Bagaimana caranya menjadi turis yang lebih baik?

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, Bryan Lufkin
- Peranan, BBC Capital
Turisme berlebihan atau over-tourism kini menjadi masalah di seluruh dunia.
Machu Picchu di Peru; Isle of Skye di Skotlandia; Gion, distrik geisha di Kyoto, Jepang; Distrik Lampu Merah di Amsterdam, Belanda; Kanal di Venesia; ladang poppy di California; Maya Bay atau Teluk Maya di Thailand - yang kini ditutup untuk waktu yang tak ditentukan; Museum Louvre di Paris. Tempat-tempat ini berkelimpahan wisatawan - baik domestik maupun asing.
Mereka memadati lokasi, menyampah, merusak lingkungan dan tak menghormati budaya lokal, mabuk dan bersikap jorok, serta menyentuh barang-barang dengan tidak pantas. Mereka juga membuat harga sewa properti naik.
Di saat yang sama, hak setiap orang untuk bepergian.
Lalu bagaimana caranya menjadi turis yang baik?
"Mengapa saya ingin pergi ke sana?"

Sumber gambar, AFP
Laporan Organisasi Pariwisata Dunia di bawah PBB bulan Januari 2019 menyebut jumlah wisatawan dunia mencapai 1,4 miliar di tahun 2018.
Pada tahun 1950, jumlahnya 25 juta, tahun 1998 sebanyak 936 juta. Tahun 2030, diperkirakan jumlahnya mencapai 1,8 miliar.
Alasan lonjakan jumlah ini: tumbuhnya kelas menengah global, harga tiket lebih murah, target ambisius dari banyak negara dan sikap takut kehilangan kesempatan yang dipicu oleh media sosial.

Sumber gambar, AFP/Getty Images
Maka penting untuk bertanya: mengapa ingin bepergian ke sana?
Pengalaman saya di tembok Berlin bulan Mei lalu memperlihatkan bahwa sulit sekali mengapresiasi 1,3 kilometer tembok yang tersisa sebagai tujuan wisata untuk mengenang sisa pemisahan pada masa Perang Dingin.
Di lokasi tembok itu banyak orang muda sedang bikin rangkaian foto di sana, berpose dan memonopoli ruangan.
Eduardo Santander, direktur eksekutif European Travel Commission mengajukan pertanyaan: "Anda ingin benar-benar pergi ke sana, atau ingin pamer ke orang bahwa Anda pernah ke sana?"

Sumber gambar, Getty Images
"Sekitar 50% turis memiliki pengalaman yang dangkal, karena perencanaan mereka begitu," kata wartawan Elisabeth Becker.
Ia menyarankan agar orang membaca dengan baik buku panduan dan jangan sekadar meniru teman di media sosial, lalu pergi ke kota yang sama dan membuat swafoto yang sama dengan mereka.
Becker menyebut adanya risiko "wisata ikut-ikutan". Ini mendorong turisme berlebihan yang menyebabkan sesaknya kawasan wisata dan mengganggu penduduk setempat.
Cara lain adalah bertanya: apa yang sesungguhnya ingin Anda lakukan dan lihat di sana, daripada melihat hanya sekadar untuk melihat saja.
Misalnya: jika Anda tak suka museum, tak usah mengunjungi Museum Louvre tanpa mengerti apa yang Anda lihat di sana.
Bepergian lebih jauh

Sumber gambar, Getty Images
"Jika Anda ke Praha, jangan cuma dua hari, tapi kunjungi seminggu di sana. Dan jangan pergi ke tempat turis, kelilingi kota itu," kata Becker.
"Bacalah novel atau buku sejarah mereka, jadi Anda lebih tahu yang Anda kunjungi," kata Becker lagi.

