Sriwijaya Air SJ182: Operasi SAR dihentikan, pencarian difokuskan ke rekaman kokpit CVR oleh KNKT agar analisis 'paripurna'

tim SAR dengan temuan serpihan pesawat.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Sebagian serpihan pesawat Sriwijaya Air yang jatuh pada 9 Januari lalu berhasil ditemukan.

Operasi pencarian Sriwijaya Air Sj-182 oleh tim SAR secara resmi ditutup Kamis (21/01) dan upaya pencarian akan dialihkan ke KNKT untuk menemukan memori Cockpit Voice Recorder (CVR) atau rekaman kokpit.

Kepala Badan SAR Nasional, Bagus Puruhito mengumumkan penutupan resmi operasi SAR dan mengatakan selama 13 hari operasi, tim mengevakuasi 324 kantong potongan jenazah, 67 serpihan kecil pesawat, dan 55 kantong berisi potongan material pesawat.

Pesawat yang menempuh perjalanan dari Jakarta ke Pontianak dengan 62 orang, jatuh pada Sabtu (09/01) lalu.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi sebelumnya menyampaikan ujung tombak operasi dialihkan ke Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk mencari CVR.

"Pak presiden mengharapkan memori CVR itu ketemu sehingga analisa yang dilakukan KNKT akan paripurna," kata Budi Karya.

Terkait kemungkinan temuan jenazah dan potongan pesawat, Kabasarnas Bagus Puruhito mengatakan Tim SAR Jakarta akan melakukan pemantauan secara aktif di area pencarian. Bila ada temuan, pihaknya akan mengevakuasi dan menyerahkan kepada tim forensik dan KNKT.

Bagus juga mengatakan keluarga korban dan instansi terkait akan melakukan tabur bunga pada Jumat (22/01) di posisi terakhir pesawat.

CVR penting untuk ditemukan guna mengungkap penyebab kecelakaan

Sriwijaya SJ182

Sumber gambar, ANTARAFOTO/MUHAMMAD ADIMAJA

Keterangan gambar, Panglima Koarmada I Laksamana Muda TNI AL Abdul Rasyid menunjukkan kotak penyimpanan memori dari perekam suara kokpit atau Cockpit Voice Recorder (CVR) Sriwijaya Air SJ182, Jumat (15/01).

Sejauh ini, pencarian CVR masih belum berhasil, padahal untuk mengungkap penyebab kecelakaan bagian kotak hitam itu dibutuhkan untuk melengkapi rekaman data penerbangan (FDR), kata KNKT.

Sejauh ini, tim Basarnas mengakui kesulitan menemukan CVR karena pencarian dilakukan secara manual dengan meraba pakai tangan serta terhambat arus laut yang kuat.

Di sisi lain, mantan ketua KNKT menyebut hasil investigasi sebetulnya tetap bisa dirilis meski ia sebut laporan akan seperti film bisu.

Dalam rilis yang diterima BBC Indonesia pada Selasa (19/01), KNKT menyatakan FDR sudah berhasil diunduh yakni sepanjang 27 jam.

Rekaman itu berisi data 18 penerbangan termasuk data Sriwijaya Air SJ182.

"Dari data dari FDR ini kami menemukan beberapa petunjuk untuk melanjutkan proses investigasi, tapi kami juga masih sangat mengharapkan CVR dapat ditemukan untuk melengkapi temuan," kata Ketua Subkomite Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT Capt. Nurcahyo Utomo.

Laporan awal penyelidikan diharapkan dapat diterbitkan 30 hari setelah kecelakaan, tambah Nurcahyo.

Investigasi kecelakaan yang diduga menewaskan 62 orang awak dan penumpang pesawat itu melibatkan tim dari Singapura dan AS.

Melalui pesan singkat kepada BBC News Indonesia, juru bicara KNKT Indrianto mengatakan untuk mengungkapkan kasus kecelakaan penerbangan diperlukan kedua barang bukti berupa rekaman data penerbangan atau FDR dan rekaman suara di kokpit atau CVR.

"Keduanya bersifat saling melengkapi bukan menggantikan," katanya.

Hingga kini pencarian CVR baru mendapatkan kotak penyimpanan memorinya saja. Sedangkan modul memorinya sampai saat ini masih belum ditemukan.

Tanpa CVR seperti 'film bisu'

Sriwijaya SJ182

Sumber gambar, ANTARAFOTO/MUHAMMAD ADIMAJA

Keterangan gambar, Serpihan-serpihan pesawat Sriwijaya Air SJ 182 ditemukan di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta

Namun, menurut mantan Ketua KNKT, Tatang Kurniadi hasil laporan investigasi bisa saja dirilis tanpa disertai bukti CVR, meski kata dia yang akan ditampilkan "seperti melihat film bisu, gerakannya ada tapi suaranya nggak tahu".

Peristiwa ini pernah terjadi dalam kasus Adam Air 2007 silam.

"Kayak di Adam Air itu delapan bulan di dalam air masih bisa ketemu. Siapa tahu untung-untungan. Jadi kalau investigator sehingga sesempurna kalau itu ada. Tapi laporan ini bisa jalan. Nah, mereka yang menerima laporan juga mestinya baca bahwa CVRnya nggak ketemu," kata Tatang kepada BBC News Indonesia, Senin (18/01).

Kata dia, bukti berupa FDR dan CVR lebih mudah ditemukan pada pesawat-pesawat yang jatuh di darat, tapi kalau di laut cenderung lebih sulit ditemukan, bahkan bisa mengalami kerusakan.

