Turis yang datang berfoto dan warga yang bertahan ketika Gunung Agung erupsi

Sumber gambar, Julio Alvares
Gunung Agung masih berstatus bahaya tertinggi: Awas. Erupsi terus terjadi. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan niat sejumlah turis asing untuk datang dan berfoto.
Misalnya Calle Kjelde, seorang wisatawan asal Denmark. Sudah berlibur selama dua setengah minggu di Pulau Dewata, Kjelde sengaja datang ke Pos Pantau Gunung Agung yang terletak 12km dari puncak gunung, untuk mengabadikan gunung berapi itu.
Meskipun tahu akan bahaya yang bisa saja diakibatkan letusan gunung, Kjelde tetap datang karena momen tersebut disebutnya langka. "Saya penasaran dengan letusan gunung ini. Apalagi saya belum pernah sedekat ini dengan gunung berapi," tuturnya kepada wartawan di Bali, Julio Alvares, Selasa, (28/11).

Sumber gambar, Julio Alvares
Tercatat sepanjang Selasa, dari pukul 06:00 hingga 12:00 WITA, Gunung Agung terus mengalami erupsi dan memuntahkan asap bewarna kelabu dengan intensitas tebal ke ketinggian hingga 4.000 meter dari puncak kawah.
Selain itu juga telah terjadi setidaknya lima kali gempa berdurasi tujuh hingga 44 detik, dengan tipe beragam mulai dari Low Frekuensi, Vulkanik Dangkal dan Vulkanik Dalam.

Sumber gambar, BBC Indonesia
Gempa ini turut dirasakan turis Australia, Peter Robert, yang sedang berada di Pos Pantau untuk berfoto-foto dengan pasangannya. "Ini pengalaman sekali seumur hidup. Kita tidak tahu lagi kapan terjadi. Dan di negara saya, tidak ada gunung sebesar dan seaktif ini," tuturnya.
'Bertahan agar keluarga bisa makan'
Dengan status Awas, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) meminta warga atau turis untuk tidak berada dan melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya, di dalam radius 8km dari kawah Gunung Agung.
Larangan aktivitas ditambah menjadi 10km di kawasan Utara - Timur laut dan Tenggara - Selatan - Barat dari kawah Gunung Agung.

Sumber gambar, AFP
Dari catatan BNPB terdapat sekitar 90.000 hingga 100.000 warga yang tinggal di kawasan berbahaya tersebut. Namun, yang tercatat telah mengungsi hingga Selasa (28/11) siang, baru sekitar 29.023 jiwa. Mereka tersebar di 217 titik pengungsian.
Salah satunya adalah Sriyani, seorang penjual bunga yang tetap berdagang di pinggir jalan di Desa Menange. Dia berjualan tepat di belakang spanduk besar yang bertuliskan "Peringatan! Anda memasuki zona bahaya gunung berapi".

Sumber gambar, BBC Indonesia

Sumber gambar, BBC Indonesia
Kepada BBC Indonesia, Sriyani bercerita bahwa meskipun dia khawatir, dia tetap tidak meninggalkan tempatnya berjualan karena 'harus bekerja agar keluarganya bisa makan.'
Senin, (27/11), Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, mengungkapkan bahwa pihaknya, jika perlu, akan melakukan "evakuasi paksa" bagi warga yang tetap tinggal di dalam zona berbahaya. Namun, Sutopo belum mau memaparkan tenggat waktu, kapan evakuasi paksa tersebut akan dilakukan.
Bandara Ngurah Rai masih ditutup
Erupsi Gunung Agung juga berdampak pada transportasi udara. Berdasarkan analisis citra satelit Himawari dari BMKG, tampak sebaran abu vulkanik dominan mengarah ke barat daya, tertarik oleh Siklon Tropis Cempaka yang saat ini berada di Samudera Hindia, di selatan Yogyakarta.
Berdasarkan data dari BMKG pada pukul 02:00 hingga 08:00 WITA, di hari Selasa (28/11), arah angin yang membawa abu vulkanik bergerak dari utara hingga timur laut dengan kecepatan 5-10 knot atau sekitar 10-19km/jam, menutupi ruang udara di atas Bandara Internasiopnal I Gusti Ngurah Rai.

Sumber gambar, Christo Pietersz
Alhasil, otoritas Bandara I Gusti Ngurah Rai pun kembali menutup bandara hingga Rabu (29/11) pukul 07:00 WITA, dengan evaluasi yang akan terus dilakukan setiap enam jam. Senin (28/11) saja, penutupan bandara ini berdampak pada penundaan dan pembatalan 445 penerbangan, yang menelantarkan setidaknya 59.000 penumpang.
Sementara itu, Bandara Internasional Lombok telah dibuka kembali mulai Selasa (28/11) pukul 06:00 WITA, setelah sebelumnya mengalami penutupan.









