Rodrigo Duterte menyatakan menang pilpres Filipina

Rodrigo 'Digong' Duterte

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Rodrigo 'Digong' Duterte sejak awal diperkirakan akan menang.

Calon presiden Filipina yang kerap mengeluarkan komentar kontroversial menyatakan kemenangan dalam pemilihan presiden.

Rodrigo 'Digong' Duterte, yang menjabat Wali Kota Davao, menambahkan dia menerima mandat rakyat itu dengan kerendahan hati.

Dengan 88% suara yang sudah dihitung sejauh ini, dia meraih 14 juta suara atau enam juta lebih banyak dari saingan terdekatnya, Manuel Roxas.

  • <link type="page"><caption> Aksi penembakan warnai pemilu Filipina</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/05/160508_dunia_filipina_keamanan" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Keamanan ditingkatkan untuk pemilihan presiden Filipina</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/05/160508_dunia_filipina_pemilu" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Bakal calon presiden Filipina minta maaf terkait perkosaan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/04/160419_dunia_filipina_perkosaan" platform="highweb"/></link>

Lima calon bersaing dalam pemilihan untuk menggantikan Presiden Benigno Aquino dan sejak awal Duterte memang diperkirakan akan menang.

Polisi

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Pada hari pemungutan suara, 10 orang tewas karena kekerasan terkait pemilu.

Pria berusia 71 tahun ini mendapat dukungan meluas karena berjanji akan mengatasi kriminalitas di Filipina dengan tegas. Dia antara lain mengatakan akan membunuh ribuan penjahat.

Komentar kontrovesial lainnya adalah tentang pemerkosaan dan pembunuhan seorang misionaris perempuan asal Australia di penjara Davao pada tahun 1989 dengan mengatakan 'wali kota harus mendapat kesempatan pertama'.

Pemilih di Filipina

Sumber gambar, Getty

Keterangan gambar, Banyak pemilih yang mendukung kebijakan Duterte mengatasi kriminalitas di Filipina.

Pemungutan suara yang berlangsung, Senin 9 Mei, harus diperpanjang di beberapa tempat karena masalah dalam mesin penghitung suara.

Lebih dari 100.000 polisi dikerahkan karena kekhawatiran akan kekerasan, yang sering terjadi dalam persaingan politik Filipina pada masa sebelumnya. Pada hari pemungutan suara, dilaporkan 10 orang tewas karena kekerasan terkait dengan pemilu.