Perjalanan ke gletser 'hari kiamat' untuk mengetahui proses mencairnya Antarktika akibat perubahan iklim

- Penulis, Justin Rowlatt
- Peranan, Wartawan senior masalah lingkungan
Awalnya, tak banyak yang terlihat karena kamera tertutupi lapisan es.
Kamera itu ada di Icefin, sebuah kapal selam kuning yang dioperasikan robot, yang maju perlahan di bawah es.
Air berubah jernih ketika Icefin berada 600 meter di bawah es, di gletser yang paling cepat berubah di dunia.

Tiba-tiba muncul bayangan di atas.
Ini adalah foto pertama dari dunia kita yang sedang berubah.
Icefin mencapai lokasi tempat bertemunya air laut hangat dengan dinding es di depan gletser Thwaites raksasa. Kapal selam ini berada di titik dimana es raksasa mulai mencair.

Sumber gambar, British Antarctic Survey
Gletser 'hari kiamat'
Glaciologists atau ahli gletser menggambarkan Thwaites sebagai gletser "paling penting" dunia, gletser "paling terancam", dan bahkan sebagai gletser "hari kiamat".
Ukurannya kurang lebih sama dengan negara Inggris.
Thwaites telah menyebabkan kenaikan permukaan laut sebanyak 4%, angka tertinggi bagi satu gletser. Data satelit menunjukkan lapisan es ini semakin cepat mencair.
Air yang terperangkap di dalamnya cukup untuk menaikkan permukaan laut lebih dari setengah meter.


Thwaites teronggok seperti batu di tengah Lapisan Es Antarktika Barat.
Namun baru tahun ini penelitian ilmiah berskala besar dilakukan pada gletser di Kutub Selatan itu.
Tim Icefin, bersama-sama sekitar 40 ilmuwan adalah bagian dari International Thwaites Glacier Collaboration, sebuah proyek kerjasama lima tahun Inggris - AS yang memakan biaya sebesar US$5 juta atau Rp68,2 miliar.


Betapa minimnya pengetahuan kita tentang gletser ini. Saya juga baru tahu ketika pergi ke sana.
Saya terbang dari Selandia Baru menuju McMurdo, markas penelitian AS di Antarktika. Salju menutupi landasan sehingga penerbangan ditunda.
Perlu waktu berminggu-minggu bagi tim ilmuwan ini untuk dapat mencapai kamp. Pernah penerbangan dibatalkan sama sekali karena badai yang berlangsung 17 hari berturut-turut.

Apa pentingnya Thwaites?
Antarktika adalah benua paling penuh badai di dunia, dan Thwaites terletak di kawasan paling penuh badai dari Antarktika.
Bahkan untuk ukuran Antarktika pun ia terpencil. Stasiun riset terdekat jaraknya 1.000 kilometer.
Namun penting bagi ilmuwan untuk memahami apa yang terjadi di sini untuk memperkirakan dengan tepat permukaan laut di masa depan.
Es di Antarktika menyimpan 90% air tawar dunia, dan 80% dari es tersebut berada di bagian timur.

Es di Antarktika Timur tebalnya sekitar satu mil, terletak di atas dataran tanah. Es ini bergerak secara perlahan ke arah laut.
Ini berbeda dengan Antarktika Barat yang lebih kecil dan lebih mudah berubah.
Lapisan es di Barat tidak berada di atas tanah. Nyaris seluruh daratan berada di bawah permukaan laut. Jika tak ada es di atasnya, maka Antarktika Barat akan di berada di dasar laut dan yang tampak hanyalah sejumlah pulau.

Saya berada di Antarktika lima minggu sebelum tim peneliti Inggris membawa saya ke bagian ujung gletser.
Tim ini berkemah di atas titik dimana gletser bertemu air laut.
Misi mereka adalah mengebor lapisan es setebal 800 meter di titik dimana gletser mengapung. Ini mereka lakukan untuk mengetahui asal-usul air laut yang melelehkan gletser.
Belum pernah ada yang melakukan misi yang sangat ambisius ini.


Tetapi waktu bagi mereka untuk melakukan penelitian terbatas karena musim panas hanya tersisa beberapa minggu. Setelah itu cuaca Antarktika akan menjadi sangat buruk.

Sumber gambar, David Vaughan
Thwaites berada di dasar laut
Alasan kekhawatiran ilmuwan terhadap Thwaites adalah dasarnya yang miring ke bawah dan terletak di bawah laut.
Artinya, semakin ke pedalaman, semakin tebal lapisan es di Thwaites.
Di titik terdalam, dasar gletser ini lebih dari satu mil di bawah permukaan laut. Di atasnya masih ada lapisan es setinggi satu mil lagi.
Yang terjadi saat ini, air laut hangat mengalir ke pantai ke bagian depan es, sehingga membuat gletser mencair.
Ketika lapisan es pecah dan gletser bergerak mundur, semakin banyak es yang terpapar air laut.


Daratan makin meluas sehingga semakin banyak es yang mencair.
Sementara itu gravitasi membuat bagian belakang es menekan bagian depan yang mencair. Semakin banyak gletser yang mencair, akan membuat es mengalir semakin cepat.

Selain harus terbang ke tempat terpencil, pada peneliti juga memerlukan berton-ton peralatan dan puluhan ribu liter bahan bakar, disamping tenda dan makanan.
Sebagian peneliti berada disana sampai selama lebih dari dua bulan.

