'Tinggal jepret foto tanaman pakai ponsel, penyakitnya langsung ketahuan’

Sumber gambar, Peat
- Penulis, Jerome Wirawan
- Peranan, BBC Indonesia
Beberapa pekan lalu, Vijayaraju Parimi dan rekan-rekannya sibuk berdiskusi. Sembari mengobrol, pandangan mereka tertuju pada sebuah telepon seluler yang sedang mengarah ke sehelai daun mangga.
Dengan memencet tombol kamera, daun mangga tersebut berhasil diabadikan.
Tingkah mereka bukan keisengan belaka. Vijayaraju dan rekan-rekannya yang berprofesi sebagai petani mangga di Negara Bagian Telangana, India, justru sedang bekerja.
Mereka berupaya mengetahui jenis penyakit yang melanda pohon mangga dengan mengambil foto daun dan mengirimkannya ke internet melalui sebuah aplikasi bernama Plantix.
"Saya tinggal menjepretfoto itu di ladang, kemudian saya unggah di Plantix. Lalu secara otomatis penyakit tanaman itu ketahuan. Plantix juga menyediakan solusinya," papar Vijayaraju kepada BBC Indonesia melalui sambungan telepon.
Kisah serupa diceritakan Voruganti Surendra, petani padi di Distrik Guntur, Negara Bagian Andhra Pradesh. Bersama ratusan petani lainnya, dia menggunakan aplikasi Plantix demi mengetahui jenis penyakit dan petunjuk bagaimana mengatasinya.
"Ini sangat berguna. Para petani memerlukannya," kata Vorugati.

Kebutuhan petani kecil
Kenyataan bahwa ribuan petani di India menggunakan Plantix disambut gembira oleh para pencipta aplikasi tersebut, yang terdiri dari sekumpulan peneliti tanaman dan mahasiswa doktoral di Berlin, Jerman.
Bianca Kummer, salah satu pendiri Plantix, mengaku bahwa aplikasi itu sejak semula memang dimaksudkan untuk membantu petani kecil. Gagasan tersebut tercetus ketika dua pendiri aplikasi sedang berada di Brasil untuk melakukan penelitian doktoral.
"Ketika mereka di Brasil untuk melakukan pengujian di lapangan, mereka menyadari tidak ada yang menargetkan kebutuhan petani kecil di pedesaan yang kerap bertanya 'Apakah tanaman saya sehat?" dan "Jika tanaman saya sakit, apa yang harus dilakukan?' Karena itu aplikasi kami menargetkan kebutuhan petani dan mengurangi kerugian tahunan yang disebabkan penyakit dan hama," papar Bianca.
Ketika kembali ke Jerman, kedua peneliti itu menghubungi rekan-rekannya dan mereka sepakat untuk membuat aplikasi Plantix pada ponsel mengingat penggunaan ponsel pintar kini sudah meluas sampai ke kawasan pedesaan sehingga para petani bisa mudah memakainya.
Kini, setelah dua setengah tahun Plantix diciptakan, aplikasi itu bisa mengenali ratusan jenis penyakit, mulai dari virus yang menyerang mangga sampai kekurangan nutrisi pada tomat.
"Saat ini kami bisa membedakan 240 penyakit tanaman dan di perpustakaan kami tersedia 400 jenis penyakit, cara mengatasinya, dan informasi lain tentang penyakit," kata Bianca.

Sumber gambar, Peat
Cara kerja
Lalu, bagaimana cara kerja aplikasi itu dan teknologi macam apa yang mampu mewujudkannya?
Bianca Kummer mengatakan hampir setiap jenis penyakit tanaman ada pola visualnya, apakah itu bakteri, virus, kekurangan nutrisi, serangan hama, hingga jamur.
Dengan bantuan bank data dan pembelajaran mesin, algoritma pola-pola tersebut dapat diajarkan pada kecerdasan buatan sehingga penyakit tanaman bisa dideteksi.
"Pada dasarnya, pekerjaan kami adalah mengajari jaringan saraf elektronik untuk mengenali penyakit tanaman melalui berbagai foto," kata Bianca.
Agar jaringan saraf elektronik bisa melakukan hal ini, terlebih dulu diperlukan bank data yang menyimpan lebih dari satu juta foto.
"Kami menyimpan data berbagai jenis penyakit tanaman. Data ini berupa beragam foto tanaman yang terdampak penyakit. Foto-foto ini didapat dari para pakar serta pengguna aplikasi. Saat ini terdapat beberapa juta foto dalam data kami. Jika ada foto tanaman yang diunggah, dan pola penyakitnya cocok dengan data kami, maka pengguna mendapat respons secara instan dan otomatis," papar Bianca.

Sumber gambar, Plantix
Bagaimana dengan petani Indonesia?
Bagaimanapun, aplikasi ini punya kelemahan. Bianca mengungkap bahwa tingkat keberhasilan Plantix dalam mengenali jenis penyakit tanaman mencapai 80% sampai 90%.
Artinya, masih ada peluang aplikasi gagal mendeteksi penyakit tanaman.
Untuk mengatasinya, sebuah fitur forum diskusi tersedia di dalam aplikasi sehingga para petani dapat bertanya secara langsung kepada sejumlah pakar patologi tanaman dan peneliti dari Plantix.
"Jika aplikasi kami tidak mampu mendeteksi penyakit , kami menawarkan fitur lain yang disebut komunitas Plantix. Kami lalu menghubungkan forum ini dengan para pakar dan sesama petani sehingga pengguna bisa mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan pertanian. Jika aplikasi tidak bisa mendeteksi jenis penyakit tanaman secara otomatis, pengguna bisa mengirimkan foto tanaman ke forum dan bertanya," katanya.
Kelemahan lainnya, aplikasi ini tidak memiliki versi bahasa Indonesia, walau terdapat bahasa Hindi dan Telugu untuk pengguna di India.
Untuk sementara, kata Bianca, petani Indonesia hanya dapat menggunakan versi bahasa Inggris.
"Sayangnya saat ini kami belum meluncurkan aplikasi ini di Indonesia. Sehingga apabila petani di Indonesia tidak bisa bahasa Inggris, maka hal itu akan jadi masalah."
Bagaimanapun, menurutnya, Plantix berencana merambah ke Indonesia setelah melihat potensinya.
"Kami sangat ingin menjangkau Indonesia karena kami lihat ada beberapa petani yang mengunduh aplikasi ini di Indonesia. Ketika kami benar-benar meluncurkan aplikasi ini di Indonesia, tentu kami akan menyediakan bahasa setempat."











