Murid dan pengelola 'sekolah Gulen' di berbagai negara merasakan tekanan

Sumber gambar, BBC Indonesia
- Penulis, Jenny Norton dan Cagil Kasapoglu
- Peranan, BBC World Service
“Saya pikir sangat menyedihkan dan salah ketika mereka berpikir kami teroris, sebab kami bukan (teroris),” kata Chilla, seorang siswi SMA Kharisma Bangsa di Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Provinsi Banten.
Sebagai murid SMA, konsentrasi Chilla selama ini adalah bagaimana mendapatkan nilai-nilai yang baik agar bisa melanjutkan ke fakultas kedokteran.
Namun, konsentrasi itu terpecah sejak akhir Juli lalu, ketika pemerintah Turki melalui kedutaannya di Jakarta menuding sekolah mereka terkait dengan ‘organisasi teroris’.
- <link type="page"><caption> Tidak terkait Fethullah Gulen, dua mahasiswi RI dilepaskan aparat Turki </caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/08/160825_indonesia_turki_wni_bebas" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Erdogan dukung pembasmian pengikut ulama Fethullah Gulen </caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/08/160807_dunia_turki_erdogan_gulen_pembasmian" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Upaya kudeta Turki: 45.000 orang ditangkap dan dipecat</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/07/160720_dunia_turki_tambah_ditahan" platform="highweb"/></link>
Dalam surat keterangan kepada pers, tertanggal 28 Juli 2016, Kedutaan Besar Turki di Jakarta menegaskan Kharisma Bangsa dan delapan sekolah lainnya di Indonesia harus ditutup karena memiliki keterkaitan dengan Fethullah Gulen, seorang ulama Turki yang dituduh menjadi dalang kudeta gagal pada 15 Juli lalu yang menewaskan lebih dari 270 orang meninggal dunia.
Sembilan sekolah tersebut, menurut Kedutaan Turki, adalah bagian dari jaringan luas dan rahasia yang digunakan gerakan Gulen untuk membangun kekuatan dan menyusupi berbagai institusi negara.
Tudingan serupa dialamatkan kepada sekolah-sekolah di puluhan negara, mulai dari Jerman hingga Afghanistan. Hal ini menyebabkan ribuan anak menghadapi ketidakpastian dalam pendidikan mereka.

Sumber gambar, BBC Indonesia
Para pendukung sekolah-sekolah itu mengatakan mereka merupakan institusi-institusi yang berafiliasi karena memiliki kesamaan nilai dan berkomitmen memajukan pengetahuan akademis.
Dalam serangkaian wawancara BBC dengan sejumlah murid, orang tua, dan pejabat di 10 negara dalam tiga benua, jelas bahwa sekolah-sekolah ini punya kesamaan, namun beroperasi secara berbeda. Kini, semuanya merasakan tekanan.
Apa yang dimaksud dengan sekolah Gulen?
Tidak ada satu nama yang sama untuk menyebut sekolah-sekolah ini.
Di Pakistan, sekolah-sekolah ini disebut Pak-Turk Lycees, di Kyrgyzstan disebut ‘Sebat’ atau Sekolah Keteguhan, dan di Kenya, Light Academies.
Sebagian besar dibentuk atas dasar kerja sama antara pihak di Turki dengan institusi lokal. Namun, di banyak negara, seperti di Indonesia dan Kyrgyzstan, mitra dari Turki tak lagi terlibat langsung.

Sumber gambar, REUTERS
Pihak lokal maupun Turki mengatakan mereka pengagum Fethullah Gulen, tapi tidak terhubung dengannya secara formal.
“Sebuah sekolah Gulen, usaha, atau surat kabar pada umumnya dilabeli demikian secara tidak resmi…karena pemiliknya atau manajernya menganggap Fethullah Gulen sebagai pemimpin spiritual atau sumber inspirasi,” kata akademisi Turki, Bayram Balci.
Balci kemudian menjelaskan sistem kepemilikan sekolah-sekolah tersebut.
“Tidak ada hubungan kepemilikan atau keterkaitan secara langsung dan terbuka. Jadi, sulit mengetahui secara pasti apakah sebuah institusi terafiliasi atau tidak terafiliasi dengan gerakan dan seberapa jauh hubungannya,” kata Balci.
Alp Aslandogan, yang berbincang atas nama sekolah-sekolah terkait Gulen di Amerika Serikat, mengatakan ada berbagai jaringan sosial di dalam gerakan.

