Irak alami pemboman terburuk sejak invasi AS, 250 orang tewas

Jumlah korban ledakan bom di Baghdad adalah yang terbanyak sejak 2003.

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Jumlah korban ledakan bom di Baghdad adalah yang terbanyak sejak 2003.

Korban meninggal dunia akibat bom bunuh diri di Baghdad, pada Minggu (03/07), telah mencapai 250 orang. Sebelumnya disebutkan korban meninggal mencapai 165 orang.

Jumlah itu menjadikan serangan tersebut sebagai yang paling mematikan sejak invasi pimpinan Amerika Serikat pada 2003.

Insiden berawal ketika truk penuh bom diledakkan di daerah Karrada saat warga sedang berbelanja untuk keperluan Ramadan. Daerah yang dihuni mayoritas pemeluk Syiah tersebut rusak parah.

  • <link type="page"><caption> Jumlah korban tewas bom di Baghdad menjadi 165 orang</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/07/160704_dunia_update_baghdad" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Mengapa ISIS melakukan pemboman saat Ramadan?</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/07/160705_dunia_isis_puasa" platform="highweb"/></link>

Sejumlah orang terluka tetapi sebagian besar sudah dibebaskan dari rumah sakit, menurut Kementerian Kesehatan Irak.

Pemerintah mengatakan korban luka parah telah dikirim ke luar negeri, tanpa penjelasan lebih lanjut.

Kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS mengaku melakukan serangan bunuh diri tersebut.

Sejumlah penduduk menggelar doa berjamaah untuk para korban ledakan.

Sumber gambar, AP

Keterangan gambar, Sejumlah penduduk menggelar doa berjamaah untuk para korban ledakan.

Hingga kini, Irak masih dalam keadaan berkabung nasional. Penduduk setempat menyelenggarakan doa berjamaah demi perdamaian.

Kritik publik

Insiden ini menjadikan pemerintah Irak sebagai sasaran kritik publik. Bahkan, Perdana Menteri harus berhadapan dengan khalayak yang geram ketika dia mengunjungi lokasi ledakan.

Terkait dengan pemboman, Menteri Dalam Negeri Irak, Mohammed Ghabban, mengajukan pengunduran diri. Namun, permohonannya belum diterima.

Ghabban menilai pos-pos pemeriksaan yang tersebar di Baghdad "sama sekali tidak berguna", sebagaimana dikutip kantor berita AFP.

Pemerintah Irak kini meningkatkan taraf keamanan di Baghdad dan akan mengeksekusi terpidana kasus terorisme dalam waktu dekat.