Perang narkoba di Filipina 'perlu waktu lebih lama'

Sumber gambar, Reuters
Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengatakan ia memerlukan waktu enam bulan lagi untuk menuntaskan perang memberantas narkoba.
Pengakuan ini berbeda dengan janjinya dalam kampanye pemilihan presiden lalu bahwa ia akan memberantas narkotika dan kejahatan dalam tempo enam bulan pertama menjabat sebagai presiden.
"Saya tidak menyadari betapa parah dan serius ancaman narkoba di republik ini sampai saya menjadi presiden," kata Presiden Duterte dalam jumpa pers di Davao pada Minggu (18/09).
"Berikan saya perpanjangan waktu, mungkin enam bulan lagi."
- <link type="page"><caption> Presiden Duterte 'perintahkan pembunuhan lawan politiknya'</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/09/160915_dunia_filipina_duterte" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Jokowi ajak Duterte blusukan, pegiat kecam 'kebrutalan' Duterte</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/09/160909_indonesia_kunjungan_duterte" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Berbagai ucapan kontroversial Presiden Duterte</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/09/160906_dunia_duterte_pernyataan" platform="highweb"/></link>
Sejauh ini lebih dari 3.000 orang mati karena pembunuhan di luar proses hukum atau pembunuhan oleh milisi sejak Rodrigo Duterte menjabat sebagai presiden pada akhir Juni.
Presiden Filipina itu berkali-kali menyetujui penggunaan kekerasan dalam perang melawan narkotika.
Di tengah upaya tersebut, pekan lalu muncul tuduhan bahwa Duterte memerintahkan pembunuhan ribuan orang yang diduga sebagai penjahat ketika Duterte menjabat sebagai wali kota Davao.

Sumber gambar, AP
Disebutkan pula, Duterte memerintahkan pembunuhan terhadap para musuh politiknya.
Tuduhan dikeluarkan oleh seorang mantan pembunuh bayaran yang memberikan kesaksikan di hadapan Senat Filipina.









