Nasib petani di tengah pandemi virus corona: Ramadan belum genjot konsumsi, petani merugi

pedagang sayur.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Petani sayur banyak yang mengalami kerugian di tengah pandemi.
    • Penulis, Sita Dewi
    • Peranan, BBC News Indonesia

Pandemi mengubah pola konsumsi masyarakat dan memengaruhi bisnis makanan, yang akhirnya berdampak pada petani. Ramadan, di mana biasanya konsumsi meningkat, tak banyak memberi harapan.

Buah berbentuk lonjong berwarna hijau kekuningan ditumpuk sejajar dengan buah lainnya di salah satu pasar buah di Medan. Timun suri banyak diminati orang untuk bahan olahan takjil selama bulan Ramadan.

Risma Sembiring, salah seorang pedagang buah di Jalan Setia Budi Medan menyatakan sudah tujuh tahun menjual timun suri. Pedagang buah ini mengakui menjual timun suri hanya pada setiap bulan Ramadan.

Di bulan puasa tahun ini, Risma bisa menjual timun suri antara 30-40 buah per hari dengan harga Rp10.000 per buah, jauh lebih sedikit dibanding tahun lalu yang bisa mencapai 60-80 buah per hari.

Ia meyakini, pandemi yang membatasi aktivitas warga merupakan biang keroknya.

Meski jumlah pembeli menurun, ia mengaku beberapa pembeli cenderung membeli buah dalam jumlah lebih banyak untuk konsumsi selama beberapa hari.

"Orang yang belanja buah sedikit, tapi yang dibeli banyak. Timun suri misalnya, pembelinya sedikit tapi yang dibeli bisa mencapai 4-6 buah per orang," kata Risma kepada wartawan Dedi Hermawan di Medan yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Cuaca pengaruhi produksi

Pagebluk bukan satu-satunya tantangan yang dihadapi petani. Beberapa petani mengeluhkan cuaca yang tak ideal yang mengakibatkan penurunan produksi.

Ishan, 59, salah seorang petani timun suri asal Langkat, Sumatra Utara, menyatakan pada musim tanam tahun ini, hasil panen timun surinya berkurang dibanding tahun lalu karena cuaca yang sangat panas.

"Tanaman timun suri membutuhkan banyak air agar buahnya besar berkualitas dan harum. Jika kurang air, daun akan layu dan terancam mati," kata Ishan.

pedagang sayur.

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Pedagang sayur di pasar Jakarta.

Ia menyebut hasil panen timun suri pada bulan puasa tahun ini hanya mencapai 700 buah, jauh menurun dibanding tahun lalu yang bisa menghasilkan 2.000 buah.

"Tahun ini saya hanya dapat Rp1,5 juta dari hasil memanen timun suri, menurun setengahnya dibanding panen tahun lalu yang bisa Rp3 juta," kata Ishan.

Jajang, petani di Desa Ciwaruga, Kabupaten Bandung Barat, menyebut intensitas hujan yang tinggi sangat berpengaruh terhadap hasil bumi.

"Pengaruhnya besar sekali. Tanam sayuran itu kan sekarang musim hujan, banyak hujan. Jadi sayuran itu nggak full, kadang-kadang (hasil panen cuma) 50%, kadang-kadang bisa dipanen, kadang-kadang hancur," katanya.

Hasil tani terbuang

Pembatasan sosial selama pandemi berarti banyak rumah makan harus membatasi operasi atau malah menutup usaha, yang tentu berdampak langsung terhadap pesanan hasil bumi dari petani.

Ade, seorang petani sayuran di Ciwidey, Kabupaten Bandung berkisah berkilo-kilo hasil taninya nyaris terbuang lantaran batal disalurkan ke konsumen tetapnya.

warga di Banda Aceh.

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Pembatasan bergerak selama pandemi menyebabkan banyak restoran tutup dan berdampak pada penjualan hasil pertanian.

Hal serupa dialami Jajang.

"Kadang dibuang. Ya cuma sedikit ada 10 kg, 15 kg dibuang. Kalau bawa 50 kg atau sekuintal, kadang-kadang nggak habis, ya dibuang saja," ujarnya.

Namun Ade tak tinggal diam. Bersama rekan sesama petani yang bernasib serupa, Ade membentuk komunitas dan menemukan cara menjual sayurannya, yakni penjualan secara daring.

"Saya bikin komunitas di Bandung, (jual) sayur online. Jadi kita masuk ke rumah-rumah. Kalau pesanan di bawah 50 kg kita kirimnya via ojek online, kalau satu kuintal kita langsung kirim pakai mobil," ujar Ade kepada wartawan Yuli Saputra di Bandung yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Meski menemukan alternatif solusi, ia mengaku penjualan terus menurun.

"Kalau sama restoran kan biasanya satu item bisa sampai lima hingga enam kuintal, bahkan bisa sampai 1 ton. Kalau ke rumah-rumah kan cuma sekilo atau dua kilo," ungkap Ade yang sehari bisa mengirimkan sayuran ke konsumen rumahan sebanyak satu hingga dua ton per hari.

Penghasilan Ade pun menurun drastis sebagai dampak dari menurunnya permintaan.

