Virus corona: Mengapa kita tertular penyakit dari hewan?

Virus Corona

Sumber gambar, Mairo Cinquetti/Getty Images

    • Penulis, Prof Tim Benton
    • Peranan, Chatham House, Tim Emerging Risks

Dunia dibuat panik oleh wabah virus corona yang sudah tersebar ke setidaknya 18 negara sejauh ini.

Wabah baru ini umumnya dipandang sebagai peristiwa yang terjadi "sekali" saja.

Namun virus yang diduga kuat berasal dari hewan liar ini memperlihatkan tingginya risiko penyakit yang muncul dari hewan (animal-borne disease).

Ini mungkin akan menjadi masalah lebih besar di masa depan seiring krisis iklim dan globalisasi yang mengubah pola interaksi manusia dengan hewan.

Bagaimana hewan bisa membuat sakit manusia?

Selama 50 tahun terakhir, inang bagi penyakit menular telah berkembang cepat membuat lompatan evolusioner dari hewan ke manusia.

Ayam di peternakan.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Mungkinkah dari tempat-tempat seperti ini penyakit baru bermunculan?

Manusia kerap mendapat penyakit dari hewan dan kebanyakan penyakit baru asalnya dari hewan liar.

Namun perubahan iklim mempercepat proses ini. Meningkatnya urbanisasi dan mobilitas manusia membuat penyakit-penyakit ini menyebar dengan lebih cepat.

Bagaimana penyakit bisa melompat antarspesies?

Banyak hewan yang membawa berbagai patogen - bakteri dan virus yang menyebabkan penyakit.

Patogen ini perlu berevolusi untuk bertahan hidup, dan mereka menginfeksi berbagai spesies sebagai inang untuk mencapai tujuan itu.

Sistem kekebalan tubuh inang akan mencoba membunuh si patogen. Artinya, baik inang maupun patogen terlibat dalam "pertandingan" evolusi untuk menentukan siapa yang berhasil keluar sebagai pemenang.

Misalnya, about sekitar 10% orang yang terinfeksi SARS meninggal dunia dalam epidemi tahun 2003, sedangkan tingkat kematian akibat epidemi "flu biasa" adalah 0.1%.

Monyet-monyet kota

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Penduduk beberapa kota besar di dunia sangat terbiasa hidup berdampingan dengan berbagai hewan.

Perubahan lingkungan dan iklim telah menggusur dan mengubah habitat hewan. Ini turut mengubah cara hidup, tempat tinggal dan pola makan mereka.

Cara hidup manusia juga berubah, sekitar 55% populasi manusia kini hidup di kota, meningkat 35% dibanding 50 tahun lalu.

Kota-kota besar ini menyediakan tempat hidup bagi hewan liar seperti tikus, rakun, tupai, rubah, unggas, anjing liar, monyet yang bisa hidup di ruang terbuka hijau dan memakan sampah yang dihasilkan manusia.

Terkadang hewan liar ini lebih sukses hidup di kota daripada di alam liar karena banyaknya pasokan makanan. Maka ruang kota lantas menjadi tempat pertemuan berbagai penyakit yang berevolusi.

Migrant workers leaving China during a Sars outbreak
GETTY
The new coronavirus

  • 16 countries have confirmed cases of the virus

  • 170 peopleare thought to have died, with almost 8,000 cases confirmed

  • 10%of Sars patients died, compared with 0.1% for "typical" flu

  • $40bnestimated cost of the Sars epidemic to the global economy

  • 90%of disease-causing pathogens are yet to be identified

Source: BBC, NHS, CDC

Siapa paling rentan risiko?

Penyakit baru yang hidup di inang baru sangat berbahaya, tak heran kenapa orang khawatir terhadap kemunculannya.

Beberapa kelompok orang lebih rentan terhadap penyakit baru ketimbang yang lain.

Penduduk miskin perkotaan akan memiliki risiko lebih besar untuk bertemu sumber dan pembawa penyakit karena minimnya fasilitas kebersihan dan kesehatan.

