Rusia 'meretas data Demokrat tentang Donald Trump'

Sumber gambar, AP
Para pengurus Partai Demokrat di Amerika Serikat mengatakan bahwa para peretas yang bernaung di bawah pemerintah Rusia telah menembus sistem keamanan komputer Komite Nasional Demokrat (DNC).
Mereka diduga melakukan hal ini untuk memperoleh hasil penelitian mengenai capres dari Partai Republik, Donald Trump.
Jaringan komputer Komite Nasional Demokrat ini telah disusupi dalam sebuah insiden "serius", kata ketua DNC, Debbie Wasserman Schultz.
Dia mengatakan telah menyewa sebuah perusahaan keamanan cyber untuk membantu, "menendang keluar para penyusup dan mengamankan jaringan kami".
Namun Rusia membantah telah terlibat dalam aksi peretasan tersebut.
"Saya benar-benar mengesampingkan kemungkinan bahwa pemerintah (Rusia) atau lembaga-lembaga pemerintah terlibat dalam kasus ini," ujar Dmitry Peskov, juru bicara Kremlin, mengatakan kepada kantor berita Reuters di Moskow.
Peristiwa diretasnya jaringan komputer ini dilaporkan pertama kali oleh Washington Post.
- <link type="page"><caption> Apa sebenarnya arti di balik 'ciuman Trump dan Putin'?</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/05/160520_vert_cul_trump_putin" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Media Korea Utara sebut Donald Trump politikus bijak</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/06/160601_dunia_korut_trump" platform="highweb"/></link>
Para pejabat DNC mengatakan memang tidak ada informasi pribadi atau data keuangan yang bocor, tetapi email dan informasi percakapan telah dicuri.
'Musuh canggih'
Kelompok itu mengatakan para peretas, yang merupakan "musuh canggih", kini telah dihapus dari sistem, dan upaya menyusupi jaringan komputer DNC ini pertama kali diketahui pada bulan April.
"Kedua lawan terlibat dalam spionase politik dan ekonomi yang luas untuk kepentingan pemerintah Federasi Rusia dan diyakini terkait erat dengan intelijen pemerintah Rusia yang tangguh dan berkuasa," kata perusahaan keamanan cyber CrowdStrike.
Organisasi lain yang dijadikan sasaran oleh kelompok-kelompok dari Rusia ini diantaranya jaringan calon presiden Hillary Clinton dan Donald Trump serta beberapa komite aksi politik Partai Republik, menurut Washington Post.
Presiden Rusia Vladimir Putin pernah menyatakan kekagumannya pada Trump, capres yang menyarankan AS keluar dari NATO dan juga menggambarkan Putin sebagai idolanya.
"Keamanan sistem sangat penting untuk operasi kami dan kepercayaan atas kampanye-kampanye serta kerja sama kami dengan sejumlah partai di negara ini," kata Wasserman Schultz.
"Saat kami mengetahui ada gangguan seperti itu, kami menganggap hal ini adalah insiden serius dan meminta kelompok keamanan cyber CrowdStrike untuk segera menyelesaikan permasalahan ini."
Pada tahun 2015, para peretas dari Rusia juga dituduh telah membajak email Presiden Obama.