“Sekolah-sekolah, yang dipandang terafiliasi dengan gerakan, awalnya dimulai oleh orang-orang di dalam jaringan-jaringan ini,” kata Aslandogan.
Etos disiplin ‘sekolah Gulen’
Para pengikut Fethullah Gulen kerap menyebut gerakan mereka dengan nama Hizmet atau pelayanan. Di sekolah-sekolah, etika itu teserap.
“Sekolah ini, walau sekolah umum, tetapi dia menitikberatkan pada pendidikan karakter, moral, disiplin ke anak-anak,” kata Rosi, salah satu orangtua murid di Kharisma Bangsa.
Di samping menekankan pada karakter dan moral, sekolah-sekolah ini sangat berfokus pada sains.
Laman internet sekolah-sekolah di Nairobi, Kenya, hingga Kandahar, Afghanistan, menampilkan para murid dengan seragam rapih dan belajar di laborarium berfasilitas lengkap serta ruang komputer.
”Anak-anak belajar setiap hari hingga pukul 15.00 sore, lalu mereka ada kelas tambahan, kegiatan ekstrakurikuler, dan mengerjakan pekerjaan rumah. Pada 21.00, mereka duduk santai untuk minum teh dan pada pukul 22.00 saatnya tidur,” kata Baktigul, yang menyekolahkan anaknya di sebuah sekolah Turki di Kyrgyzstan.

Sumber gambar, BBC Indonesia
Rutinitas itu, menurut Maxim Urazaev, lulusan sekolah Turki di Kota Kazan, Rusia, pada 2009, ”lebih keras dari dinas militer”.
Seberapa dekat dengan Gulen?
Sejumlah kepala sekolah mengatakan kepada BBC bahwa sekolah yang mereka pimpin bukanlah bagian dari struktur formal.
Kepala sekolah ”Sebat” 21 di Kyrgyzstan, Nurlan Kudaberdiev, mengaku mereka terkait dengan Fethullah Gulen secara informal karena pendirian sekolah adalah idenya.
”Tapi tidak ada pengaruh langsung atau pendanaan dari pihaknya lagi,” tegasnya.
Jauh sebelum pemerintah Turki berupaya menutup sekolah-sekolah itu, sejumlah negara lain mengambil tindakan sendiri di tengah kecurigaan terhadap jaringan Gulen di luar negeri.

Sumber gambar, BBC Indonesia
Pada 2000, Uzbekistan menutup semua sekolah yang terkait dengan Gulen. Langkah serupa ditempuh di Rusia. Dari 50 sekolah yang beroperasi di sana pada 2008, hanya tujuh sekolah yang masih menjalankan kegiatan belajar-mengajar. Aksi di kawasan Tatarstan, yang dihuni warga berbahasa Turki dan mayoritas beragama Islam, ditempuh dalam pengawasan Kementerian Pendidikan Rusia.
Sekuler atau berbasis keagamaan?
Sekolah-sekolah tersebut menyebut landasan mereka adalah sekuler serta mendorong toleransi dan dialog lintas keagamaan.
”Sepanjang lima tahun saya bersekolah, tidak pernah sekalipun saya melihat Al Quran atau Injil,” kata Maxim Urazaev, dari Kota Kazan, Rusia.
Akan tetapi, di Rusia dan di negara lain, sekolah-sekolah itu justru dituding menjalankan studi keagamaan secara rahasia di luar sekolah.
Banyak negara-negara bekas Uni Soviet amat curiga dengan kegiatan keagamaan di luar kendali pemerintah.
Seorang mantan guru di kawasan Tatarstan, Rusia, menepis anggapan adanya “perkumpulan rahasia”. Namun, dia mengaku kepada BBC bahwa murid-murid bisa beribadah bersama guru-guru mereka dan berbincang soal agama.
Di Kenya, mantan siswa dan guru menunjukkan kepada kami buku-buku karya Fethullah Gulen yang mereka terima.
Di Kyrgyzstan, Zainal yang berusia 15 tahun, mengatakan para siswa kadang kala ditunjukkan video-video tentang Islam. Namun, ibunya, Bakhtigul, menyebut video-video itu tidak bermasalah.