Sriwijaya SJ182

Sumber gambar, ANTARAFOTO/MUHAMMAD ADIMAJA

Keterangan gambar, Kopaska TNI AL mengambil puing pesawat Sriwijaya Air SJ 182 di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Minggu (17/01)

Mencari CVR dengan 'meraba pakai tangan'

Juru bicara Badan SAR Nasional, Agus Basori mengungkapkan sulitnya menemukan modul memori CVR di lautan karena terhalang cuaca hujan dan arus laut. Belum lagi modul memori sudah tidak lagi dilengkapi dengan alat pelacak.

"Ya teman-teman di bawah itu, pakai tangan ambilnya. Meraba-rabanya pakai tangan. Kesulitannya di situ. Karena sudah tak ada finger-nya itu, casing-nya juga tidak ada," kata Agus kepada BBC News Indonesia, Senin (18/01).

Basarnas telah menemukan data rekaman penerbangan atau FDR, Selasa (12/01). Tiga hari kemudian, tim penyelam mendapatkan selubung dan baterai CVR. Akan tetapi modul memorinya sudah terlepas dari perangkat ini dan masih belum ditemukan.

Kemarin, Basarnas bersama pihak terkait memutuskan menambah waktu pencarian hingga tiga hari ke depan, Kamis (21/01). Tim masih punya kesempatan tiga hari mendatang untuk menemukan modul memori CVR sebelum diputuskan kembali apakah pencarian akan ditambah waktunya atau dihentikan.

Keterangan video, Kenangan terakhir pilot pesawat Sriwijaya Air SJ-182

Selama tiga hari ke depan, Basarnas melaporkan tim inti yang bekerja melakukan proses pencarian tidak berubah jumlahnya. Akan tetapi tim pendukung sebanyak 3.500, jumlahnya akan berkurang setengahnya karena kemungkinan terlibat dengan evakuasi bencana lainnya seperti gempa di Sulawesi Barat, dan banjir di Kalimantan Selatan.

Seberapa penting CVR dalam penyelidikan?

Pengamat sekaligus praktisi penerbangan, Alvin Lie mengungkapkan pentingnya CVR dalam sebuah penyelidikan pesawat jatuh. Menurutnya, data dari CVR ini berfungsi sebagai penyelaras dengan data FDR.

"Sehingga perubahan-perubahan pada peralatan pesawat, misalnya ketika putaran mesin ditinggikan suaranya, ada atau tidak, untuk cek responsif. Dengar atau tidak," kata Alvin kepada BBC News Indonesia, Senin (18/01).

Selain itu, CVR juga dapat mengungkap aspek komunikasi terakhir antara pilot saat pesawat dalam detik-detik tak terkendali.

Keterangan video, Black box pesawat SJ182 ditemukan dan empat korban teridentifikasi pada Selasa (12/01)

"Kalau tanpa CVR tentunya tidak akan lengkap karena yang dimiliki KNKT hanya data teknis, aspek teknis dari pesawat itu sendiri, sedangkan aspek human itu tidak ada. Sehingga kalau gambar itu ada bagian yang masih kosong, belum terisi gambarnya," kata Alvin.

Sejauh ini, Alvin memperhatikan KNKT telah bergerak cepat dalam upaya pengungkapan jatuhnya Sriwijaya SJ182.

Sementara itu, pengamat penerbangan lainnya, Ruth Hana berpendapat KNKT akan tetap bisa melanjutkan investigasi jatuhnya Sriwijaya Air SJ182 meski tanpa bukti CVR.

Sriwijaya SJ182

Sumber gambar, ANTARAFOTO/M RISYAL HIDAYAT

Keterangan gambar, Tim pencarian Sriwijaya Air SJ182

"Ya, memang hasil penyelidikannya jadi kurang lengkap. Kurang akurat. Tapi jangan khawatir, karena tetap dengan FDR saja sudah banyak membantu para investigator, untuk mencari kemungkinan penyebab kecelakaan itu. Jadi nggak menjadi patokan utama, harus ada CVR," katanya.

Percepatan identifikasi penumpang dengan CCTV

Sampai Kamis (21/01), selain mencari modul memori CVR, Basarnas juga fokus pada pencarian korban.

Sejauh ini, Basarnas telah mengumpulkan bagian jenazah penumpang dan awak Sriwijaya SJ182 dalam 300an kantong. Namun, dari jumlah itu, baru 29 orang yang sudah teridentifikasi.

Sriwijaya SJ182

Sumber gambar, ANTARAFOTO/Indrianto Eko Suwarso

Keterangan gambar, Proses evakuasi penumpang Sriwijaya Air SJ182

"Harapannya dengan semakin banyaknya body remains atau human remains yang ditemukan oleh tim penyelam ini akan semakin mempercepat dan mempermudah tim DVI untuk mengidentifikasi korban," kata Juru bicara KNKT, Agus Basori.

Salah seorang keluarga penumpang Meizar Ararni yang hingga kini masih menanti hasil pencarian dan identifikasi menyatakan pihak keluarga sudah merelakan kepergian penumpang atas nama Panca Widya Nur Santi.

Namun Meizar berharap pihak berwenang dapat menggunakan bukti CCTV untuk percepatan identifikasi bagi penumpang yang belum ditemukan.

"Tolong CCTV itu segera dibuka, diperlihatkan kepada pihak DVI RS Polri, untuk mempercepat identifikasi visual. Kalau ada 62 jenazah yang diidentifikasi secara forensik, maka butuh waktu lama. Tapi kalau visual forensik akademisnya, identifikasinya jadi lebih cepat," kata Meizar.