Virus Corona: Akankah wabah ini menyelamatkan hewan-hewan "eksotis" yang terancam punah

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, Navin Singh Khadka
- Peranan, Wartawan lingkungan, BBC World Service
Para ilmuwan mencurigai sebuah pasar seafood di Wuhan sebagai titik awal berjangkitnya virus corona, virus yang hingga Jumat (31/01) sudah menelan lebih dari 200 nyawa.
Pasar itu dikenal sebagai pasar yang memperdagangkan hewan-hewan liar seperti ular, rakun, dan landak. Hewan-hewan itu ditaruh dalam kandang dan dijual secara ilegal, untuk dijadikan makanan maupun obat, hingga akhirnya dihentikan setelah seluruh provinsi dikarantina karena virus corona. China adalah konsumen produk-produk hewan liar, baik legal maupun ilegal.
Sup kelelawar hingga sup testis harimau
Pejabat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan sumber utama penularan kemungkinan besar adalah kelelawar.
Tetapi mereka berpikir virus corona melompat ke hewan lain, yang belum diidentifikasi, sebelum menginfeksi manusia.
China secara tradisional memiliki keinginan yang besar atas produk-produk satwa liar. Beberapa hewan dimakan karena rasanya yang lezat, sementara yang lain dikonsumsi sebagai obat tradisional.
Restoran di beberapa daerah di Cina dikenal menyajikan hidangan seperti sup kelelawar (dengan seluruh kelelawar di dalamnya), sup yang dibuat dengan testis harimau, atau bagian tubuh musang.
Kobra goreng, cakar beruang rebus, anggur yang dibuat dengan menggunakan tulang harimau juga ada dalam menu restoran papan atas.
Sementara pasar satwa liar di daerah kumuh memiliki tikus, kucing, ular, dan banyak jenis burung termasuk yang terancam punah.

Sumber gambar, LIU JIN
Produk-produk satwa liar juga digunakan dalam banyak obat-obatan tradisional China, dengan keyakinan utama bahwa produk-produk ini memiliki kekuatan penyembuhan untuk berbagai penyakit, seperti impotensi pria, radang sendi, dan asam urat.
Seorang penyelidik dari lembaga internasional ternama telah melakukan beberapa penyelidikan tentang perdagangan satwa liar di China. Penyelidik ini menyimpulkan, "Ada gagasan 'yewei' (secara harfiah diterjemahkan sebagai 'selera liar' dalam bahasa China) yakni terminologi rumah tangga dalam budaya di China yang maknanya campuran petualangan, keberanian, keingintahuan, dan hak istimewa."
Satwa liar, pengobatan tradisional China, dan ancaman kepunahan
Permintaan trenggiling untuk obat-obatan hampir memusnahkan hewan dari China. Trenggiling kini bahkan telah menjadi satwa liar yang paling banyak diburu di bagian lain dunia.
Penggunaan cula badak untuk pengobatan tradisional China adalah contoh lain bagaimana praktik ini menjadikan badak menjadi spesies yang terancam punah.
Semua ini terjadi, sementara lebih dari 70% infeksi yang muncul pada manusia diperkirakan berasal dari hewan, terutama hewan liar.
Wabah corona kembali menyoroti perdagangan satwa liar China, yang dikritik oleh kelompok konservasi karena mendorong sejumlah spesies ke ambang kepunahan.
Segera setelah wabah terakhir, pihak berwenang Cina memberlakukan larangan sementara pada perdagangan satwa liar untuk memerangi penyebaran virus.
Tetapi para kelompok konservasi menggunakan kesempatan ini untuk menuntut larangan permanen.

