Antisipasi Gunung Agung meletus: Presiden Jokowi temui para pengungsi

Sumber gambar, Laily Rachev - Biro Pers Setpres
Presiden Joko Widodo mengunjungi dua kamp pengungsi, dan mengakui bahwa yang bisa dilakukan adalah meminimalkan dampak karena letusan Gunung Agung tak bisa diperkirakan dengan pasti.
"Tidak ada kepastian kapan meletus atau bahkan jadi meletus atau tidak," kata Presiden saat mengunjungi kamp pengungsi di Gelanggang Olah Raga Swecapura Klungkung, Bali, yang dihuni sekitar 21.000 warga.
"Dan kita juga tidak dapat memprediksi dengan akurat kapan persisnya dan seberapa besar intensitasnya," tambah Jokowi, seperti dilaporkan wartawan Bali, Raiza Andini untuk BBC Indonesia.
Para ahli dari lembaga vulkanologi mengatakan sebelumnya, bahwa berbagai tanda menunjukkan bahwa Gunung Agung hampir pasti akan meletus, namun waktu persisnya tak bisa diperkirakan.
Karenanya dilakukan pengungsian warga besar-besaran dari berbagai desa yang dikategorikan berada di zona bahaya.
Sejauh ini sudah lebih dari 75.000 warga diungsikan, yang disebar di berbagai kamp pengungsian.

"Pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten akan terus berupaya sekuat tenaga agar kerugian masyarakat bisa diminimalisir sekecil mungkin, termasuk tentu saja kegiatan ekonomi yang terhenti dalam ketidakpastian ini karena rakyat di sini mengungsi."
"Tapi tentu saya prioritas yang terpenting adalah keselamatan," tandas Jokowi.

Untuk itu, Jokowi menambahkan, "seluruh warga di sekitar Gunung Agung harap patuh kepada seluruh instruksi petugas, gubernur, bupati, BNPB, agar kita sekuat tenaga bisa meminimalisir seluruh dampak, dari kemungkinan letusan gunung Agung."
Jokowi didampingi ibu negara, Iriana, dan sejumlah menteri, membawa pula 13 truk sembilan bahan pokok, serta buku-buku untuk anak-anak.

Sumber gambar, Laily Rachev - Biro Pers Setpres
Kasbani, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), mengatakan bahwa indikasi akan terjadinya letusan Gunung Agung sudah terlihat.
Yaitu gempa yang terus dirasakan sampai ke pos pantau, asap yang mulai terlihat di puncak gunung Agung serta aktifitas kegempaan vulkanik dangkal dan dalam yang makin tinggi.
Gejala-gejala tersebut merupakan karakteristik khas gunung Agung sebelum terjadinya erupsi.
"Potensi meletus besar dan belum ada tanda menurun," kata Kasbani.
Gunung Agung meletus terahir kali pada tahun 1963, menewaskan 1500 orang saat kejadian, dan ratusan lain akibat peristiwa pasca letusan.
Sebelum 1963, Gunung Agung tercatat pernah meletus pada 1808, 1821, dan 1843 dengan tiga periode letusan yang bersifat eksplosif, yang ditandai lontaran batuan pijar, lava, dan hujan abu.









