Tragedi di Danau Toba: Dishub mengaku kewalahan awasi kapal dan penyalahgunaannya

Family members mourn for their missing relatives

Sumber gambar, IVAN DAMANIK/AFP/Getty Images

Keterangan gambar, Lebih dari 180 orang penumpang dicemaskan hilang akibat tenggelamnya kapal Sinar Bangun. Para keluarga mereka meratapi nasib sanak saudara yang nasibnya tak jelas.

Dinas Perhubungan (Dishub) Sumut mengaku kewalahan dalam melakukan pengawasan angkutan perairan, termasuk pengawasan kapal KM Sinar Bangun yang tenggelam, ementara polisi sudah menahan nakhoda kapal.

"Sebelum berlayar mereka itu kan ada izin berlayar. Itu biasa diperiksa. Kemudian saat di tengah berlayar dia angkut penumpang secara ilegal, itu yang tidak bisa kita deteksi," kata Sekretaris Dinas Perhubungan Sumut Darwin Purba, di Dermaga Tiga Ras, Kabupaten Simalungun, Kamis (21/6).

Darwin mengaku pihaknya sulit mengawasi, karena warga sekitar dan para awak kapal, termasuk nahkoda 'sering bandel. Dan data korban masih simpang siur menurutnya karena manifes penumpang hanya mencatat sekitar 95 orang.

Darwin Purba mengibaratkan kapal yang tenggelam itu dengan angkutan kota (angkot) dan bus yang angkut penumpang di tengah jalan tanpa membeli tiket resmi di loket dan tidak diketahui nama serta asal penumpang.

"Informasi yang saya terima bahkan kapal itu membawa 65 sepeda motor. 20 sepeda motor diantaranya adalah Vespa komunitas yang melakukan touring keliling daerah. Ditambah penumpang 185 orang informasinya. Bayangkan, seberat apa kapal itu," tambah Darwin Purbam, sebagaimana dilaporkan wartawan BBC News Indonesia, Dwiki Martha, dan Sulaiman Achmad, seorang wartawan setempat.

Peta

Polisi sudah menahan nakhoda kapal Sinar Bangun yang tenggelam di danau Toba dan menewaskan sejumlah orang dan lebih dari 170 orang masih hilang.

Nakhoda itu, Tua Sagala, adalah satu dari 18 orang yang berhasil diselamatkan saat kapal itu tenggelam, sekitar satu kilometer dari pelabuhan.

"Polisi sedang menyelidiki apakah ada kelalaian yang dilakukan yang bersangkutan, sehingga mengakibatkan kecelakaan itu," kata Kapolres Samosir, AKBP Agus Darodjat, kepada wartawan.

"Namun kami menanyainya masih sedikit demi sedikit, karena keadaannya masih belum pulih. Jadi sekarang prioritasnya adalah pemulihan kesehatannya terlebih dahulu.

Pada hari Kamis (21/6) ini, seluruh korban lain yang berhasil diselamatkan saat tenggelamnya kapal KM Sinar Bangun di danau Toba, yang sebelumnya dirawat di Puskesmas Simarmata dan RS dr Adrianus Sinaga Pangururan Samosir sudah dijemput keluarga masing-masing.

"Keluarga menjemput mulai Selasa (19 Juni 2018). Dan hingga kini, Kamis (21 Juni 2018), semua 18 korban selamat sudah sampai ke pihak keluarga," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Samosir Mahler Tamba.

Sementara itu, upaya pencarian lebih dari 180 penumpang yang dilaporkan hilang, kembali dilanjutkan.

"Sekarang ini, bersama tim gabungan kita masih melakukan pencarian lanjutan ke dalam air menyusuri semua titik Danau Toba," kata Mahler Tamba.

Mahler Tamba mengatakan para keluarga itu datang dari berbagai daerah di Medan, Lubuk Pakam hingga Simalungun dan Siantar.

Menurutnya, mereka diizinkan pulang karena di antara para korban yang selamat itu tidak ada yang mengalami luka berat atau memerlukan perawatan intensif rumah sakit.

"Rata-rata korban mengalami luka ringan dan kedinginan karena lama terapung di dalam air," tambahnya.

korban

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Berdasarkan informasi dari keluarga yang kehilangan, terdapat 178 korban KM Sinar Bangun yang masih dinyatakan hilang.

Presiden Joko Widodo, menyampaikan duka citanya bagi para korban, dan menegaskan bahwa pemerintah akan mengambil berbagai langkah agar kecelakaan tragis seperti itu tidak terjadi lagi.

"Saya sudah memerintahkan kepada Menteri Perhubungan, agar mengevaluasi seluruh prosedur dan standar keselamatan angkutan laut," katanya kepada wartawan, di istana Negara, rabu (20/6).

Sebelumnya, pemerintah sudah menghenikan sementara seluruh angkutan laut di Danau Toba.

Namun dalam pengamatan BBC News Indonesia, masih ada sekitar 5 kapal motor kayu yang masih beroperasi di sepanjang pinggiran Danau Toba, padahal ada ketentuan untuk menghentikan sementara angkutan kapal di danau Toba.

Sekretaris Dinas Perhubungan Sumut Darwin Purba, enggan menjawab rinci.

