'Susah sinyal' dan 'berat beli paket data': Kisah keluarga di Jakarta yang tidak punya smartphone untuk belajar di rumah

Siti Maslaha dan Alif

Sumber gambar, Resty Woro Yuniar/BBC

Keterangan gambar, Siti Maslaha dan Alif harus meminjam ponsel anggota keluarga agar Alif bisa belajar daring.
    • Penulis, Resty Woro Yuniar
    • Peranan, BBC News Indonesia

Program belajar dari rumah yang berkepanjangan akibat pandemi virus corona membuat sejumlah orang tua murid, terutama dari kelas sosial ekonomi bawah, gusar.

Pasalnya, agar program pembelajaran online atau daring berjalan efektif, mereka membutuhkan telepon pintar dan koneksi internet yang mumpuni.

Kedua hal tersebut tidak dimiliki oleh Siti Maslaha dan anaknya, Alif, yang kini duduk di kelas 3 SD. Untuk belajar daring, Alif memakai ponsel pintar tantenya, adik ipar Siti.

"Belum bisa kebeli [HP], karena kita buat [memenuhi kebutuhan] harian saja belum mencukupi. Bapaknya juga kan pinjam HP bosnya," ujar Siti.

Siti, yang sehari-hari bekerja sebagai buruh cuci, mengatakan sebelum pandemi, suaminya bekerja sebagai supir antar jemput anak-anak sekolah. Usai sekolah diliburkan, ia bekerja sebagai penjaga empang di sebuah tempat pemancingan, yang penghasilannya tidak menentu.

Sinyal internet 'susah'

Siti dan Alif tinggal di sebuah rumah petak berukuran 2x3 meter di sebuah gang sempit di bilangan Rawamangun, Jakarta Timur. Meski memiliki dua lantai, rumah keluarga Siti sangat sederhana dan hampir tidak ada ruangan yang cukup bagi enam penghuninya yang mencakup adik ipar Siti dan anaknya.

Rumah Siti terletak di gang sempit di Rawamangun, Jakarta Timur

Sumber gambar, Resty Woro Yuniar/BBC

Keterangan gambar, Rumah Siti terletak di gang sempit di Rawamangun, Jakarta Timur.

Gang masuk ke rumahnya juga sangat sempit sehingga tidak ada sinar matahari yang masuk ke rumah. Lokasi rumah yang terhadang beberapa rumah lain menyebabkan sinyal telekomunikasi kembang-kempis, menghambat proses pembelajaran bagi Alif.

"Kadang-kadang [internetnya] bisa, kadang-kadang gak. Kadang-kadang sih cari sinyal dulu di luar sebentar, pas sudah dapat ke sini lagi….[Sinyal internet] itu susah," ujar Alif.

Hal yang sama dirasakan oleh tetangga Siti, Jenny Tamara Tania Adam. Jenny kini meminjam HP kakaknya agar anak pertamanya, Joshua, dapat belajar daring dan mengakses Google Classroom.

Anak keduanya, Jeaslien, terpaksa dititipkan di rumah sang tante di Tangerang agar ia juga mendapat akses ke ponsel pintar lain yang dapat dipakainya untuk belajar.

"Kalau dua-duanya masuk [sekolah daring], tidak seimbang jamnya. HP yang ini kita fokuskan untuk Google Classroom bagi Joshua," ujar Jenny.

Tantangan teknologi tersebut membuat sejumlah wartawan yang tergabung dalam Wartawan Lintas Media untuk membantu mengumpulkan dan mendistribusikan ponsel bekas bagi keluarga-keluarga tidak mampu.

"Kami bertemu banyak keluarga, orang tua, yang curhat, dan kami lihat sendiri juga banyak anak-anak mereka itu yang terancam tidak bisa sekolah, karena program belajar di rumah makin lama makin panjang, dan keluarga ini, yang benar-benar miskin, yang kalau tidak hanya punya satu HP bahkan tidak punya HP sama sekali," kata Margareth Aritonang, salah satu anggota WLM.

