkauan Tangan, telah melebar ke sejumlah daerah bahkan sampai ke luar DIY.
"Di luar DIY ada di Samarinda dan sejumlah daerah di Jawa Barat," ujar Wiwin kepada wartawan di Yogyakarta, Furqon Ulya Himawan, yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.
- Program swadaya masyarakat 'cantelan', dari sampah daur ulang jadi bantuan bagi ibu hamil
- Kisah gerakan berbagi penghasilan saat pandemi, 'jangan anggap pemerintah penolong yang utama'
- Pemerintah akan beri insentif karyawan swasta dengan gaji di bawah Rp5 juta per bulan, pengamat: 'Bagaimana mengawasinya?'
- 'Resesi di depan mata', petani 'paling terdampak' harus hadapi 'harga yang hancur'
Bermula dari keresahan Arief yang melihat banyaknya masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19. Dia teringat, pada masa awal-awal pandemi, sejumlah kampung di DIY ditutup untuk menghindari pesebaran virus Covid-19 termasuk di kampungnya. Saat itu tak sedikit warga yang kehilangan pekerjaan sehingga mengalami kesulitan untuk mencukupi keperluan rumah tangga.
Melalui hasil penjualan kedai kopinya, Arief memulai gerakan berbagi untuk sesama. Dia ingin memberikan sesuatu kepada warga dengan apa yang dia miliki, tapi bantuannya harus tepat sasaran saat pandemi. Lalu terpikirlah untuk membagikan sayur-mayur.
"Banyak mengandung gizi dan vitamin," katanya.

Sumber gambar, Furqon Himawan
Arief memilih membagikan sayur karena kandungan gizi dan vitamin pada sayuran dapat menjaga kesehatan selama pandemi, terlebih untuk anak-anak.
Selain banyak kandungan gizi, sayuran harganya terjangkau sehingga Arief yang juga mengalami dampak pandemi masih bisa membeli untuk berbagi. "Bergizi, murah, dan mudah," katanya.
Mulailah Wiwin mencari tempat untuk membeli sayur dengan harga terjangkau. Saat itu banyak pasar yang tutup. Ia lalu teringat pada kelompok petani di Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Daerah itu adalah salah satu penghasil sayur di Jawa Tengah.

Sumber gambar, Furqon Himawan
Dari lereng Merapi ke cantelan pagar
Awal April, tepatnya pada Sabtu (09/04) malam sekitar pukul 08.00, sayur pesanan Arief dari desa yang terletak di lereng Gunung Merapi, datang. Namun dia harus mengambilnya ke luar kampung karena akses jalan masuk ke kampungnya ditutup.
Saat itu ada ada lima karung berisi sayur-mayur. Ada sawi, kubis, kembang kol, wortel, kancang panjang, dan jenis sayuran lainnya. "Itu pertama kali, saya masih ingat," kata Arief.
Arief kemudian membungkus sayur tersebut bersama temannya. Ada 100 bungkus plastik berisi sayur. Bungkusan-bungkusan itu dia cantelkan saat itu juga di pagar kedai kopinya yang terletak di persimpangan Kampung Kutu Wates. Dan satu persatu warga yang lewat mengambilnya secara cuma-cuma.
"Kami hanya ingin berbagi di tengah pandemi, mereka senang kami pun senang," katanya.
Respons masyarakat yang gembira dengan adanya pembagian sayur secara gratis membuat Arief semakin semangat. Dia lalu menghubungi teman-temannya untuk ikut dalam gerakan yang dia namai Sejangkauan Tangan, untuk membagikan sayur secara gratis ke masyarakat.

Sumber gambar, Furqon Himawan
Gerakan Sejangkauan Tangan pun cepat menyebar lewat media sosial. Beberapa teman Arief menghubunginya dan ikut berdonasi. Sejangkauan Tangan pun semakin melebar ke desa-desa lain di Yogyakarta, seperti di daerah Mojosari, Patangpuluhan, Sidikan, Mlangi, Sawahan, Cokrokusuman, dan Cabean.
Di luar DIY, gerakan Sejangkauan Tangan juga telah cepat melebar sampai di Samarinda, Kalimantan Timur; Depok, Jawa Barat; dan DKI Jakarta.
"Akhirnya kami disupport banyak orang dan teman-teman yang ikut berdonasi," tutur Arief yang mengaku saat memulai gerakan merogoh koceknya sendiri.