"Saya tidak terlalu paham larangan Menhub untuk kapal dilarang berlayar itu. Karena aktifitas masyarakat sekitaran Danau Toba juga kan perlu kapal itu," ungkapnya.

Keluarga penumpang KM Sinar Bangun

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Harap-harap cemas penantian keluarga korban.

Dwiki Martha, wartawan BBC News Indonesia yang berkendara dari Binjai menyusuri Danau Toba, Kamis (21/60 pagi bersama Sulaiman Ahmad, seorang wartawan lokal, menyaksikan masih ada kapal yang berlayar di tengah danau.

"Itu kapal penumpang dari jenis yang sama seperti yang mengalami kecelakaan," kata Sulaiman Ahmad kepada BBC News Indonesia.

Hingga Kamis (21/6) sore, belum ada perkembangan dari upaya pencarian. Selain dari 18 yang selamat dan tiga tewas, belum jelas, bagaimana nasib 178 penumpang lainnya yang dilaporkan hilang.

Arus bawah dan vegetasi jadi kendala

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Utara mengungkapkan salah satu alasan sulitnya menemukan korban dan bangkai kapal, adalah karena adanya arus bawah dan rimbunnya vegetasi di sejumlah titik Danau Toba.

"Menurut pengetahuan masyarakat airnya juga mengalir di bawah danau... Dan sehari setelah tenggelamnya kapal, ombak sangat besar, jadi memungkinkan sekali (korban) terbawa arus ke sana kemari," kata Kepala BPBD Sumatera Utara, Riadil Lubis, kepada wartawan BBC News Indonesia, Rafki Hidayat, Rabu (20/06).

Selain itu, Riadil menambahkan, lekukan-lekukan dan sejumlah tanaman di dalam danau dikhawatirkan membuat 'korban tersangkut atau tersembunyi' sehingga sulit terapung.

Korban

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Keluarga menunggu dengan harap-harap cemas di posko informasi.

Sepanjang Rabu, Tim SAR telah menemukan empat jenazah.

"Penemuan pada pukul 08:00, 10:40 dan 15:00. Sehingga total ada lima jenazah. Sementara korban selamat berjumlah 18 orang," tutur Riadil.

KM Sinar Bangun tenggelam pada Senin (18/06) sekitar pukul 17:15 WIB, saat berlayar dari Pelabuhan Simanindo, Pulau Samosir, menuju ke Tigaras, Kabupaten Simalungun.

Sejumlah korban yang menaiki kapal sedang berwisata menikmati libur Lebaran.

Pencarian diperluas ketiga zona

Khawatir korban dan kapal terbawa arus bawah, tim SAR pun mulai Rabu pagi telah memperluas pencarian menjadi tiga zona.

"Zona satu itu di TKP lokasi tenggelamnya kapal. Di sana tim menyelam hingga kedalaman 25 meter. Zona dua itu terletak 100 meter di sebelah kanan TKP. Sementara zona tiga berlokasi 100 meter di sebelah kiri TKP," ungkap Riadil.

Tim SAR

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Pencarian diperluas menjadi tiga zona.

Dalam wawancara dengan BBC News Indonesia, Selasa (20/06), Riadil mengungkapkan bahwa pencarian korban dan kapal akan menantang, karena Danau Toba memiliki kedalaman 900 meter.

Lalu apakah penyelaman sampai kedalaman 25 meter efektif untuk mencari korban?

"Kedalaman 900 meter itu kan yang paling dalam. Di sana-sini tidak sampai segitu. Nah, sekarang cuaca agak cerah, bagus, gelombang danau agak baik, tenang, semoga pencarian bisa ada hasil," jawab Riadil.

Namun, hingga Rabu sore dan setelah zona pencarian diperluas, tanda-tanda keberadaan kapal dan korban tetap belum diketahui.

Kapasitas kapal hanya 43 penumpang

Pencarian penumpang KM Sinar Bangun di Danau Toba

Sumber gambar, EPA

Di tempat terpisah, Kementerian Perhubungan mengonfirmasi bahwa KM Sinar Bangun kelebihan muatan.

"Kapal (ini) berukuran 35 GT (gross tonage) berkapasitas 43 orang. Kapal kecil," kata Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi, dalam konferensi pers di kantornya di Jakarta, Rabu (20/06).

Budi pun mengilustrasikan bahwa untuk kapal dengan ukuran tersebut, sebanyak 80 penumpang masih bisa diangkut, "tetapi kalau 200 (penumpang) mungkin tidak cukup".

Dipaparkannya, ketika berlayar dari Pulau Samosir ke Simalungun, KM Sinar Bangun, dihadang cuaca buruk; hujan deras dan angin kencang. Tidak hanya itu, gelombang danau disebut Budi mencapai dua meter.

Tim SAR

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Pencarian akan dilakukan sampai tujuh hari ke depan.

Kondisi tersebut diperburuk dengan kurangnya jaket pelampung yang "jumlahnya hanya 45 buah. Bayangkan penumpang sebanyak itu (lebih 180 orang), banyak yang tidak pakai life jacket," tutur Menhub.

Budi mengungkapkan pencarian korban akan dilakukan sampai tujuh hari ke depan dan apabila diperlukan akan ditambah tiga hari.