Sumber gambar, South China Morning Post
Akankah China mendengarkan?
Bisakah wabah virus corona ini akan menjadi titik balik dalam upaya global untuk mengakhiri perdagangan satwa liar ilegal dan selanjutnya melindungi kesehatan masyarakat?
Para ahli mengatakan misi itu sangat menantang tetapi bukan misi yang mustahil.
Virus yang menyebabkan Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS) dan Sindrom Pernafasan Timur Tengah (MERS) juga diyakini berasal dari kelelawar, tetapi mereka menular ke manusia melalui kucing, musang, dan unta, menurut pejabat WHO.
"Kami melakukan kontak dengan spesies satwa liar dan habitat mereka yang belum pernah ada di lingkup pekerjaan kami sebelumnya," kata Dr. Ben Embarek dari Departemen Gizi dan Keamanan Pangan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kepada BBC.
"Karena itu, kami menemukan sejumlah penyakit baru yang dikaitkan dengan kontak baru antara manusia dengan virus, bakteri, dan parasit yang sebelumnya tidak dikenal."
Analisis baru-baru ini terhadap hampir 32.000 spesies vertebrata darat menunjukkan sekitar 20%-nya dibeli dan dijual di pasar dunia, baik secara legal maupun ilegal.
Ini artinya ada lebih dari 5.500 spesies mamalia, burung, reptil dan amfibi.
Perdagangan satwa liar ilegal diperkirakan bernilai sekitar $ 20 miliar dan merupakan perdagangan ilegal terbesar keempat setelah narkoba, penyelundupan manusia dan pemalsuan.

Sumber gambar, AFP
Wabah Corona harus jadi "alarm"
World Wide Fund for Nature (WWF) menyatakan, "Krisis kesehatan ini harus berfungsi sebagai alarm untuk mengakhiri penggunaan hewan langka maupun bagian-bagian tubuhnya sebagai hewan peliharaan eksotis, untuk konsumsi makanan dan obat."
Namun, pemerintah Cina telah menjelaskan bahwa larangan itu bersifat sementara.
"Memelihara, mengangkut, atau menjual semua spesies hewan liar dilarang sejak tanggal pengumuman hingga situasi epidemi nasional berakhir," kata arahan yang dikeluarkan bersama oleh tiga lembaga pemerintah.
Beijing mengumumkan larangan serupa selama wabah SARS pada tahun 2002.
Tetapi para pegiat konservasi mengatakan beberapa bulan setelah pengumuman pada tahun 2002 itu, pihak berwenang berubah ringan dan pasar satwa liar bangkit lagi di China.
Peningkatan pengawasan
Pada bulan September tahun ini, Beijing menjadi tuan rumah pertemuan global tentang sumber daya alam dan biologi, yang dikenal sebagai Konvensi Keanekaragaman Hayati.
Menurut laporan antar pemerintah yang dirilis tahun lalu, satu juta spesies terancam punah - jumlah terbesar dalam sejarah manusia.
Setelah wabah virus, tajuk di media yang dikontrol pemerintah China mengecam pasar satwa liar yang tidak terkendali di negara itu.

Sumber gambar, Ben Davies
"Kami melihat ini sebagai kesempatan untuk mengakhiri pemeliharaan, pengembangan, domestikasi dan pemanfaatan satwa liar secara permanen. Tidak hanya untuk keperluan daging tetapi juga untuk pengobatan tradisional," kata Debbie Banks, dari Badan Investigasi Lingkungan yang berbasis di London. Organisasi ini telah melakukan penyelidikan besar akan satwa liar di China.
Para ahli mengatakan wabah Avian Influenza atau flu burung membantu pelestarian banyak spesies burung di alam liar.
Mereka juga menunjuk pada keberhasilan larangan yang dilakukan China terhadap impor gading, setelah bertahun-tahun ada tekanan internasional untuk menyelamatkan gajah dari kepunahan.
Mereka, bagaimanapun, menekankan bahwa larangan dan peraturan tentang produk satwa liar harus bersifat global - dan bukan hanya di China.
"Tapi sebagai pasar terbesar produk-produk margasatwa, China tentu bisa memimpin," kata para ahli.









