Aktivitas magma mendekati puncak Gunung Agung, pengungsi meningkat

Gunung Agung

Sumber gambar, SONNY TUMBELAKA/AFP/Getty Images

Keterangan gambar, PVMBG telah menetapkan status awas (level IV) untuk Gunung Agung

Aktivitas Gunung Agung di Bali tetap tinggi dengan semakin banyaknya gempa vuklanik dangkal, yang tercatat 38 kali selama enam jam.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi PVMBG, Kasbani mengatakan peningkatan gempa vulkanik itu menunjukkan pergerakan magma mulai naik ke permukaan.

"Kegempaan masih tinggi dan gempa vulkanik dangkal semakin banyak merupakan indikasi bahwa sumber letusan dekat dengan permukaan kawah gunung," jelas Kasbani kepada BBC Indonesia, Minggu (24/09).

Berdasarkan pantauan dari Pos Pemantauan Gunung Agung yang terletak di Desa Rendang, Kecamatan Rendang, Karangasem, juga mencatat sering terjadinya gempa tektonik lokal mencapai 3,5 skala richter.

Sejak pukul 00.00 - 12.00 Wita tercatat 332 kali gempa vulkanik dalam, 211 kali vulkanik dangkal dan 43 kali gempa tektonik lokal.

Kepala bidang Mitigasi Gunung Api PVMBG Gede Suantika mengatakan aktivitas magma berada pada jarak 1-2 km di bawah puncak Gunung Agung.

Meski demikian aktivitas Gunung Agung tidak dapat diperkirakan, bahkan penurunan status juga dimungkinkan ""Tidak bisa dipastikan kapan, tergantung aktivitas kegempaan," jelas Suantika.

Selain aktivitas kegempaan, dari pemantauan juga menunjukan adanya asap putih solfatara di puncak Gunung Agung. "Secara visual terlihat asap putih setinggi 200 meter di puncak gunung," ujarnya.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi PVMBG telah menetapkan status awas (level IV) untuk Gunung Agung.

Sementara itu, penerbangan dari dan menuju Bali masih normal, dan belum ada gangguan.

Bali

Sumber gambar, SONNY TUMBELAKA/AFP/Getty Images

Keterangan gambar, Para pengungsi di pos pengungsian GOR Swecapura, Klungkung, Bali.

Gelombang pengungsi

Peningkatan status Gunung Agung menyebabkan peningkatan gelombang pengungsi dari desa-desa sekitarnya, sementara sejumlah desa yang berada di radius kurang dari 5 km puncak Gunung Agung telah dikosongkan.

Sampai Mingg sore Badan Nasional Penanggulangan Bencana BNPB menyebutkan jumlah pengungsi mencapai 34.931 jiwa yang tersebar di 238 titik pengungsian.

Seorang penduduk Banjar Dinas Sebudi, Desa Sebudi, kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem. Made Sukarta (43) mengatakan memilih mengungsi karena merasakan getaran gempa."Getarannya keras sekali," kata Sukarta yang ditemui di pos pengungsian GOR Swecapura, Klungkung, Bali, Minggu (24/9).

Wayan Sukarta

Sumber gambar, BBC INDONESIA

Keterangan gambar, Wayan Sukarta terpaksa menjual sapi di bawah harga normal.

Dia mengungsi bersama istri dan seorang anak dan terpaksa menjual satu-satunya sapi miliknya dengan harga Rp 5 juta, jauh di bawah harga normal. "Dua hari lalu sudah jual sapi satu ekor, dijual Rp 5 juta. Biasanya dulu 12 juta, terpaksa karena keadaan, yang penting kita selamat," kata Sukarta.Selama di pengungsian Sukarta mengalu mendapat pelayanan yang cukup baik. Namun, dia berharap semua cepat selesai dan bisa segera kembali ke rumah.

Wayan Tami

Sumber gambar, BBC INDONESIA

Keterangan gambar, Wayan Tami telah mengungsi selama empat hari.

Warga Desa Telungbuana, kecamatan Selat, Karangasem Wayan Tami mengaku terpaksa menjual ternaknya, karena khawatir jika ditinggalkan di rumah.

Bersama keluarga, dia sudah empat hari mengungsi, karena tak tahan dengan getara gempa akibat peningkatan aktivitas Gunung Agung yang semakin keras.

Wayan mengaku tak mengetahui sampai kapan harus berada di pengungsian.

"Harapannya gunungnya cepat-cepat meletus biar cepat pulang," kata Wayan.