Nutrisi yang buruk, paparan udara berpolusi juga menyebabkan lemahnya sistem kekebalan tubuh. Jika sakit, mereka juga mungkin tak mampu mendapat perawatan kesehatan.

Infeksi juga tersebar cepat di kota besar yang padat. Penduduk menghirup udara dan menyentuh berbagai benda yang sama.

Di beberapa masyarakat, banyak orang makan hewan liar, hewan yang ditangkap di dalam kota atau daging yang didapat dari kawasan sekitar.

Bagaimana penyakit mengubah perilaku?

Hingga hari ini, hampirn ada 8.000 kasus virus corona yang telah dipastikan, dan lebih dari 200 penderita meninggal dunia.

Berbagai negara telah mengambil langkah mencegah penyebaran. Potensi dampak ekonominya jelas.

Peningkatan virus corona

Larangan bepergian sudah mulai diterapkan, orang-orang sudah mulai enggan berinteraksi karena khawatir akan penularan. Perilaku mulai berubah.

Perjalanan antar negara akan semakin sulit, pekerja musiman antar negara akan sulit melakukan perjalanan, rangkaian pasokan produksi akan terganggu.

Hal ini kerap terjadi dalam situasi wabah. Di tahun 2003, epidemi SARS mendatangkan kerugian ekonomi global sekitar $40bn (sekitar Rp546 triliun) dalam enam bulan.

Sebagian jumlah ini berasal dari perawatan epidemi, dan juga akibat penurunan kegiatan ekonomi dan pergerakan manusia.

Apa yang bisa kita lakukan?

Masyarakat dan pemerintah cenderung untuk memperlakukan penyakit menular baru sebagai krisis terpisah, daripada melihatnya sebagai gejala perubahan dunia.

Semakin banyak kita mengubah lingkungan kita, semakin mungkin kita mengganggu ekosistem dan menyediakan peluang munculnya penyakit baru.

Peta perkembangan virus Corona

Saat ini hanya sekitar 10% dari patogen dunia yang telah didokumentasikan, maka dibutuhkan lebih banyak sumber daya untuk mengenali sisanya - dan hewan yang membawa mereka.

Misalnya, ada berapa spesies tikus yang hidup di London dan penyakit apa yang dibawanya?

Penduduk kota umumnya menghargai hewan liar yang ada di kota mereka, tapi potensi penyakit juga harus dikenali.

Meningkatkan kebersihan, pengelolaan sampah dan pengendalian hama merupakan cara untuk mencegah kemunculan dan penyebaran wabah.

Lebih jauh lagi, sudah waktunya mengubah cara kita memperlakukan lingkungan dan pola hubungan kita dengan alam sekitar.

Pandemi adalah bagian dari masa depan kita

Dengan mengakui bahwa penyakit baru muncul dan menyebar sebagai bagian dari perubahan lingkungan akan membuat posisi kita lebih kuat untuk memerangi pandemi, yang tak terhindarkan untuk terjadi lagi di masa depan.

Seabad lalu, pandemi Flu Spanyol menginfeksi sekitar setengah miliar orang dan menewaskan 50-100 juta manusia di seluruh dunia.

Kemajuan teknologi dan investasi besar dalam kesehatan global berarti penyakit-penyakit seperti ini akan bisa lebih dikelola di masa depan.

Namun risiko tetap nyata dan bisa menjadi bencana. Jika hal seperti ini terjadi lagi, ini akan mengubah wajah dunia.

Pada pertengahan Abad ke-20, banyak orang di Barat menyatakan penyakit menular bisa ditaklukkan.

Namun urbanisasi dan menajamnya ketimpangan serta krisis iklim mengubah ekosistem kita, dan kita harus mengakui penyakit-penyakit yang muncul adalah bagian dari risiko yang tumbuh.

line

Tentang tulisan ini

Profesor Tim Benton adalah direktur riset pada Tim Emerging Risks di Chatham House.

Chatham House, the Royal Institute of International Affairs, adalah lembaga analis kebijakan independen yang bekerja untuk ikut membangun dunia yang berkelanjutan, aman, sejahtera dan berkeadilan.

Disunting oleh Eleanor Lawrie.