Mengharukan, seorang ibu 'menjumpai' mendiang putri ciliknya menggunakan teknologi

jang ji-sung

Sumber gambar, MBC

Keterangan gambar, Jang Ji-sung menginginkan kesempatan untuk mengucapkan salam perpisahan kepada mendiang putrinya.
Waktu membaca: 3 menit

Bagi sebagian orang, duka begitu menghancurkan hati dan bagian dari hidup yang tidak bisa dihindari. Apalagi jika duka itu disebabkan oleh kematian seorang anak, keluarga yang ditinggalkan akan sangat sulit melipur lara.

Seorang ibu di Korea Selatan bernama Jang Ji-sung telah menggunakan realitas virtual untuk membantunya mengatasi rasa kehilangan setelah putrinya tiada pada 2016 silam.

Na-yeon, anak ketiga Jang, meninggal dunia secara mendadak pada usia tujuh tahun akibat penyakit darah yang tidak bisa disembuhkan.

Realitas virtual yang digunakan Jang, diciptakan sebuah tim produksi stasiun televisi. Mereka menghabiskan waktu selama delapan bulan demi menciptakan gambaran Na-yeon dalam wujud tiga dimensi.

Teknologi yang digunakan adalah motion capture untuk merekam gerakan seorang aktor cilik—yang belakangan dipakai untuk menciptakan ulang gerakan-gerakan Na-yeon—serta memproduksi ulang suaranya.

Tim itu juga merancang sebuah taman virtual tempat sang ibu dan putrinya bertemu, berdasarkan taman sungguhan yang pernah mereka kunjungi.

Film dokumenter berjudul Meeting You itu, ditayangkan perdana oleh stasiun televisi MBC dan telahdisaksikan jutaan warga Korsel.

Adegan paling mengharukan dalam film dokumenter itu adalah ketika ibu dan putrinya "berjumpa" lagi. Ketika itu, Na-yeon berlari ke arah Jang Ji-sung seraya berkata: "Ibu ke mana saja? Apakah ibu memikirkanku?"

Jang Ji-sung lantas menangis terisak sembari mencoba memeluk gambaran realitas virtual Na-yeon. Adegan haru itu disaksikan kru produksi televisi sambil tersedu.

Anggota keluarga lainnya yang berada di lokasi jelas tampak emosional.

'Berjumpa' orang-orang tercinta yang sudah tiada

Film dokumenter ini memicu perdebatan mengenai dampak moral dan psikologis dari "perjumpaan" dengan orang-orang tercinta yang sudah tiada.

Meski sebagian orang merasa cara itu merupakan bentuk katarsis, lainnya menilai metode tersebut membuat orang-orang tidak bisa melanjutkan hidup. Sejumlah orang bahkan menuduh MBC mengeksploitasi perasaan seorang ibu yang berduka.

Tayangan video dokumenter berdurasi 10 menit itu telah diunggah ke YouTube dan telah disaksikan lebih dari 13 juta kali serta dikomentari 19.000 kali.

Beberapa warganet mengutarakan keprihatinan bahwa pengalaman Jang saat "berjumpa" mendiang putrinya membuat dia tambah sedih dan kehilangan harapan. Lainnya menduga-duga apakah pengalaman itu masuk kategori "surga atau neraka" bagi Jang.

korea

Sumber gambar, MBC

Keterangan gambar, Kru produksi menghabiskan delapan bulan untuk menciptakan hologram Na-yeon dan skenario realita virtual, tempat ibu dan putrinya bertemu.

Ketika ditanya mengenai pengalamannya, Jang Ji-sung mengaku merasa terbantu. Setelah kematian Na-yeon, dia mentato nama putrinya tersebut ke tubuhnya dan menaruh berbagai foto sang mendiang di berbagai tempat di rumahnya. Dia bahkan memakai kalung liontin berisi abu jenazah putrinya.

Dalam mimpinya, kata Jang, Na-yeon tampak sedih. Namun, dalam perjumpaan virtual ini, si bocah tersenyum.

Beberapa psikolog yang diwawancarai BBC Korean mengatakan pengalaman Jang Ji-sung bisa membantunya menangani trauma akibat kehilangan putrinya secara dini.

"Itu sangat membantu orang-orang yang punya pengalaman duka tak terduga untuk mengucapkan perpisahan secara layak setelah mengalami sakit akut," kata Go Sun-kyu, dari Institut Kesehatan Mental milik Universitas Korea.

Dong-Gwi Lee, dari Universitas Yonsei, menjelaskan kepada BBC, bahwa realitas virtual dan realitas tertambah sudah digunakan untuk merawat pasien dengan gangguan kecemasan, fobia, pikun, dan depresi.

Proyek realitas virtual di Inggris menampilkan ulang peristiwa penahbisan Ratu Elizabeth II pada 1953 untuk memicu memori pada pasien-pasien lansia dengan kepikunan. Saat mereka seolah dibawa kembali ke masa lalu, mereka mengingat kenangan-kenangan di alam bawah sadar.

Akan tetapi, menurut Prof. Dong-Gwi Lee, eksperimen-eksperimen yang melibatkan realitas virtual dan kedukaan perlu disertai konseling untuk mencegah efek samping, seperti kedukaan yang bertambah.

Ji-sung

Sumber gambar, MBC/ YouTube

Keterangan gambar, Beberapa psikolog mengatakan pengalaman Ji-sung mungkin membantunya menangani trauma akibat kehilangan putrinya.

Perpisahan akhir

Lee Hyun-seok, selaku pengarah acara realitas virtual yang mempertemukan ibu dan mendiang putrinya, mengatakan kepada BBC Korean bahwa timnya melakukan pendekatan pada gagasan tersebut dengan sangat hati-hati, mulai dari tahap perencanaan hingga akhir. Semuanya didasari kenangan Jang Ji-sung pada Na-yeon.

Mendekati akhir film, Na-yeon memberikan bunga kepada ibunya kemudian dia berbaring dan berkata dia letih. Dia mengatakan dirinya akan selalu mencintai ibunya.

Baik sang ibu maupun Na-yeon mengucapkan salam perpisahan dan Na-yeon tertidur. Dia lantas berubah menjadi kupu-kupu putih yang secara perlahan terbang menjauh.