Paus tolak angkat laki-laki yang sudah menikah di Amazon untuk menjadi pastor dan kisah laki-laki beristri yang diterima menjadi romo

Sumber gambar, Reuters
Paus Fransiskus memutuskan menolak penasbihan laki-laki yang telah menikah untuk menjadi pastor Katolik di kawasan Amazon yang disebut-sebut kekurangan pastor.
Para uskup mendukung langkah ini tahun lalu, tapi agar keputusan ini bisa dilaksanakan, perlu persetujuan Paus.
Menurut aturan gereja, pastor Katolik harus hidup selibat untuk ditasbihkan, kecuali untuk kasus pendeta Anglikan yang beralih ke Katolik.
Hidup selibat dipandang sebagai pengabdian hidup kepada Tuhan.
Pernyataan Vatikan hari Rabu (12/02) menyebutkan "keadaan di Amazon memberi tantangan kepada kita untuk mengatasi cara pandang terbatas dan tidak membuat kita puas terhadap solusi yang hanya menyelesaikan sebagian saja dari situasi ini".
Bulan Oktober 2019, sinode 184 orang uskup dilaksanakan di Vatikan untuk membicarakan masa depan Gereja Katolik di kawasan Amazon.
Saat itu diusulkan agar para laki-laki yang sudah berumur di Amazon dan yang sudah menikah, diperbolehkan menjadi pastor.
Syaratnya, laki-laki ini harus terpandang dan sebaiknya berasal dari masyarakat adat setempat.
Diperkirakan, 85% desa di kawasan Amazon tidak bisa menyelenggarakan misa setiap minggu karena kekurangan pastor.
Beberapa di antaranya mengaku hanya bertemu pastor setahun sekali.
Namun sebagian yang lebih konservatif seperti di Eropa dan Amerika Utara menolak ide ini.
Mereka berpendapat ini akan mengarah pada penghapusan kehidupan selibat secara keseluruhan di Gereja Katolik.
Paus Fransiskus sebelumnya mengatakan ia mempertimbangkan kemungkinan viri probati (orang yang terbukti keimanannya) untuk menjalankan beberapa tugas-tugas gereja.
Seiring pengumuman hari Rabu (12/02), Paus juga memutuskan untuk tak mengizinkan perempuan menjadi diaken atau pelayan gereja - jabatan yang lebih rendah daripada pastor.
Di pernyataan yang sama, Sri Paus menyerukan agar kawasan Amazon dilindungi karena perannya yang penting dalam mengatasi pemanasan global.
"Kami menuntut diakhirnya penganiayaan dan perusakan Bumi," katanya.


Laki-laki yang menikah dan kemudian menjadi romo terjadi di Gereja Katolik, namun dalam situasi yang sangat khusus.
Inilah yang terjadi dengan Simon Chinery, seorang romo Katolik yang telah menikah selama 35 tahun.
Ia menceritakan kisahnya kepada wartawan BBC untuk liputan agama, Lebo Diseko, di ruang tamu di rumahnya yang sangat tertata rapi.
Setelah beberapa tahun bekerja sebagai ilmuwan, lalu menjadi ahli komputer, ia menjadi pendeta di Gereja Anglikan saat usianya 40-an.
"Beberapa tahun sesudah ditasbihkan di Gereja Anglikan, Paus Benediktus mengajukan sebuah tawaran," katanya.
Usulan itu berupa izin dari Gereja Katolik Roma yang membolehkan pendeta Anglikan yang tidak puas dengan penasbihan perempuan untuk menjadi pastor Katolik.
Mereka akan tetap dibolehkan memelihara radisi dan liturgi.
Yang penting, pendeta Anglikan bisa beralih ke Katolik, tetap menikah dan menjadi pastor Katolik.
Tawaran Sri Paus

Sumber gambar, AFP
Tanggal 20 Oktober 2009, Paus Benediktus XVI mengumumkan struktur khusus di dalam Gereja Katolik yang diatur bagi pendeta Anglikan yang ingin pindah.
Romo Simon mengatakan ia dan istrinya sedang "merayakan ulang tahun pernikahan ke-25 di Istanbul ketika anaknya mengirim pesan 'cepat lihat internet!'".
"Kami berdua melihat berita, lalu mempertimbangkan tawaran itu. Lalu diskusi dengan teman-teman dan klerus menjadi nyata".
Dua tahun kemudian seksi khusus di Gereja Katolik ini jadi kenyataan - yaitu Personal Ordinariate of Our Lady of Walsingham - dan Romo Simon bergabung.
Saya tanya bagaimana perasaan istrinya Joan tentang keputusan ini.
"Ia bagian dari keputusan ini. Saya tak akan ditasbihkan sebagai pastor Katolik jika ia tak memberi izin."
"Ia harus menulis kepada Sri Paus (Benediktus XVI) bahwa ia setuju dengan keputusan saya".
"Seluruh proses ke Geraja Katolik ini kami lakukan bersama, dengan banyak diskusi dan doa."
Selibat merupakan 'standar emas kepastoran'

