Covid-19 dan gerakan berbagi penghasilan saat pandemi, 'jangan anggap pemerintah penolong yang utama'

Covid-19

Sumber gambar, ANTARA FOTO/YULIUS SATRIA WIJAYA

Keterangan gambar, Warga menerima bantuan sosial (Bansos) tahap dua Provinsi Jawa Barat, di Kelurahan Harapan Jaya, Cibinong, Bogor, Jawa Barat, Kamis (23/07).
    • Penulis, Abraham Utama
    • Peranan, BBC Indonesia
  • Waktu membaca: 6 menit

Didorong semangat gotong royong, sebuah wadah berbagi pendapatan antarwarga digagas sekelompok anak muda untuk menyokong kondisi keuangan para pekerja yang terdampak pandemi Covid-19.

Wadah daring bertajuk Bagirata.id yang diluncurkan awal April lalu itu telah menjadi perantara 'redistribusi kekayaan' lebih dari Rp300 juta kepada lebih dari seribu pekerja.

Lewat medium ini, pengendara ojek online hingga seniman mengaku sudah menerima bantuan uang dari orang-orang yang masih berpenghasilan selama pandemi.

Merujuk riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), mayoritas pekerja yang kehilangan pekerjaan selama pagebluk berusia 15-29 tahun.

Dijalankan dengan kreativitas dan kolektivitas, wadah berbagi non-profit seperti ini dinilai menjadi harapan nyata di tengah program bantuan pemerintah yang kerap terbelit birokrasi dan tidak tepat sasaran.

Indra adalah seorang pramusaji di sebuah hotel di Bandung, Jawa Barat. Saat pembatasan sosial berskala besar diterapkan, tempatnya bekerja berhenti beroperasi. Pemuda ini dirumahkan untuk sementara waktu, tanpa upah.

"Tidak ada pemasukan sama sekali. Akhirnya waktu bulan puasa itu saya bantu jaga warung teman, dari malam sampai subuh. Bayarannya, saya dapat makan satu kali," ujarnya.

Covid-19

Sumber gambar, ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI

Keterangan gambar, Pekerja kelas menengah terancam kehilangan pekerjaan di tengah perlambatan ekonomi.

Indra berkata, ia terus berusaha berpikir positif. Sampai pada 22 Juni lalu, ia diminta menghadap atasannya di kantor. Di akhir pertemuan itu, bukannya bungah, Indra justru kalut.

Manajemen hotel, kata dia, ingin bertemu hanya untuk mengucapkan salam perpisahan. Kontrak kerja Indra berakhir Juni itu. Tidak ada pembaruan.

"Sampai sekarang belum dapat pekerjaan baru. Padahal saya sudah ada rencana lama, bulan September menikah. Biaya menikahnya memang murah, tapi saya tidak tahu bagaimana hidup di bulan-bulan berikutnya," ucapnya.

"Apalagi saya juga punya cicilan untuk bangun rumah orang tua," kata Indra.

Hentikan Instagram pesan, 1
Izinkan konten Instagram?

Artikel ini memuat konten yang disediakan Instagram. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca Instagram kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.

Peringatan: Konten pihak ketiga mungkin berisi iklan

Lompati Instagram pesan, 1

Menurut sosiolog Dorothy A. Miller dalam kajian berjudul The 'sandwich' generation: adult children of the aging yang terbit tahun 1981, Indra masuk kategori generasi roti lapis.

Artinya, seperti yang dijabarkan Miller dalam jurnal terbitan Oxford University Press itu, Indra adalah orang yang terjepit tanggung jawab terhadap orang tua dan keluarga barunya.

Tak lama setelah kalut kehilangan pekerjaan, Indra mendapat info tentang Bagirata.id dalam obrolan dengan kawan-kawannya.

Dia lalu mempelajari skema kerja wadah berbagi itu. Harapannya mendapat bantuan finansial meninggi.

Namun yang dia tunggu-tunggu tak kunjung tiba. Baru belakangan, ia baru sadar bantuan sebesar Rp250.000 masuk ke akun dompet digitalnya.

"Uang segitu bisa buat makan seminggu. Tapi setelah pikir-pikir, saya mau gunakan uang itu untuk jualan pulsa. Saya numpang jualan di warung teman," kata Indra.

"Akhirnya saya buat spanduk. Alhamdulilah meskipun sehari delapan transaksi, hasilnya bisa buat makan," tuturnya.

