Serangan udara Rusia atas Suriah tetap berlangsung

Sumber gambar, AP
Rusia akan meneruskan serangan udara di Suriah walau sudah memulai penarikan mundur sebagian besar pasukannya, seperti dijelaskan seorang pejabat tingginya.
Wakil Menteri Pertahanan, Nikolay Pankov, menyebutkan terlalu cepat untuk mengatakan 'mengalahkan terorisme' setelah dilancarkannya upaya membantu pemerintah Suriah pimpinan Presiden Bashar al-Assad.
Pasukan Rusia mulai menarik diri dari Suriah, Selasa 15 Maret, setelah perintah Presiden Vladimir Putin yang 'mengejutkan' dunia internasional. Sebagian pasukan dilaporkan sudah mendarat kembali di Rusia.
- <link type="page"><caption> Pasukan Rusia bersiap tinggalkan Suriah</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/03/160314_dunia_rusia_serangan_suriah" platform="highweb"/></link>
- <link type="page"><caption> Tentara Rusia diperintahkan mundur dari Suriah</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/03/160314_dunia_rusia_suriah" platform="highweb"/></link>
Pengumuman Putin itu disambut baik oleh utusan PBB untuk Suriah, Staffan De Mistura, yang sedang menengahi perundingan damai Suriah kedua, setelah gagalnya perundingan sebelumnya.

Sumber gambar, AP
"Pengumuman oleh Presiden Putin pada awal dari perundingan Intra-Suriah di Jenewa merupakan perkembangan penting, yang kami harap memiliki dampak positif dalam kemajuan perundingan," jelasnya.
Bersamaan dengan penarikan mundur pasukan, serangan udara Rusia dilaporkan dilakukan atas posisi kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS di kota Palmyra.
Stasiun TV Libanon, Al-manar, dan lembaga Pengamat Hak Asasi Suriah mengatakan pasukan Suriah, dengan dukungan serangan udara Rusia, mengarah maju ke kota yang dikuasai ISIS sejak Mei tahun lalu.