Sumber gambar, Getty Images
Solusi Islandia

Sumber gambar, Getty Images
Populasi Islandia 340.000 orang tapi mereka menerima 2,3 juta wisatawan di tahun 2018.
Di sini, wisatawan didorong untuk menyebar dan mengunjungi lokasi-lokasi terpencil, melampaui kawasan ramai seperti Reykjavik atau Laguna Biru.
Inisiatif ini juga mendatangkan uang yang membantu ekonomi setempat.
"Ini membantu infrastruktur wisata, karena konsumen yang datang akan membawa keberlangsungan perusahaan lokal di pedesaan Islandia," kata Sigríður Dögg Guðmundsdóttir, manajer humas di badan promosi Promote Iceland.
Menghargai budaya setempat

Sumber gambar, Getty Images
Banyak turis yang tidak mengerti budaya di tempat yang mereka kunjungi. Maka beberapa tujuan wisata seperti Islandia dan Jepang melakukan kampanye bagi wisatawan yang berkunjung.
Di Islandia, wisatawan tidak disarankan mengemudi off-road atau melakukan swafoto di daerah berbahaya atau berjalan di permukaan lumut yang licin.
Di Kyoto, Jepang, turis diberi selebaran berbagai bahasa berisi penggambaran perilaku yang pantas.
Wisatawan harus selalu ingat "mereka hanya meminjam dari penduduk setempat" kata Tadashi Kaneko, direktur eksekutif strategi global Japan National Tourism Organization.
Teliti daerah yang Anda kunjungi

Sumber gambar, Getty Images
Pilih akomodasi yang bertanggung jawab. Anda bisa saja memilih Airbnb dan menghemat dari situ, tapi ingat bahwa pilihan seperti ini bisa berakibat buruk bagi orang lokal di kawasan itu karena peningkatan harga sewa properti.
Martha Honey dari Center for Responsible Travel, mengingatkan wisatawan untuk mengecek apakah penginapan mereka legal, karena terkadang hal itu tak dinyatakan terbuka.
"Gunakan perambah Google dan teliti jika ada masalah. Jika Anda ke Barcelona atau ke Charleston, di South Carolina atau Savannah di Georgia, Amerika Serikat, ketahuilah di kota-kota itu penduduk setempat menghadapi masalah bahwa terlalu banyak properti dialihfungsikan jadi penginapan wisata jangka pendek," kata Honey.
Rencanakan lebih baik

Sumber gambar, Getty Images
Becker menyatakan, penting untuk memperlakukan perjalanan kita sedemikian berharga. Ini tak hanya membuat kita jadi wisatawan yang lebih peduli, tapi juga mengurangi pengeluaran tak perlu.
"Jika uang kita tak banyak, kita cenderung merencanakan dengan lebih baik," katanya.
"Kita akan mencari informasi tentang penginapan dengan nilai paling baik. Kita akan membaca baik-baik tujuan wisata kita. Kita kan mencari penerbangan yang lebih ekonomis. Semua upaya itu tak memerlukan uang," kata Martha.
Banyak paket wisata yang "memadatkan semua", yang didorong secara agresif oleh industri wisata. Ini tak hanya menyembunyikan biaya, tapi berisiko memunculkan "turisme ikut-ikutan" yang menghasilkan sedikit saja pengalaman untuk dikenang.

Sumber gambar, Getty Images
Terlebih lagi, over-tourism tak hanya mengganggu budaya setempat, tapi juga pengalaman wisatawan sendiri.
"Apakah kenangan tentang Prancis yang ingin kita bawa adalah foto orang-orang berebut ingin memotret Mona Lisa?" kata Samantha Bray, dari Center for Responsible Travel.
Hal terpenting, ke manapun kita bepergian, selalu lakukan: riset dengan baik, bersikap hormat dan sungguh-sungguh ingin tahu tentang tujuan wisata kita.
Jangan jadi korban "budaya swafoto" atau "budaya daftar keinginan" (bucket list culture).
Perlakukan tujuan wisata seperti rumah kita sendiri - tidak sebagai "permata tersembunyi" yang bisa kita bayar dengan uang lalu perlakukan semaunya.