Covid-19

Sumber gambar, ANTARA FOTO/DHEMAS REVIYANTO/

Keterangan gambar, Menurut riset peneliti LIPI, Lengga Pradipta, kebanyakan orang yang kehilangan pekerjaan selama pandemi Covid-19 di Indonesia berada di sektor informal, berusia 15-29 tahun.

Apa itu Bagirata.id?

Salah satu inisiator wadah ini, Lody Andrian, menyebut Bagirata.id merupakan wadah yang menghubungkan orang-orang berpenghasilan dengan para pekerja yang terdampak pandemi.

Karena bukan situs bisnis dan dijalankan secara sukarela, Lody menyebut tidak ada aliran dana yang masuk ke kantong Bagirata.id. Distribusi dana mengalir langsung dari akun dompet digital pemberi ke penerima dana.

"Kami gunakan diksi redistribusi kekayaan, bukan sumbangan atau donasi. Kami mau ajak orang untuk bergotong-royong. Yang punya privilese sadar dan lakukan sesuatu demi kepentingan kolektif," ucapnya.

"Dalam krisis seperti ini, kekayaan hanya terdistribusi ke orang-orang yang profesinya tidak terdampak. Kita semua rasakan pandemi, tapi dampaknya bisa beda-beda."

"Semangat kolektivisme itu yang ingin kami fasilitasi," kata Lody.

Bagi Rata

Sumber gambar, LODY ANDRIAN

Keterangan gambar, "Kami memanfaatkan data pekerja yang terdampak pandemi menjadi gerakan nyata," kata Lody Andrian.

Lody berkata, Bagirata.id menyiasati pendataan pekerja korban pandemi yang disebutnya kerap tidak berujung bantuan sosial yang merata.

Di Bagirata.id, data pekerja yang membutuhkan sokongan finansial diunggah dalam bentuk cerita personal bergambar. Tujuannya, kata Lody, memicu empati publik sehingga terdorong untuk berbagi.

"Banyak lembaga mengumpulkan data orang-orang yang terdampak pandemi, terutama lembaga yang katanya mau memberikan bantuan langsung," tuturnya.

"Beberapa kawan kami juga didata. Mereka berekspektasi bantuan itu bisa jadi jaring pengaman saat kehilangan penghasilan."

"Tapi ternyata hasil pendataan itu nihil. Itulah pemantik utama kami, membuat pengumpulan data berlanjut ke aksi nyata," ujar Lody.

Hentikan Instagram pesan, 2
Izinkan konten Instagram?

Artikel ini memuat konten yang disediakan Instagram. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca Instagram kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.

Peringatan: Konten pihak ketiga mungkin berisi iklan

Lompati Instagram pesan, 2

Bagaimana cara kerja wadah ini?

Sasaran wadah ini adalah pekerja di delapan sektor industri yang terguncang pandemi, antara lain perhotelan, jasa makanan dan minuman, seni pertunjukan, tekstil, dan jasa kebersihan.

Dalam proses verifikasi yang dilakukan Lody dan tiga insiator Bagirata.id lainnya, calon penerima dana wajib mengisi beberapa data, seperti akun media sosial dan cerita singkat situasi yang dihadapi.

Jika lolos, akun media sosial mereka akan ditampilkan dalam profil yang bisa dilihat calon pemberi dana. Dengan mekanisme itu, Lody berharap publik turut bisa mengawasi calon penerima dana.

Jumlah maksimal yang bisa diterima seorang penerima dana adalah Rp1,5 juta. Nominal itu diambil dari ketetapan standar hidup layak dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No.13/2012.

Di sisi lain, saat hendak mendistribusikan bantuan, calon pengirim akan mendapat 10 profil penerima dana. Seluruh profil itu diklaim Lody muncul secara acak, sesuai jumlah exposure dalam sistem Bagirata.id.

Proses distribusi dana dapat dilakukan di tiga dompet digital, yaitu Gopay, Dana, dan Jenius--langsung antara pengirim dan penerima.

Covid-19

Sumber gambar, ANTARA FOTO/ARIF FIRMANSYAH

Keterangan gambar, Warga antre mengambil Bansos tunai di Kantor Pos Kota Bogor, Jawa Barat, Jumat (17/07).

Seberapa masif gerakan gotong-royong ini?

Saat artikel ini ditulis, 6 Agustus lalu, sebanyak 1.075 orang sudah menerima dana dalam wadah ini.

Selain Indra yang berkisah di awal artikel ini, ada pula Natasha Tontey. Dia adalah pekerja seni pertunjukan. Natasha dianugerahi Young Artist Award pada ArtJog tahun 2019, salah satu pagelaran seni paling ternama di Indonesia.