"Ke restoran (penurunannya) hampir 80% karena sudah tutup semuanya. Dampaknya ke petani itu, permintaannya jadi berkurang, kalau harga fluktuatif. Ada yang naik, ada yang turun," ujarnya.

Selain berjualan daring, Ade cukup terbantu dengan mengirim hasil taninya ke pasar induk yang masih buka.

Para petani ini mengaku bulan puasa Ramadan, di saat umumnya ada peningkatan, belum juga mengangkat konsumsi warga. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi sepanjang April 2020 sebesar 0.8%, perlambatan yang antara lain didorong oleh melemahnya permintaan barang dan jasa.

"(Saya berharap pandemi) cepat selesai. Kalau gini terus, repot orang kecil, kekurangan untuk makan sehari-hari," kata Jajang.

Pemesanan lewat aplikasi melonjak

Sementara banyak petani tradisional yang merugi, perusahaan teknologi agribisnis, yang melayani pesan antar sayur mayur, justru mengalami lonjakan pemesanan karena banyak konsumen tinggal di rumah.

Aplikasi TaniHub, misalnya, merekam lonjakan pengguna aplikasi sejak awal Maret, saat pemerintah mengumumkan tiga kasus Covid-19 pertama di Indonesia, dan peningkatan penjualan.

"Selama kondisi wabah ini, penjualan buah, sayur, sembako, dan hasil tani lainnya (secara keseluruhan) pada TaniHub Group meningkat cukup besar, yaitu lebih dari 20%.

"Terdapat peningkatan tajam di penjualan ke pembeli individu dan rumah tangga, yang mencapai 150%. Sejak 1 Maret hingga 29 April, ada 100 lebih pengguna baru di aplikasi kami," kata CEO dan Co-Founder TaniHub Group, Ivan Arie Sustiawan, kepada BBC News Indonesia.

sawah, pertanian, tni

Sumber gambar, CHAIDEER MAHYUDDIN/AFP

Keterangan gambar, Anggota TNI membantu menggarap sawah untuk mengantisipasi kekurangan pangan selama pandemi.

Ia menambahkan, tren yang secara konsisten terus naik itu terlihat di semua kota di mana perusahaan itu beroperasi, termasuk Jakarta/Bogor, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Denpasar.

Oshin Hernis, kepala divisi komunikasi dari SayurBox, mengungkap tren serupa.

"(Kami melihat) lonjakan pemesanan dengan kenaikan kurang lebih lima kali lipat sebelum adanya kebijakan bekerja dari rumah dan PSBB (pembatasan sosial berskala besar) dari pemerintah," katanya.

Lonjakan permintaan tersebut mendorong perusahaan-perusahaan tersebut untuk menjangkau lebih banyak lagi petani.

"Pasokan tambahan tentunya kami butuhkan mengingat kenaikan permintaan saat ini. Kami menjangkau petani di pelosok yang tidak sempat kami raih sebelum lonjakan ini terjadi. Produk sayur dan buah tentunya kami dapatkan dari petani lokal yang sudah lama bermitra dengan kami dan mitra petani baru yang tersebar di seluruh Indonesia," katanya.

Selain pasokan, perkara logistik juga disebut menjadi tantangan lain.

"Biaya logistik dalam situasi seperti ini cenderung meningkat (..) Kami juga intens berkoordinasi dengan para pemerintah daerah untuk memastikan bahwa kami tetap mendapatkan akses serta kelancaran dalam pengiriman barang. Para pemerintah daerah berkomitmen untuk memberikan akses kepada logistik yang sifatnya esensial, salah satunya yaitu pangan," kata Ivan.

Pemerintah pastikan pasokan aman

Dalam rapat terbatas untuk membahas stok pangan selama Ramadan pada bulan April, Presiden Joko Widodo meminta pemerintah daerah untuk menjamin kelancaran produksi dan distribusi bahan pangan meski ada PSBB.

"Pastikan bahwa distribusi logistik, kelancaran produksi itu betul-betul tidak ada hambatan di lapangan, stok pangan cukup.

"Saya harapkan mendagri memberi teguran kepada daerah yang blokir jalan-jalannya agar urusan distribusi logistik ini tidak terganggu," kata Jokowi.

Warga di Aceh

Sumber gambar, CHAIDEER MAHYUDDIN/AFP

Keterangan gambar, Warga Blang Bintang, Provinsi Aceh, menunggu distribusi makanan pada Rabu (06/05),

Sementara itu, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengungkap kementeriannya mengembangkan strategi sistem logistik nasional untuk menyederhanakan rantai distribusi pangan.

"Salah satunya dengan mengalihkan komoditas dari daerah yang surplus ke daerah yang defisit. Untuk saat ini, setidaknya ada 28 provinsi dalam kondisi terkendali. Tapi dua di antaranya, yaitu Kalimantan Utara dan Maluku, perlu mendapat perhatian lebih," katanya dalam siaran pers, Senin (04/05).

Menurutnya, data Badan Ketahanan Pangan (BKP) menunjukkan persediaan bahan pokok pangan cukup hingga Juni 2020.

Data badan tersebut menunjukkan cadangan beras hingga Juni mencapai 6,4 juta ton, jagung 1,01 juta ton, gula pasir 1,07 juta ton, dan minyak goreng 5,7 juta ton.