Perempuan yang menjadi saksi pelelehan gletser akibat perubahan iklim

Sumber gambar, Audrius Stonys
- Penulis, Mercedes Hutton
- Peranan, BBC Travel
Hidup di ketinggian 3.500 meter adalah kesendirian, di mana angin yang berubah-ubah menghela empat musim dalam sehari, membuat waktu serasa elastis. Penanda waktu, hanya terbit dan terbenamnya matahari.
Di jajaran pegunungan Tian Shan utara yang menyusuri tepi Almaty, kota metropolis terbesar di Kazakhstan, berada di ketinggian ini terasa mustahil. Jika tidak karena Aušra Revutaite, seorang ilmuwan Lithuania yang menyebut tempat terpencil ini sebagai rumahnya selama lebih dari 30 tahun.
Pada suatu pagi di bulan Oktober yang dingin, saya berjalan ke pegunungan Tian Shan, menuju ke gletser Tuyuksu, salah satu sumber air tawar utama bagi 1,8 juta penduduk Almaty, dan lebih banyak lagi di luar kota.
Saya tumbuh besar di sebuah pondok ratusan tahun yang terisolasi, dekat dengan daerah hulu sungai di Wales. Suara gemiricik aliran sungai mengiringi kehidupan saya ketika kecil.
Bersama keluarga, saya sering sekali menapaki jalan menuju mata air, yang memikat saya dengan asal usul dan awal segala sesuatu, dan menginspirasi saya untuk melakukan perjalanan.
Di Almaty, saya ingin melakukan perjalanan yang sama, tidak menyadari bahwa di tujuan nanti, saya akan bertemu Revutaite.
Selama 45 menit berkendara ke luar kota, saya menyaksikan raksasa beton dengan arsitektur era Soviet menyerah pada kemiringan pegunungan yang tak kenal ampun, sampai jalan berubah menjadi batu. Pemandu saya, Alexey Raspopov, memarkir kendaraan dan kami bersiap untuk berjalan kaki.

Sumber gambar, Audrius Stonys
Perjalanan kami selama dua jam di pegunungan berlalu dengan cepat, diselingi oleh jeda untuk mengambil napas dan minum air.
Mata saya menyapu jalan setapak untuk mempelajari lanskap kuno di sekitar saya. Di bawah kami, pagi berjalan diwarnai oleh kabut asap cokelat yang perlahan melenyapkan kota metropolitan yang luas dari pandangan.
Di ketinggian 3.500 meter, gletser Tuyuksu berdiri tegak selama berabad-abad. Massa es dan salju kuno yang terkompresi.
"Sekarang sudah jauh lebih kecil, dulu sampai sini," kata Raspopov kepada saya, memperagakan bentangan yang jauh di luar kami, menjelaskan bahwa gletser telah meleleh selama beberapa dekade.
Menurut Maria Shahgedanova, seorang profesor ilmu iklim di Universitas Reading di Inggris, Tuyuksu telah menyusut lebih dari 1 km dalam 60 tahun terakhir. Revutaite, seorang pengamat meteorologi, mengawasi dan mencatat penyusutannya yang disebabkan oleh perubahan iklim.
Di sekitar kami ada kumpulan gubuk dan kakus yang bobrok dan terabaikan. Ketika saya bertanya-tanya bagaimana orang bisa bertahan dalam kondisi yang tampaknya seperti pertapa, Revutaite muncul dari bangunan terbesar, paling tidak bobrok, sekitar 20 meter jauhnya.
Terbungkis dengan pakaian hangat yang mengaburkan identitasnya, dia tampaknya tidak nyaman ketika mendapati dua pengunjung yang mendekatinya.
Dia mengamati kami dengan tidak sabar, sampai ketika mengenali Raspopov, dia tersenyum tipis. Wajahnya layaknya pegunungan; bijak, namun keras kepala.
Ketika kami semakin dekat, saya bisa melihat meja melalui jendela di belakangnya, panjang dan sempit dan ditutupi taplak biru bercorak matahari kuning.
Tumpukan kertas, buku catatan terbuka, dan sesuatu yang tampak seperti seismograf antik menunjukkan bahwa kami telah mengganggunya di tempat kerja.
Dia adalah perempuan yang pendiam. Seseorang yang entah bagaimana tampak betah di lingkungan tidak ramah yang begitu jauh dari kota modern yang saya tinggalkan beberapa jam sebelumnya.
Seekor anjing dan kucing bermain di dekatnya, menawarkan persahabatan mereka yang tanpa kata-kata.

