Unjuk rasa di Kasserine, Tunisia, menyebar ke kota lain

Sumber gambar, AFP
Bentrokan dilaporkan kembali terjadi di Kasserine, Tunisia, antara aparat keamanan dan pengunjuk rasa yang menuntut pekerjaan, pada hari ketiga unjuk rasa.
Pengunjuk rasa membakar ban-ban di jalanan sementara aparat keamanan berupaya membubarkan mereka dengan menggunakan gas air mata maupun meriam air.
Aksi protes ini memicu kekhwatiran akan meluas seperti yang terjadi lima tahun lalu, <link type="page"><caption> yang bukan hanya menjatuhkan Presiden Zine al-Abidine Ben Ali,</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2011/01/110114_presidentunisia" platform="highweb"/></link> tapi juga memicu aksi serupa di beberapa negara lain yang belakangan dijuluki Musim Semi Arab.
Perdana Menteri Habib Essid sudah memperpendek kunjungannya ke kawasan Eropa dengan pulang ke Tunisia, Kamis 21 Januari dan akan menggelar rapat darurat kabinet pada hari Sabtu.

Sumber gambar, EPA
Unjuk rasa dipicu oleh tewasnya seorang pria penganguran karena kena setrum di tiang listrik dekat sebuah kantor pemerintah.
Saat itu Rdiyha Yahyaou, yang berusia 26 tahun, memprotes dicopotnya namanya dari daftar pekerja kontrak di layanan umum kota.

Sumber gambar, AFP
Sejak unjuk rasa marak di Kasserine, Selasa (19/01), para aparat keamanan menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan pengunjuk rasa yang jumlahnya kini diperkirakan sudah mencapai sekitar 1.000 orang.
Unjuk rasa juga sudah menyebar ke beberapa kota lain, termasuk ibu kota Tunis, walau dengan skala yang lebih kecil.
Tunisia dinilai berhasil dalam menempuh transisi politik sejak 'revolusi' lima tahun lalu, tapi pemerintah masih belum berhasil mengatasi masalah-masalah sosial, termasuk kemiskinan.