Karena jaraknya begitu jauh, mereka harus berkemah di gletser sebelum pesawat dapat mengisi bahan bakar.
British Antarctic Survey membawa ratusan ton bahan bakar dan kargo.
Dua kapal es berlabuh di samping tebing es di kaki Semenanjung Antarktika.

Mengebor es
Para peneliti di perkemahan menggunakan air hangat untuk mengebor es. Dibutuhkan 1.000 liter air, ini berarti mereka harus mencairkan 10 ton es.
Anggota tim menyekop es ke dalam "flubber" - wadah karet seukuran kolam renang kecil, lalu memanaskan air sampai sedikit di bawah titik didih, dan menyemprotkannya ke es.

Namun mengebor lubang 30 cm, menembus es setebal 800 meter tidaklah mudah karena suhu es -25 Celcius sehingga lubang dapat membeku.

Menurut para peneliti gletser begitu cepat mencair kemungkinan disebabkan sejumlah faktor, seperti iklim, cuaca dan arus laut.
Tetapi faktor penentunya adalah air laut hangat yang berasal dari bagian lain dunia.
Ketika Gulf Stream mendingin di antara Greenland dan Iceland, air bergerak turun.
Ini adalah air asin yang membuatnya cukup berat. Tetapi suhunya tetap berkisar pada satu atau dua derajat di atas titik beku.
Air asin berat ini dibawa arus laut dalam bernama Atlantic conveyor sampai ke Atlantik selatan.

Perubahan angin
Arus ini kemudian menjadi bagian dari Arus Lingkar Kutub Antarktika, yang mengalir 530 meter di bawah lapisan air yang jauh lebih dingin.
Suhu air permukaan Antarktika adalah -2 Celcius yang merupakan titik beku air asin.
Para ilmuwan mengatakan Samudra Pasifik menghangat dan ini mengubah pola angin di lepas pantai Antarktika Barat, sehingga menyebabkan air hangat berkumpul di atas lempeng benua.
"Arus di dalam ini jadi sedikit lebih hangat dari permukaan, sekitar satu atau dua derajat di bawah nol, tapi ini cukup panas untuk mencairkan gletser," kata David Holland, ahli kelautan dari New York University yang juga salah satu ilmuwan yang memimpin di misi ini.

Saya seharusnya meninggalkan Antarktika pada akhir bulan Desember, tetapi berbagai keterlambatan yang terjadi membuat pengeboran baru mulai dilakukan pada tanggal 7 Januari.
Saat itu kami diberi tahu bahwa kami tidak bisa lagi menunda penerbangan.

Para peneliti kemudian memberi tahu bahwa mereka berkemah pada teluk kecil es yang dilindungi bukit.
Ketika kami terbang di depan gletser, saya baru menyadari betapa rapuhnya tempat tersebut.

Sebuah kekuatan besar dengan perlahan menghancurkan, mencabik dan memecah es.
Di beberapa tempat lapisan besar es hancur sama sekali, menjadi bongkahan es yang mengapung.
Di bagian lain, tebing es muncuat hampir setinggi 1,6 km dari dasar laut.
Bagian depan gletser selebar 160 km, dan jatuh ke laut sekitar 3 km per tahun.
Skalanya begitu besar dan ini menjelaskan mengapa Thwaites menjadi bagian penting peningkatan permukaan air laut.
Peningkatan tingkat pencairan
Sebagian besar gletser yang mengalir ke laut memiliki "pompa es".
Air laut asin dan pekat sehingga membuatnya berat. Air mencair tawar sehingga membuatnya ringan.
Ketika gletser mencair, air tawar cenderung mengalir ke atas dan membawa air laut yang lebih hangat dan berat.
Saat air laut dalam keadaan dingin, proses ini terjadi sangat lambat. Pompa es biasanya hanya mencair puluhan cm per tahun.
Tetapi air hangat mengubah proses ini.

Para peneliti memastikan air hangat lingkaran kutub berada di bawah gletser. Dan mereka telah mengumpulkan data dalam jumlah sangat besar.
Robot kapal selam Icefin berhasil melakukan lima misi, melakukan sejumlah pengukuran di air di bawah gletser dan mengambil sejumlah foto yang menakjubkan.
Diperlukan waktu bertahun-tahun untuk memproses semua informasi yang dikumpulkan dan menggabungkan temuan ke berbagai model yang digunakan untuk memperkirakan tinggi permukaan air laut di masa depan.
Peningkatan tingkat permukaan air laut
Thwaites memang tidak akan menghilang dengan seketika - para ilmuwan memperkirakan diperlukan waktu beberapa dekade, bahkan kemungkinan lebih dari satu abad.
Tetapi ini seharusnya tidak membuat kita hanya berdiam diri.
Karena peningkatan permukaan air laut setinggi satu meter akan membawa pengaruh besar terkait dengan peningkatan badai serius.


Peningkatan permukaan air laut setinggi 50 cm dapat menyebabkan badai terjadi setiap 100 tahun, tidak lagi setiap ribuan tahun seperti yang terjadi saat ini.
Jika Anda meningkatkannya menjadi satu meter, maka badai kemungkinan akan terjadi setiap satu dekade.
Karbon dioksida yang terus naik, semakin menghangatkan atmosfir dan laut.
Panas adalah energi dan energi menggerakkan cuaca dan arus laut.

Jika jumlah energi meningkat, maka proses global besar sudah pasti akan berubah.