Sumber gambar, Audrius Stonys
Berasal dari Lithuania, Revutaite tiba di Tuyuksu pada tahun 1982, ketika Kazakhstan masih berada di bawah kekuasaan Soviet.
Sebagai bagian dari Jaringan Layanan Pemantauan Gletser Dunia (WGMSN), stasiun pengukuran Tuyuksu didirikan pada tahun 1957. Pengamatan glasiologis dan hidrometeorologis diukur sejak saat itu, menjadikannya sebagai salah satu gletser yang paling lama dipelajari di dunia.
"Memantau gletser dapat memberi tahu kita banyak tentang perubahan iklim," kata Isabelle Gärtner-Roer, ilmuwan senior dalam glasiologi dan geomorfodinamika di Universitas Zurich di Swiss, yang bekerja dengan WGMSN.
"Perubahan keseimbangan massa glasial adalah respons langsung dan tidak tertunda terhadap perubahan iklim atmosfer," tambahnya, menjelaskan bahwa ini pentingnya gletser dalam pemantauan iklim.
"Pencairan gletser telah diakui sebagai salah satu kontributor non-sterik terbesar bagi kenaikan permukaan laut."
Sejak 1972, temuan telah dicatat di Tuyuksu sepanjang tahun, memberi iklim data yang dibutuhkan ilmuwan untuk menyelidiki respons alam terhadap pemanasan global.
Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa penyusutan gletser yang mengkhawatirkan ini bisa punya efek yang menghancurkan dalam beberapa dekade mendatang. Tidak hanya untuk Almaty tetapi juga untuk semua Asia Tengah.
Tanpa Revutaite, yang dalam beberapa tahun sendirian menjalankan stasiun meteorologi, akumulasi statistik komprehensif seperti itu mungkin tidak mungkin terjadi.
"Aušra adalah pahlawan kita! Tapi yang sangat pemalu," kata Shahgedanova, berbicara atas nama rekan-rekan dari Institut Geografi Kazakhstan.
Shahgedanova menjelaskan peran Revutaite: membaca instrumen; mengumpulkan data; mengukur berapa banyak es yang hilang dan diperoleh oleh gletser dari waktu ke waktu; mempelajari keseimbangan massa glasial.
Dunianya adalah bagan dan instrumen cuaca dan rutinitas, di mana dialah satu-satunya yang konstan. Tuyuksu berjibaku dengan musim; gunung-gunung dibentuk oleh air lelehan dan tanah longsor.
Bahkan ketika perubahan iklim mempercepat perubahan lingkungan dan membuatnya lebih ekstrem, Revutaite tetap ada. Dia diam-diam menonton saat dunia perlahan memanas.
"Kami berutang fakta kepadanya, berkati dia pengukuran stasiun Tuyuksu dan program keseimbangan massa telah berjalan tanpa gangguan, terutama selama tahun 1990-an yang sangat sulit," kata Shahgedanova, merujuk pada dekade bergejolak saat bubarnya Uni Soviet, ketika negara yang baru merdeka mewarisi negara yang lemah dan situasi ekonomi yang genting.

Sumber gambar, Audrius Stonys
Bukan berarti Revutaite mengharapkan pujian atas dedikasinya kepada Tuyuksu.
Ketika pembuat film Lithuania Audrius Stonys pertama kali mendekatinya pada tahun 2012 untuk menjadi subjek film dokumenter pegunungan Tian Shan, Revutaite menolaknya.
"Aku tidak ingin berada di dalam film," katanya.
Stonys memohon, mengatakan bahwa dia berharap untuk mendokumentasikan pekerjaan Revutaite, dan dia menjawab: "Saya tidak ingin orang melihat pekerjaan saya, saya ingin menghilang."
Pikiran Revutaite berubah ketika dia melihat beberapa cuplikan rekaman Stonys tentang gunung-gunung kesayangannya. Difilmkan selama tiga musim panas, The Woman and the Glacier adalah studi meditatif tentang massa es raksasa, menangkap kemegahan dan kelemahannya.
Tanpa dialog atau gangguan - seperti kehidupan Revutaite di ketinggian 3.500m - penonton mengamati ketika ia membuat rekaman dengan latar belakang Tian Shan; pegunungan yang berjejer dan keberadaan perempuan yang telah mendedikasikan hidupnya untuk mereka.
Namun apa yang gagal ditangkap oleh film ini adalah ketidakpastian yang mengaburkan masa depan Tuyuksu.
Menurut penelitian Shahgedanova, disokong oleh pengumpulan data komprehensif Revutaite, gletser di kawasan ini saat ini mencair dengan kecepatan mencapai 1% per tahun. Dan ada bukti kuat yang menghubungkan penurunan ini dengan perubahan iklim.
Jika tren negatif terus berlanjut, dampak buruk akan dirasakan jutaan orang yang bergantung pada gletser Tuyuksu dan Tian Shan untuk kebutuhan air mereka.

Sumber gambar, Audrius Stonys
Di seluruh Asia Tengah, sungai sebagian besar dimulai di pegunungan. Sungai-sungai ini memasok hingga 90% air untuk keperluan rumah tangga, industri dan pertanian, dan Almaty tidak terkecuali.
Anak sungai mengalir dari Tuyuksu ke bawah untuk bergabung ke Sungai Almaty Kecil, yang melintasi kota dan daerah sekitarnya.
"Dalam waktu dekat, tidak ada kekhawatiran tentang ketersediaan air," kata Shahgedanova.
"Meski demikian, pemodelan menunjukkan jika Tuyuksu terus menyusut dengan tingkatan ini, ketersediaan air mungkin tak akan lestari. Pada 2040an kami memperkirakan ada pengurangan debit pada musim panas. Jika prediksi kami benar, implikasinya akan negatif. "
Untuk saat ini, Revutaite terus melakukan aktivitasnya dalam kesendirian di gletser, melakukan perjalanan dua mingguan ke kota untuk persediaan dan berinteraksi hanya dengan mereka yang sama-sama menghargai lingkungannya, seperti Shahgedanova atau Stonys.
Meskipun ia tidak memiliki kenyamanan modern atau kenyamanan terhadap sesamanya, dan tanpa koneksi internet atau sinyal telepon, Revutaite telah menemukan rumahnya di Tuyuksu.
Saya sering memikirkannya, sedang sendirian di tempat tinggalnya yang terisolasi, yang terbuat dari timah dan panel kayu yang dikelilingi oleh langit yang kejam.
Saya tidak dapat memprediksi bagaimana gletser akan berubah, tetapi saya tahu bahwa dia akan ada di sana.
Dia mungkin tidak memiliki kekuatan untuk mencegah perubahan iklim, tetapi dia telah menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mengamati, merekam, dan membawa perkembangan pemanasan global kepada audiens yang lebih besar, dan untuk itu dia harus dihargai, entah dia setuju atau tidak.

Anda bisa membaca versi bahasa Inggris dari artikel ini, The woman watching climate change, di laman BBC Travel.