Sumber gambar, Furqon Himawan
Salah satu teman Arief yang tergerak untuk ikut menyumbang dan terlibat dalam gerakan Sejangkauan Tangan adalah Hendra.
Pria yang berbisnis di bidang sablon pakaian itu menjadi koordinator posko Sejangkauan Tangan di Mlangi-Sawahan, Desa Nogotirto, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, DIY.
Di situ, seminggu tiga kali, Sejangkauan Tangan membagikan mencantelkan puluhan bungkus sayur di pagar yang terletak di pertigaan jalan.
"Senin, Rabu, Jumat, kalau awal-awal setiap hari. Biar tidak jenuh," kata Hendra,
Hendra mengaku tergerak ingin ikut berbagi sayur-mayur lantaran banyak orang yang membutuhkan di masa pandemi terutama untuk asupan gizi dan nuturisi. Warga sekitar sangat antusias, bahkan mereka ikut berbagi dengan mencantelkan bungkusan berisi bahan beras atau kerupuk.
"Mereka juga ikut berbagi dan mencantelkan bungkusan," ujar pria berusia 39 tahun itu.
Melibatkan petani dalam berbagi
Pemilihan isi bungkusan berupa sayur membawa angin segar kepada para petani di Desa Sumber. Pasalnya selama masa pandemi, hasil panen petani tidak bisa terjual dengan maksimal.
"Hasil panen tidak bisa terjual karena banyak daerah dan pasar yang ditutup, pembatasan wilayah," kata Untung Pribadi (42), petani dari Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Menurut Untung, biasanya hasil panen mereka jual ke pedagang lokal atau ke pasar dan dari pasar didistribusikan ke sejumlah kabupaten lain. Namun hal itu tidak bisa dia lakukan di masa pandemi. Akibatnya banyak sayur yang busuk dan dibuang.
"Atau kalau terjual, harganya sangat murah. Kembang kol yang biasanya Rp2.000 perkilo, cuma dihargai Rp500an," ujar Untung.
- Tradisi kuno Turki untuk diam-diam membantu mereka yang kesusahan
- Cerita angkatan 2020: 'Tak juga dapat kerja' hingga 'survive' dengan bisnis sendiri
- 'Data tak akurat hingga orang meninggal dapat bansos' problem 'lambannya' serapan bansos Covid-19
- 'Susah sinyal' dan 'berat beli paket data': Kisah keluarga di Jakarta yang tidak punya smartphone untuk belajar di rumah

Sumber gambar, Furqon Himawan
Fakta itu diamini petani lainnya di Desa Sumber, Setyoko (32). Dia mengakui petani mengalami kerugian karena dampak pandemi. "Masak sawi hanya dihargai Rp500,- per kilonya?"
Namun dengan adanya gerakan Sejangkauan Tangan yang langsung melibatkan petani untuk mendistribusikan hasil panennya, Setyoko mengaku hasil panen petani bisa terjual.
Harganya pun tidak merugikan petani karena Sejangkauan Tangan membeli dengan harga di atas harga pasar. Misalnya, jika tengkulak membelinya dengan harga Rp500, maka Sejangkauan Tangan membelinya dengan harga Rp1.000.
"Mereka membeli dengan harga yang bisa menghargai jerih payah kami sebagai petani. Walaupun tidak seperti hari biasanya tapi kami cukup terbantu," kata Setyoko.
Setyoko, Untung, dan petani lainnya lantas mengumpulkan hasil panen sayur-mayur mereka untuk dijual ke gerakan Sejangkauan Tangan. Untung merasa bahwa hubungan dengan gerakan itu tak hanya bermotif bisnis, tapi juga solidaritas sosial.
"Gerakan itu sangat bagus dan membantu kami dengan membeli hasil panen. Makanya kami juga ikut berdonasi semampu kami. Karena kita punyanya sayuran ya nyumbang sayuran," kata Untung.

Sumber gambar, Furqon Himawan
Pelibatan petani secara langsung dalam gerakan Sejangkauan Tangan, diakui Arief memang untuk meringankan beban mereka. Sebab, pada masa pandemi petani sulit menjual hasil panennya dan mereka rugi besar.
"Kami ingin hasil panen terjual dan petani mendapatkan keuntungan," katanya.

Sumber gambar, Furqon Himawan
Arief tak tahu sampai kapan gerakan Sejangkauan Tangan akan terus berlangsung, namun dia bertekad selama masa pandemi dan masih ada yang berdonasi, dia akan terus mencantelkan bungkusan sayur di pagar kedai kopinya.
"Ini adalah upaya kecil kami berbagi di masa pandemi untuk kemanusiaan. Berbagi tanpa tanpa membeda-bedakan, apapun latar belakangnya. Kita semua berbagi untuk kemanusian. Sayur for everyone," ucap Wiwin.
Jika dihitung sejak awal Sejangkauan Tangan mulai berbagi, Sabtu 4 April, gerakan itu sudah berlangsung lebih dari 100 hari dan sudah lebih dari 15.000 bungkus sayur yang mereka bagikan kepada warga.
"Semoga kami diberi kesehatan dan bisa tetap membagikan sayur dari petani kepada masyarakat," pungkas Arief.