Pengeluaran internet 'berat'

Siti Maslaha mengatakan bahwa ia bisa membeli paket internet sampai Rp 120.000 untuk pembelajaran Alif di rumah. Kini Siti dan suami juga harus membayar cicilan ponsel pintar adik suami mengingat ia kehilangan pekerjaan karena pandemi. Penghasilan Siti sendiri Rp1,5 juta per bulan, atau di bawah UMR Jakarta.

Jenny dan Joshua

Sumber gambar, Resty Woro Yuniar/BBC

Keterangan gambar, Jenny Tamara Tania Adam mengaku pengeluaran untuk kuota internet bagi belajar daring 'berat'.

"Di saat Alif belajar pakai Google saya beli pulsa, beli paket [internet], dalam satu minggu [beli] dua kali paketannya, kadang beli paket yang harganya Rp60.000, kalau kita punya uang kita isi paket data seminggu dua kali yang Rp60.000," kata ibu dua anak itu.

Alif mengatakan aplikasi yang dipakainya untuk belajar adalah Google Classroom, WhatsApp, dan Kolase Foto, untuk menggabungkan beberapa foto yang harus diberikan ke gurunya. Menurut Siti, paket internet yang dibelinya kebanyakan habis dipakai untuk Google Classroom.

"Sebenarnya kalau gak buat belajar sih sayang [mengeluarkan uang], tapi karena buat belajar, ya kita bela-belain lah daripada anak kita ketinggalan pelajaran, daripada anak kita sama sekali gak belajar. Uang kita sisihkan buat beli paketan [internet], yang penting anak saya jangan sampai gak sekolah," kata perempuan berusia 41 tahun itu.

Alif, yang bercita-cita menjadi astronot, mengatakan 'kangen' bertemu dengan teman-temannya di sekolah.

"Kalau lagi seperti begini berarti gak bisa main bola. Kadang-kadang bosan [belajar di rumah], pengen ketemu teman-teman," ujar Alif, 9 tahun.

Saat belajar di rumah, terkadang paket internet habis ketika sedang dipakai. Masalah jadi bertambah jika warung pulsa di dekat rumah tutup.

"Kadang warung [pulsa]nya tutup, jadi kita tungguin, terus kita bilang sama gurunya 'bu ini agak terlambat sebentar karena ini belum beli paketannya.' Begitu sudah buka [warungnya)] kita sambung lagi, beli paketan, itu kendalanya, repotnya kalo pas belajarnya, sering banget seperti itu, tidak bisa buka Google," ujar Siti.

Sementara itu Jenny, yang merupakan orang tua tunggal, mengatakan dalam satu bulan ia merogoh paling banyak Rp150.000 untuk beli paket mobile internet. Selama pandemi, Jenny, yang bekerja sebagai petugas kebersihan, mengatakan gajinya dipotong 25% karena hari kerja yang berkurang.

"[Ini] berat, apalagi gajinya gak full, gaji cleaning service kecil, gajinya juga gak UMR, standar rata-rata Rp1,1 juta, apalagi sekarang sudah dipotong, jadi gaji kita per bulan Rp800.000. Untuk beli kuota, apalagi menyisihkan untuk masa depannya [anak-anak] kita juga susah, repot juga," kata Jenny.

Donasi ponsel bekas

Kisah keluarga-keluarga yang sulit menggelar belajar daring dengan lancar tersebut menginspirasi 11 wartawan media di Indonesia yang tergabung dalam Wartawan Lintas Media (WLM) untuk menyumbangkan ponsel bekas bagi anak-anak yang tidak mampu.

Wartawan Lintas Media

Sumber gambar, Handout

Keterangan gambar, Margareth Aritonang (tengah) dan kawan-kawannya di Wartawan Lintas Media saat membuka donasi ponsel-ponsel bekas.

Margareth Aritonang, wartawan The Jakarta Post yang juga salah satu anggota WLM, mengatakan bahwa kelompok ini terdiri dari "kawan yang biasa bertemu di lapangan."

