Rakyat Cina 'marah besar' soal putusan Laut Cina Selatan

Warga Cina

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Pengunjuk rasa propemerintah Cina melemparkan telur ke foto Presiden Obama dan fotokopi putusan Mahkamah Arbitrase.

Rakyat Cina 'sangat marah' atas keputusan Mahkamah Arbitrase di Den Haag yang menyatakan klaim Cina di Laut Cina Selatan tak memiliki landasan hukum.

Hal ini disampaikan pengamat politik di Beijing, Xu Liping, yang mengikuti reaksi warga Cina melalui surat kabar dan media sosial.

"Rakyat biasa sangat marah dan menganggap putusan pengadilan di Belanda sebagai ancaman terhadap kedaulatan Cina di Laut Cina Selatan," kata Xu Liping kepada BBC Indonesia, hari Kamis (14/07).

  • <link type="page"><caption> Filipina: Cina harus menghormati keputusan pengadilan di Den Haag</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/07/160713_dunia_filipina_cina_asem_lautcinaselatan.shtml" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Indonesia meminta semua pihak hormati keputusan mahkamah</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/07/160713_indonesia_laut_cina.shtml" platform="highweb"/></link>

Pantauan di WeChat, salah satu aplikasi pesan yang populer, memperlihatkan desakan kepada pemerintah untuk melakukan konfrontasi.

"Beri saya senjata," kata seorang pengguna WeChat.

'Ditolak rakyat'

Kasus klaim teritorial ini diajukan oleh pemerintah Filipina, yang membuat muncul desakan di Cina agar Cina memboikot mangga dari Filipina.

Xu Liping menjelaskan kemarahan dan frustrasi rakyat juga diarahkan ke Amerika Serikat dan Jepang.

"Warga di sini menganggap keputusahan Mahkamah di Belanda dipengaruhi oleh Amerika dan Jepang," kata Xu Liping.

Ia menjelaskan bahwa di Cina semua orang menganggap bahwa Cina punya hak kedaulatan di Laut Cina Selatan dan hal ini dikatakan secara jelas kepada murid-murid SMP dan SMA.

"Dan sekarang ada keputusan mahkamah bahwa Cina tak punya kedaulatan wilayah di Laut Cina Selatan. Keputusan ini tak bisa diterima oleh rakyat Cina. Rakyat menolak keputusan tersebut," katanya.