Sumber gambar, BBC Indonesia
“Saya bahkan memeriksa buku-buku di perpustakaan mereka untuk melihat apakah mereka punya literatur tentang Gulen atau buku-buku mencurigakan, tapi tidak ada,” ujar Bakhtigul.
Penyebaran sekolah Gulen
Sekolah-sekolah yang terafiliasi dengan Gulen telah ada di Turki sejak 1970-an. Namun, penyebarannya secara global baru menjadi fenomena dalam 20 tahun terakhir.
Perkembangan itu terjadi ketika Fethullah Gulen semakin dekat dengan Recep Tayyip Erdogan, pimpinan Partai AK yang meraih kemenangan di Turki pada 2002.
Dengan mengajarkan bahasa Turki dan mempromosikan budaya Turki ke sekolah-sekolah posisi Turki semakin kuat dan pengaruhnya tersebar jauh ke bekas Uni Soviet, Asia Timur, dan Afrika, tempat Turki berinvestasi hingga US$6,2 miliar.
Somalia menjadi contoh investasi dan bantuan Turki. Di sana, tiga sekolah yang terkait Gulen menyediakan pendidikan bagi lebih dari 1.000 anak.
Kesempatan dan koneksi
Walaupun sekolah-sekolah itu menarik anak-anak dari kaum elite, mereka juga menawarkan beasiswa bagi keluarga tidak mampu.
Di Pakistan, sekitar seperempat dari seluruh anak yang belajar di ‘sekolah Gulen’ dibiayai beasiswa. Adapun di Afghanistan jumlahnya mencapai 30%.
Sekolah-sekolah itu juga menawarkan kesempatan untuk bepergian ke kompetisi antarsekolah yang disebut ‘Olympiad’. Pelajar-pelajar cerdas dari Kabul telah berkompetisi di ajang matematika dan bahasa Turki di Uganda, lalu siswa dari Mogadishu menguji kemampuan mereka di Kazakhstan.
Sekolah-sekolah itu mengatakan ajang-ajang tersebut merupakan cara untuk menjalin jaringan pertemanan global.

Sumber gambar, AP
Tapi, di sisi lain, pemerintah Turki berargumen bahwa inilah caranya gerakan Gulen, yang dituduh mendalangi gerakan kudeta, merekrut anggota baru di berbagai negara.
Tekanan
Respons atas tuntutan pemerintah Turki untuk menutup sekolah-sekolah ini amat beragam.
Tiga sekolah di Somalia langsung ditutup dan staf pengajar Turki dikirim ke negaranya. Sekolah-sekolah itu dibuka kembali di bawah pengelola baru yang memperkerjakan guru-gutu Somalia dengan pendanaan dari Kedutaan Turki.
Di Azerbaijan, Universitas Qafqaz yang terkait Gulen kini dikelola pemerintah.
Namun, di Indonesia, Menteri Pendidikan Muhajir Effendi mengunjungi Sekolah Kharisma Bangsa dan puas dengan cara sekolah itu dikelola. Dia menepis tudingan pemerintah Turki bahwa sekolah itu terkait dengan jaringan teror.
Kemudian di Kyrgyzstan, Presiden Almazbek Atambayev menegaskan “sekolah-sekolah itu berkualitas tinggi dan kami memerlukannya.”
Pemerintah Kenya dan Nigeria juga menolak tekanan Turki.
Namun, tidak demikian halnya dengan di Pakistan. Sebanyak 23 guru asal Turki didepak. Bahkan, Menteri Pendidikan Pakistan, Muhammed Baligh ur Rahman, mengatakan kepada BBC Urdu bahwa jika Turki meragukan guru-guru di sekolah-sekolah tersebut, maka Pakistan “bisa tidak membuat mereka melanjutkan”.

Sumber gambar, BBC Indonesia
Hal ini menimbulkan kerasahan di kalangan siswa dan guru.
“Tidak terpikirkan bagi kami bahwa sekolah ini bisa mempertahankan standar tinggi jika guru-gurunya dipulangkan,” kata Alamgir Khan, Ketua Yayasan PakTurk yang mengelola 28 sekolah.
Kontroversi ini juga telah mencapai daratan Eropa.
Sejumlah anggota parlemen Belanda mengutarakan keberangan tatkala kantor berita Turki, Anadolu, menyebut delapan SD terkait dengan “organisasi teroris”.
Di Jerman, sejumlah pejabat mengungkapkan keprihatinan mereka ketika diminta pejabat-pejabat Turki untuk menyelidki sekolah-sekolah di Berlin dan Stuttgart.
Apapun masa depan mereka, berbagai mantan murid di negara-negara, seperti Afghanistan, telah beranjak ke strata pendidikan yang lebih tinggi dan bekerja di bidang kedokteran, jurnalisme, dan bisnis.
Namun, Turki mengkhawatirkan kemunculan sebuah kekuatan yang suatu hari menjungkirkan kekuasaan petahana.
Di tengah bentrokan itu, terdapat ribuan anak dan keluarga mereka.
“Jika Turki punya masalah, jangan libatkan kami. Kami di sini hanya belajar dan mengejar impian kami,” kata Salwa, murid SMA Kharisma Bangsa.