Pada awal pandemi, mereka berencana untuk membuka dapur umum untuk membantu orang-orang tidak mampu, namun karena banyak di antara mereka yang adalah "anak kos", mereka lalu menanggalkan ide tersebut.

WLM lalu memberi dan mendistribusikan sembako dan paket yang berisi makanan, vitamin, masker, dan hand sanitizer bagi keluarga-keluarga yang termarjinalkan seperti "kelompok disabilitas, waria, pengamen, kelompok-kelompok nelayan dan anak-anak autis yang keluarganya sangat sulit secara finansial," kata Margareth.

Dalam proses menjalankan distribusi sembako, kelompok ini melihat situasi di lapangan, di mana banyak keluarga bercerita bahwa anak-anak mereka terancam tidak bisa sekolah di tengah pandemi.

"Kami bertemu banyak keluarga, orang tua, yang curhat, dan kami lihat sendiri juga banyak anak-anak mereka itu yang terancam tidak bisa sekolah, karena program belajar di rumah makin lama makin panjang, dan keluarga ini, yang benar-benar miskin, yang kalau tidak hanya punya satu HP bahkan tidak punya HP sama sekali," ujar Margareth.

Antusiasme donatur rupanya tinggi. Setelah diumumkan lewat media sosial, WLM menerima 88 ponsel bekas layak pakai sampai Sabtu (26/07), kata Margareth.

Permintaan donasi ponsel bekas juga "masuk dari seluruh Indonesia, bahkan sampai ke Papua."

Namun, Margareth mengatakan untuk penyaluran ponsel bekas layak pakai gelombang pertama, yang dijadwalkan pada awal Agustus, telah ditetapkan untuk anak-anak dari keluarga tidak mampu di kampung-kampung kumuh di Rawamangun.

Guna verifikasi data penerima, WLM bekerja sama dengan Valentina Pamarini Nugrahaningsih, salah satu pendiri Rumah Belajar Pelangi Nusantara, yang telah lebih dari 10 tahun memberikan pendidikan gratis bagi anak-anak pemulung dan keluarga tidak mampu di kawasan tersebut.

"Ketika hal ini yang menimpa komunitasku, di mana di dalamnya banyak anak-anak SD dan SMP, entah apakah tangan Tuhan yang bergerak, ada yang hubungi aku, salah satunya WLM yang memberikan ponsel belajar untuk anak Indonesia.

WLM mendata ponsel-ponsel bekas

Sumber gambar, Handout

Keterangan gambar, Sudah ada hampir 90 ponsel-ponsel bekas yang terkumpul.

"Yang aku rekomendasikan adalah Alif dan Joshua, aku usahakan biar mereka dapat HP," ujar Valentina.

Menurut Valentina, Alif dan Joshua adalah dua anak yang rajin datang ke rumah belajarnya dan berprestasi di sekolah.

"Semoga kalau HP ini sudah dipegang ibu, semoga bisa digunakan sebaik-baiknya untuk belajar," kata Valentina kepada Siti.

Margareth mengatakan, kelompoknya menerima donasi dalam tiga bentuk: ponsel bekas layak pakai; uang lewat platform crowdfunding Kitabisa.com yang akan dipakai untuk membeli paket data internet; dan waktu, di mana relawan bisa mendaftar untuk menjadi teman anak-anak tersebut.

"Karena adik-adik ini bingung mau apalagi di tengah pandemi, orang tua dan guru tidak bisa punya banyak waktu untuk membimbing mereka, relawan teman belajar inilah yang memberi konseling, teman yang bisa diajak ngomong dan menemani mereka," ujar Margareth.

Untuk kartu SIM dan paket data bagi ponsel-ponsel bekas tersebut, Margareth mengatakan sudah ada "ada sebuah perusahaan provider yang approach ke kami dan menawarkan bantuan untuk memberikan SIM card gratis dan mereka bersedia membantu registrasi dan memberikan paket data pertama." Ia mengatakan kerjasama ini masih dalam tahap akhir diskusi.

Bagi pembaca yang tertarik menyumbang ponsel bekas bagi para pelajar tidak mampu dapat menghubungi Ghina di 08121091543.