Siaga Gunung Agung: Warga yang menolak mengungsi dan yang tak perlu mengungsi

Sumber gambar, Rio Helmi/LightRocket via Getty Images
- Penulis, Mehulika Sitepu
- Peranan, BBC Indonesia, dari Bali
Desa-desa yang masuk di zona bahaya di seputar unung Agung, Bali, tampak sepi, meski di siang hari masih ada warga yang berkegiatan. Namun di malam hari, mereka kembali ke pengungsian dan desa pun kosong seperti desa yang ditinggalkan.
Dusun Pemuteran di Karang Asem berjarak 12 kilometer dari Gunung Agung dan masuk ke zona kuning.
Zona kuning adalah area yang akan dilalui lahar jika hujan turun.
Di dusun ini saya bertemu seorang ibu yang sedang menjual sawi yang ditanam di halaman belakang rumahnya ke seorang penampung.
Wayan Budi, ibu dua anak ini, mengatakan bahwa dia, seperti pengungsi lainnya, kembali ke dusunnya pada siang hari.
"Buat cari makanan sapi supaya sapinya tidak lapar", alasannya.
Hampir setiap pengungsi yang saya temui selalu mengatakan bahwa yang mereka khawatirkan dari letusan ini adalah ternak mereka - sapi, babi, ayam, burung, anjing atau kambing.
Sebagian dari mereka bahkan membawa hewan peliharaan mereka ke pengungsian.
'Menunggu wangsit'
Namun ada beberapa warga dusun yang sama sekali tidak ikut mengungsi. Siang dan malam mereka tinggal di rumah mereka.
Wayan Ranis, seorang pemangku di pura Dadia mengatakan suara hatinya mengatakan dia masih belum perlu mengungsi.

Sumber gambar, BBC Indonsia
"Saya percaya kepada Tuhan, kepada Yang di Atas. Keselamatan itu bisa terjaga lah. Dan feeling yang utama," kata Ranis.
"(Mendapat) wangsit, mimpi biasanya. Ada firasat tidak bagus. Kalau selama ini saya tak mendapatkan itu. Masih tenanglah, damai. Yah, kalau takut sih, takut", katanya sambil terkekeh.
Bersama dua anaknya dia masih tinggal di rumahnya yang menghadap ke Gunung Agung.
Meski begitu, anak tertuanya sudah diungsikan ke Denpasar karena sedang mengandung ditemani istrinya.
Selain menunggu wangsit, Wayan Ranis yang juga menyaksikan letusan 1963 di dusun yang sama, menjelaskan bahwa tanda-tanda fisik letusan belum muncul sehingga dia tidak perlu khawatir.
"Biasanya kalau letusan pertama sih asap dulu, belum erupsi. Gempa terus-menerus, kalau saya sudah terbiasa."

Sumber gambar, BBC Indonesia
Meski begitu, dia menambahkan, kalaupun tanda-tandanya sudah ada di depan mata, kalau suara hatinya masih berkata tinggal, dia akan tetap tinggal.
"Kalau umpama terjadi awan panas tapi feeling masih bagus yah tetap disini."
'Menjaga keamanan'
Selain Wayan Ranis, saya juga bertemu seorang pecalang di desa itu yang juga memutuskan untuk tinggal siang dan malam di sana.
Budi Artha memutuskan untuk tinggal menjaga keamanan dusun itu dari penyusup.
"Kalau saya mengungsi, siapa yang menjaga ternak dan sebagainya? Sesama teman harus kita membantu. Membantu masyarakat supaya tidak resah di pengungsian", kata Manggih.

Sumber gambar, BBC Indonesia
Bagaimanapun dia mengantisipasi letusan gunung dengan tidur di teras rumah sehingga jika terjadi letusan dia dan istrinya dapat langsung pergi dengan sepeda motor.
Sama seperti Ranis, dia yakin akan keselamatannya karena belum melihat tanda-tanda letusan
"Dari gunung kan kelihatan dari sini, kalau ada awan, abu, awan panas barulah kita pergi. Kalau hanya gempa sedikit-sedkit kan tidak apa," kata Budi Artha yang telah mengungsikan anaknya yang berusia 12 tahun ke Bangli.
'Desa aman'
Saya juga bertemu dengan Wayan Manggih yang yakin bahwa desanya aman dari letusan gunung berapi terbesar di Bali itu.
"Tidak (khawatir) karena dulu orang tua pernah tinggal di sini dan tak mengungsi. Yakin sama Tuhan saja", katanya sambil tertawa.
Jika akhirnya gunung meletus pun, dia berkata tetap akan tinggal.
"Pasrah saya kalau gunungnya meletus."
Dusun ini menghadap gunung agung, dipisahkan oleh sebuah lereng gunung. Itu mungkin mengapa dusun ini berada di zona aman, dan tidak wajib dievakuasi.

Sumber gambar, BBC Indonesia
Meski begitu, petugas PMI, Wayan Minggu, yang ditemui di luar dusun sedang memasang spanduk zona radius 12 km, mengatakan yang dikhawatirkan bukan aliran lava saja, namun hawa panas.
"Itu yang paling ditakuti sebenarnya. Kena awan panas itu langsung terbakar", kata Minggu.
Awan panas dengan suhu 600 - 899 derajat Celcius memiliki kecepatan menuruni lereng gunung 200 - 300 km per jam. Sehingga sangat sulit untuk dihindari.
Warga yang tak perlu mengungsi
Sementara itu, Gubernur Bali telah meminta agar warga Bali yang berasal dari desa yang dinilai aman untuk pulang ke rumahnya masing-masing.
Saat berita ini ditulis, ada sekitar 140 ribu pengungsi dari sembilan kabupaten/kota.

Sumber gambar, BBC Indonesia
Padahal menurut pemerintah Bali berdasarkan data PVMBG, seharusnya hanya ada 27 desa yang berada di radius berbahaya, dengan jumlah pengungsi berjumlah sekitar 70 ribu.
"Sebab, ini menjadi beban. Beban bagi yang menerima pengungsi, dan beban bagi pengungsi yang meninggalkan rumahnya. Oleh karena itu akan dikembalikan ke desanya, kecuali dari 27 desa. Mereka harus tetap mengungsi. Tidak boleh pulang," kata Gubernur Bali I Made Mangku Pastika.
Untuk itu, pemerintah Bali dalam 7 hari akan mengidentifikasi warga yang tidak perlu mengungsi dan membuatkan mereka kartu identitas pengungsi yang ditandatangani oleh kepala desa sebagai kartu hak untuk pengungsi.
Jika desa atau dusun yang menilai lokasi desa mereka rawan, maka I Wayan Artha Dipa, Wakil Bupati Karangasem meminta agar kepala desa dapat "menulis surat ke pemerintah daerah supaya bisa dianggap sebagai zona berbahaya."
Setelah arahan ini, sebagian pengungsi dilaporkan sudah kembali ke desa asal mereka.
Seperti disebutkan Kepala Desa Ulakan, Nengah Dipta, bahwa sudah ada empat belas warga yang sudah pulang ke rumah mereka.
Wakil Bupati Karangasem Artha Dipa mengatakan bahwa para warga itu mengungsi karena "panik, mereka ingin menyelamatkan diri.