Dari perbincangan, terlihat bahwa Romo Simon dan istrinya merupakan mitra dalam hal pengambilan keputusan di rumah.
Jika begitu, kenapa kepemimpinan perempuan seperti menjadi uskup jadi masalah bagi Romo Simon sehingga ia memutuskan meninggalkan Gereja Anglikan.
Ia berkeras bahwa itu bukan alasan ia pindah.
Sekalipun begitu ia heran pada pertanyaan, "apakah boleh perempuan melakukan pelayanan penasbihan," karena menurut Simon, pendeta itu wakil Yesus Kristus, dan jelas bahwa Kristus adalah seorang laki-laki.
Ia menyatakan alsannya keluar dari Gereja Anglikan karena ingin melihat gereja-gereja bersatu.
"Pada 1970-an dan 80-an, ada harapan besar adanya penyatuan antara Gereja Katolik dan Gereja Anglikan," katanya.
"Sedihnya, harapan itu tak pernah terpenuhi. Kenyataannya, gereja-gereja kini makin menjauh".
"Ketika Paus Benediktus menawarkan dengan murah hati bagi kami untuk bergabung sembari mempertahankan tradisi dan praktik Anglikan, saya sangat senang menerimanya".

Bagaimana dengan isu soal selibat?
"Selibat selalu dilihat sebagai standar emas bagi kepastoran," katanya.
"Yesus Kristus selibat dan mengabdikan diri sepenuhnya untuk misinya. Seorang pastor dimaksudkan mewakili Kristus di altar dan ini adalah perwakilan yang terbaik," katanya.
Ia menyatakan bahwa dalam tradisi Katolik di Timur, pastor boleh menikah dan syarat selibat ini "bisa dikecualikan dengan alasan-alasan yang baik".
Pastor yang menikah di Amazon?
Bagaimana menurut Romo Simon tentang usulan bahwa pastor Katolik di Amazon boleh menikah?
Beberapa desa di kawasan Amazon menyatakan hanya bisa dapat akses kepada pastor setahun sekali.

Sumber gambar, Getty Images
Hanya seorang pastor yang bisa menasbihkan Ekaristi, yang merupakan bagian kunci dari misa, dan ini menjadi bagian vital kehidupan spiritual Katolik.
Usulan untuk Gereja Katolik untuk memecahkan persoalan ini adalah untuk menasbihkan seorang yang terpandang yang berasal dari komunitas penduduk asli sebagai pastor Katolik.
Orang-orang terpandang ini biasanya sudah punya keluarga.
Pendapat yang mendukung penasbihan ini beranggapan bahwa penasbihan mereka lebih baik ketimbang jemaat tidak bisa melakukan misa.
Dukungan untuk selibat
Namun Romo Simon menyatakan "perlu hati-hati".
"Selibat adalah hadiah yang berharga bagi gereja dan segala upaya untuk mengubahnya harus dipikirkan dengan hati-hati."
"Jika orang percaya mereka bisa menikah lalu punya kesempatan untuk menjadi pastor di kemudian hari, ini bisa membuat pemuda lajang mengurungkan niat mereka untuk ditasbihkan".
"Menurut saya, usulan ini terlalu cepat dan belum dipikirkan matang-matang," katanya.
"Tapi itu pendapat pribadi saya. Menurut saya kami tidak punya peran untuk memberi pendapat soal ini. Kami adalah bagian dari Gereja Katolik yang lebih luas".

Sumber gambar, AFP
Saya tanya apakah ada kontradiksi antara pandangannya soal usulan di Amazon ini dengan situasinya sendiri yang sudah menikah.
Katanya, "dalam kasus saya dan berbagai kasus lain di gereja-gereja di Barat jelas sekali dilakukan sebagai pengecualian".
"Perbedannya adalah: apabila ini dijadikan norma".
"Jika begitu, nanti akan muncul daerah lain yang kekurangan pastor lalu dengan alasan, 'karena boleh di Amazon, maka boleh juga bagi kami punya pastor yang menikah'."
Saya tanya, apakah pandangannya ini bukan standar ganda?
"Saya seorang pastor yang menikah, maka akan bodoh kalau saya bilang bahwa tak ada kondisi khusus bagi laki-laki menikah untuk menjadi pastor".
Namun yang penting, menurut Simon, "perlu kearifan untuk menentukan apakah di tempat seperti Amazon kebutuhannya demikian mendesak sehingga mengorbankan prinsip penting soal selibat".
"Ini keputusan yang sulit," katanya.
Apakah dengan begitu Romo Simon merasa bahwa ia kehilangan sebuah anugerah besar, mengingat ia beranggapan bahwa selibat adalah anugerah?
"Ya, saya merasa kehilangan," katanya.
Dan ia melanjutkan, "Saya merasakan kegembiraan menjadi seorang suami dan memiliki keluarga. Saya tak akan menukar hal itu".