Akibat pandemi, kata Natasha, tidak ada kejelasan tentang kelanjutan empat pameran dan dua program residensi ke luar negeri yang sedianya bakal ia jalani tahun 2020.

Dampaknya, Natasha kehilangan seluruh sumber pemasukannya. Uang yang dia gunakan untuk membuat karya pun urung diganti penyelenggara pameran.

"Pertama kali saya lihat wadah ini di Instagram. Menarik sekali aksi solidaritasnya. Platform ini jadi obrolan orang-orang di sekitar saya," kata Natasha.

"Tadinya saya malu untuk mendaftar, tapi bagaimana juga, pandemi membuat orang-orang seperti saya jadi rentan," tuturnya.

Dan Bagirata.id bukan satu-satunya upaya akar rumput yang digagas untuk menopang para pekerja di tengah pandemi.

Natasha berkata, ia juga menjadi peserta dapur umum kolektif yang didirikan MES56, sebuah perkumpulan seniman fotografi kontemporer di Yogyakarta. Aksi solidaritas ini menyediakan makanan sehat gratis untuk siapapun selama pandemi Covid-19.

Hentikan Instagram pesan, 3
Izinkan konten Instagram?

Artikel ini memuat konten yang disediakan Instagram. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca Instagram kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.

Peringatan: Konten pihak ketiga mungkin berisi iklan

Lompati Instagram pesan, 3

"Gerakan seperti ini membuat saya berpikir bagaimana ketimpangan bisa terjadi dan bagaimana solidaritas bisa dilakukan dari hal kecil," ujar Natasha.

"Buat saya, rakyat harus saling bantu tanpa harus saling tunggu. Yang bisa dilakukan, lakukanlah sekarang. Saya percaya pada aksi solidaritas," ucapnya.

Bagaimana agar berkelanjutan?

Sebesar 68% muda-mudi Indonesia dari generasi sandwich mengalami penurunan pendapatan selama pandemi Covid-19. Temuan itu muncul dalam survei akhir April lalu, yang dilakukan Jakpat, sebuah platform jajak pendapat berbasis di Yogyakarta.

Data itu sejalan dengan pendapat Lengga Pradipta, akademisi di Pusat Penelitian Kependudukan LIPI. Ia berkata, pekerja yang paling tergoncang selama pandemi bergiat di sektor informal, mayoritas berusia 25-40 tahun.

Beruntung, kata Lengga, muda-mudi Indonesia tidak cuma kreatif, tapi memiliki modal kolektif berupa tradisi gotong-royong.

"Subsidi silang adalah kapital masyarakat Indonesia. Kultur kita sejak lama adalah gotong royong. Kalaupun bentuknya sekarang berbeda, misalnya lewat media sosial, ini sangat penting," kata Lengga.

"Generasi muda Indonesia terkenal suka bantu teman atau collective action. Ini sangat bisa dimanfaatkan karena kita memang punya modal itu," ujarnya.

Covid-19

Sumber gambar, ANTARA FOTO/MOCH ASIM

Keterangan gambar, Relawan menunjukkan bantuan makanan dan minuman gratis yang akan diberikan kepada warga di Bundaran Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Jawa Timur, Selasa (7/4).

Lengga mengatakan, agar bertahan, bukan cuma selama pandemi Covid-19, wadah semacam Bagirata.id perlu secara rutin mengkampanyekan semangat gerakan solidaritas di media sosial.

Lengga menyebut itu sebagai pengingat nilai yang diyakini sejak lama oleh masyarakat Indonesia.

"Di konstitusi, kita dijaga negara dan negara harus hadir. Tapi kita perlu menganggap negara ada di baris kedua sebagai pihak yang bisa membantu kita," kata Lengga.

"Yang membantu kita pertama kali adalah orang-orang di sekeliling kita," ujarnya.

Covid-19

Sumber gambar, ANTARA FOTO/RAISAN AL FARISI

Keterangan gambar, Petugas mengemas sembako dalam satu dus di Gudang milik Perum Bulog di Gedebage, Bandung, Jawa Barat, Rabu (08/07).

Lantas akan menjadi apa wadah berbagi seperti Bagirata.id setelah pandemi berakhir? Tetap untuk kepentingan publik, klaim Lody Andrian.

"Kami tidak punya badan hukum. Ini inisiatif warga untuk membuat medium yang bisa digunakan orang banyak," ujarnya.

"Kami tidak punya kepentingan apapun di belakang. Tendensi kami memfasilitasi redistribusi kekayaan jika terjadi krisis-krisis lain," kata Lody.