Kasus 'pelecehan' terhadap para diplomat AS di Rusia meningkat

Sumber gambar, GETTY IMAGES
Sejumlah pejabat Amerika Serikat mengklaim pelecehan terhadap diplomat-diplomat AS oleh petugas keamanan dan intelijen Rusia meningkat.
Sedemikian menganggunya persoalan ini, pemerintah AS telah membahasnya secara langsung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS.
Beragam insiden pelecehan aparat Rusia terhadap staf diplomat AS dimulai dua tahun yang lalu setelah pemerintah AS menjatuhkan sanksi atas krisis Ukraina, tambahnya. Namun dia tidak mengungkapkan secara spesifik insiden pelecehan yang dimaksud.
Surat kabar Washington Post menyebutkan kasus-kasus pelecehan itu antara lain pembobolan rumah staf kedutaan, menata ulang perabotan rumah, hingga membunuh hewan peliharaan keluarga diplomat.
- <link type="page"><caption> Krisis Ukraina: Pembicaraan telepon diplomat AS bocor</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2014/02/140207_ukraina_as" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Rusia menahan 'agen CIA' di Moskow</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2013/05/130514_rusia_amerika_diplomat_cia" platform="highweb"/></link>
Sejauh ini belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Rusia. Namun, kepada Washington Post, pemerintah Rusiatidak menyangkal tuduhan itu. Lebih jauh, pemerintah Rusia mengatakan AS justru melancarkan provokasi terhadap para diplomat Rusia.
Mantan duta besar AS untuk Rusia, Michael McFaul, mengatakan kepada surat kabar tersebut bahwa saat keluarganya tinggal di Moskow, mereka rutin dibuntuti oleh para petugas keamanan Rusia.
Aparat Rusia tersebut, kata McFaul, menginginkan dirinya mengetahui bahwa keluarganya tengah diawasi.
Dia mengatakan kejadian-kejadian seperti ini meningkat setelah AS dan Uni Eropa memberlakukan sanksi terhadap para pemimpin Rusia setelah Rusia menganeksasi Krimea dalam konflik di Ukraina.
"Setelah invasi Ukraina, kasus-kasus pelecehan itu semakin banyak, dan menjadi jauh lebih buruk," ujar McFaul kepada Washington Post.
"Kami merasa diperangi di kedutaan," katanya.









